24/10/2020

Jadikan yang Terdepan

Mencari Secercah Harapan di Tengah Perlambatan Ekonomi

* Forum Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Jawa Timur (FKEKR)

Mencari Secercah Harapan di Tengah Perlambatan EkonomiSurabaya, KabarGress.com – Pada hari ini, Selasa (29/9/2015), bertempat di Hotel Marriott Surabaya, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur kembali menyelenggarakan Forum Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Jawa Timur (FKEKR). Forum yang bertajuk “Resiliensi di Tengah Perlambatan Ekonomi” tersebut dihelat untuk mencermati perkembangan perekonomian Jawa Timur di tengah berbagai tantangan perekonomian global, nasional dan regional. Forum yang bertujuan untuk memperoleh masukan-masukan terkait perkembangan ekonomi Jawa Timur dan merumuskan berbagai upaya strategis untuk menjaga dan meningkatkan daya tahan perekonomian Jawa Timur ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu Dr. H. Soekarwo, Gubernur Jawa Timur; Benny Siswanto, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur; serta Prof. Dr. Ir. Hermanto Siregar, pakar agrobisnis dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Forum dihadiri oleh sekitar 41 institusi, seperti Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) dan instansi vertikal terkait, pimpinan perbankan, akademisi, konsulat jenderal Jepang dan Tiongkok, serta BUMN dan peserta lainnya.

Gubernur Jawa Timur tampil sebagai pembicara pertama menyampaikan materi yang berjudul “Strategi dan Kebijakan Mewujudkan Resiliensi Ekonomi Jawa Timur”. Soekarwo mengungkapkan perkembangan terakhir perekonomian Jawa timur dan menggaris bawahi bahwa besarnya peran perdagangan antar daerah yang mencatatkan surplus bagi Jawa Timur. Soekarwo juga menengarai pentingnya peran perbankan dalam menopang perekonomian Jawa Timur, dimana saat ini Pemerintah Provinsi Jawa Timur sedang mengembangkan pendekatan untuk mendorong peningkatan kredit untuk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Hal ini antara lain mengingat sumbangan UMKM terhadap PDRB Jawa Timur sangat besar, yakni mencapai 54,98% di tahun 2014, paparnya.

Benny Siswanto yang tampil sebagai pembicara kedua menyajikan materi dengan tema “Resiliensi di Tengah Perlambatan Ekonomi”. Dalam paparannya, Benny mengungkapkan bahwa perekonomian Jawa Timur saat ini telah berada di atas output potensialnya, sehingga perlu upaya untuk meningkatkan kapasitas ekonomi, terutama dengan mengembangkan sektor industri. Struktur ekonomi Jawa Timur juga telah mengalami shifting dengan menyusutnya pangsa sektor pertanian dari 42% pada 1976 menjadi 13% pada tahun 2014, sementara pangsa sektor industri pengolahan dan jasa-jasa yang meningkat. Namun demikian, pasca krisis, share industri pengolahan menurun dari 42% menjadi 31% pada 2014. Sisi baiknya, integrasi sektor pertanian  dan industri di Jawa Timur relatif baik jika dibandingkan dengan beberapa provinsi lain di Indonesia.

Di tengah berbagai tekanan global yang terjadi, perekonomian Jawa Timur masih mampu resilien dengan pertumbuhan di atas nasional. Investasi mampu terakselerasi dengan dukungan proyek infrastruktur, meskipun masih terdapat pekerjaan rumah untuk terus meningkatkan daya saing dan kemudahan usaha. Senada dengan Soekarwo, Benny menyitir bahwa perdagangan antar wilayah menjadi tumpuan ekonomi Jawa Timur, terutama perdagangan dengan wilayah Kawasan Timur Indonesia (KTI). Pertumbuhan KTI yang meningkat dari 6,9% menjadi 9,1% (yoy) diperkirakan semakin mengakselerasi net ekspor perdagangan antar wilayah, terutama untuk komoditas pertanian dan hasil industri. Perekonomian Jawa Timur juga didukung oleh pembiayaan perbankan yang tetap solid di tengah perlambatan. Tercatat, rasio kredit terhadap PDRB Jawa Timur pada tahun 2014 mencapai 31%, lebih tinggi dibandingkan dengan tahun 2013 yang mencapai 29%, tambah Benny.

Hermanto Siregar yang tampil sebagai pembicara terakhir menyampaikan tantangan-tantangan untuk menumbuhkan sektor agribisnis di Indonesia, antara lain masih rendahnya daya saing, semakin terbatasnya lahan pertanian, kondisi infrastruktur pertanian, perubahan iklim global, gap permintaan dan penawaran, kendala pemasaran dan sistem logistik, serta harga output yang sangat fluktuatif. Oleh karena itu dibutuhkan cetak biru pengembangan komoditas pertanian yang komprehensif.

Forum tersebut telah membuka kesadaran bersama untuk membangun optimisme di tengah perlambatan ekonomi saat ini melalui strategi pembangunan perekonomian Jawa Timur, antara lain dengan pencermatan terhadap pergeseran struktural, upaya perbaikan partisipasi pelaku ekonomi dan masyarakat, peningkatan peran UMKM, peningkatan dukungan pembiayan sektor perbankan, khususnya untuk sektor pertanian, serta perbaikan inklusifitas keuangan, terutama di berbagai kabupaten. (ro)