02/12/2020

Jadikan yang Terdepan

Andrew dan Sitepu Bikin Inovasi Pompa Air Tenaga Hybrid

Andrew dan Sitepu Bikin Inovasi Pompa Air Tenaga HybridSurabaya, KabarGress.Com – Kekeringan melanda nusantara. Beberapa tempat punya solusinya, beberapa yang lain tidak bisa menyediakan solusi karena keterbatasan sumber daya. “Pada dasarnya, selama ada air di dalam tanah, maka pompa air dapat dipergunakan. Namun itu juga harus disesuaikan dengan kondisi kerasnya tanah, letak kedalaman air tanah dan kemampuan pipa maupun pompa serta energi penunjangnya untuk menyedot dan menyemburkan air dari dalam tanah,” ujar Andrew Joewono ST., MT., dosen Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS).

Ingin menyediakan alternatif solusi dari penelitian di bidang Teknik Elektro, bersama dengan Ir. Rasional Sitepu, M.Eng, Andrew pun membuat inovasi “Pompa Air Tenaga Hybrid”. Dengan mengintegrasikan sistem penyedia energi tenaga surya ke dalam pompa listrik, Andrew dan Sitepu menghasilkan sebuah inovasi pompa air yang sanggup menghasilkan air sebanyak 1 liter per detik.

“Kalau kita bicara pompa, umumnya ada sedotan bawah dan atas, ada yang celup, ini tipe yang masuk ke dalam tanah. Total ‘head’ dari masuknya pompa hingga keluar air adalah 30 meter. Pompa yang kami pilih harus memiliki daya yang bisa disuplai dan sesuai kebutuhan serta kemampuan masyarakat,” ungkapnya.

Pompa yang dipergunakan dalam inovasi ini adalah pompa listrik 1 fase daya 370 watt, dipilih karena umumnya masyarakat menggunakan jenis tersebut. Panel surya yang dipergunakan sanggup menghasilkan daya hingga 500 watt per hari dengan catatan mendapat radiasi dari matahari secara langsung selama minimal 4 jam penuh. Daya yang dihasilkan oleh panel surya itu kemudian disimpan di dalam dua buah aki kering yang diletakkan di bawah instalasi panel surya.

Inovasi ini juga melibatkan otomasi dalam pengalihan daya, sehingga apabila semula pompa ditunjang dengan listrik dari PLN, apabila terjadi mati listrik ataupun daya tidak cukup, mesin akan secara otomatis mengambil daya dari aki yang telah terisi tenaga surya.

“Pengoperasiannya butuh listrik, dan kita tahu saat ini listrik masih belum betul-betul merata dapat dipergunakan oleh masyarakat kita yang tinggal di pelosok. Itu sebabnya saya menggunakan sistem elektrik hybrid dengan sumber PLN dan energi matahari. Apabila sedang tidak ada listrik, maka pompa bisa langsung mengambil cadangan tenaga dari panel surya sehingga dapat tetap bekerja,” urai Andrew yang mendapatkan inspirasi untuk inovasinya ini dari pengalaman blusukan ke dusun-dusun sekitar Blora, Bojonegoro dan Madiun yang gersang.

Tujuan akhir pompa air tenaga hybrid ini adalah agar mereka (masyarakat pelosok) bisa menghasilkan air sendiri sehingga tidak sampai kekeringan bersama sama. Sekalipun satu sumber habis airnya, apabila masih ada sumber yang bekerja di suatu daerah airnya akan bisa dibagi hingga beberapa desa, cukup dengan membangun instalasi pompa ini di beberapa tempat yang kriterianya sesuai.

“Biaya yang dibutuhkan untuk membuat pompa ini adalah sekitar 16 Juta Rupiah, dan itu kami peroleh dari Dikti untuk penelitian dan pengabdian masyarakat. Kalau ditanggung secara perorangan memang itu terdengar mahal, tapi kalau itu bisa bermanfaat untuk satu dusun atau beberapa sekaligus, akan menjadi lebih ringan,” tutur Andrew pada saat memeragakan cara kerja pompa air tenaga hybrid di Gedung Gregorius Kampus Kalijudan UKWMS. (ro)