05/12/2020

Jadikan yang Terdepan

Bulan Kesehatan Gigi Nasional 2015 Edukasi Pentingnya Merawat Kesehatan Gigi

JpegSurabaya, KabarGress.Com – Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) 2015 menjadi kampanye dalam upaya mengedukasi masyarakat akan pentingnya merawat kesehatan gigi. Kegiatan yang telah dilakukan secara konsisten sejak 2010, kembali diadakan di Surabaya. Dan BKGN 2015 terselenggara hasil kolaborasi antara Unilever melalui brand Pepsodent dengan Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) dan asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI).

Peresmian BKGN 2015 berlangsung di Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga, Surabaya, oleh Menteri Kesehatan yang diwakili Direktur Bina Kesehatan Anak, Dirjen Bina Gizi & KIA Kementerian Kesehatan RI dr. Elizabeth Jane Soepardi.

Hadir dalam acara ini, Direktur Personal Care PT Unilever Indonesia Tbk. Annemarieke de Haan, Ketua PB PDGI drg. Farichah Hanum, MKes, Dekan FKG Unair Prof. H.R.M Coen Pramono D serta 19 dekan FKG yang terlibat dalam BKGN 2015.

Program edukasi ini dilakukan oleh Pepsodent secara terus menerus karena masih rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai kesehatan gigi dan mulut. Masyarakatpun dapat memeriksakan giginya secara gratis.

Kegiatan yang bertujuan untuk mengedukasi serta membiasakan masyarakat Indonesia merawat kesehatan gigi serta memeriksakan diri ke dokter gigi setiap enam bulan sekali ini, menargetkan bias menjangkau setidaknya 50.000 orang di 25 PDGI Cabang dan 20 Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) yang tersebar di 14 kota seluruh Indonesia.

Head of Professional Relationship Oral Care, PT Unilever Indonesia Tbk. drg. Ratu Mirah Afifah GCClinDent. MDSc, mengungkapkan BKGN selama lima tahun digelar ini, telah mengedukasi 155.451 orang yang tersebar di seluruh Indonesia. “Kami berkomitmen untuk menjangkau lebih banyak lagi masyarakat Indonesia yang mendapatkan perawatan kesehatan gigi gratis dan teredukasi tentang cara merawat kesehatan gigi dan mulut yang benar,” ujarnya.

Dan dari data yang dimiliki, menurut Ratu Mirah, 25,9 persen masyarakat Indonesia mengeluh mengalami gangguan gigi dan gusi. “Jadi bisa dibayangkan, berapa banyak masyartakat kita yang masih kurang memahami bagimana cara merawat gigi dan mulut dengan benar,” tandasnya.

Di terangkan juga oleh Mirah, dari hasil suvey pada BKGN tahun lalu yang digelar di enam kota, mengungkapkan bahwa 55 persen pengunjung BKGN pernah mengalami sakit gigi. Tetapi banyak pula yang belum pernah ke dokter gigi. “Alasan utamanya adalah anggapan biaya pemeriksaan gigi itu mahal, atau mereka merasa tidak perlu ke dokter gigi secara rutin,” tambahnya.

Meski demikian, Mirah merasa sangat senang karena BKGN mampu menarik minat masyarakat memeriksakan kondisi kesehatan giginya. Ini terbukti dari 24 persen responden adalah partisipan dari BKGN tahun sebelumnya.

Sementara itu, Ketua AFDOKGI, Prof. H.R.M Coen Pramono D, drg, SU, Sp.BM, mengemukakan berdasarkan indeks DMFT (indeks gigi berlubang) menunjukkan bahwa kerusakan gigi permanen masyarakat Jawa Timur mencapai 5,5 , yang itu berarti melebihi indeks kerusakan gigi skala nasional yang mencapai 4,6. “Komponen terbesar sebanyak 3,8 adalah jumlah gigi permanen yang dicabut atau merupakan sisa akar. Sedangkan yang sudah ditambal masih rendah sekali, hanya 0,08,” ujarnya. (ro)