01/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Perhutani Divre Jatim dan Warga Wonosalam Sepakat Lindungi Mata Air di Hutan Carang Wulung

Toro, anggota KJPL Indonesia berada di sebelah bekas pembalakan liar pohon PinusJombang, KabarGress.com – Perhutani Divre (Divisi Regional) Jatim menepati janjinya dengan mendatangi warga Wonosalam Jombang usai didemo Aliansi Masyarakat Pelindung Hutan dan Pelestari Mata Air. Seperti diketahui, pengunjukrasa melaporkan adanya kerusakan hutan lindung di Wonosalam, sehingga berpotensi menyebabkan hilangnya beberapa mata air. Sekretaris Perhutani Divre Jatim, Yahya Amin, Rabu (09/09), bersama ADM Perhutani Jombang, Heru Dwi, turun langsung meninjau KPH (Kesatuan Pengelolaan Hutan) Carang Wulung yang terletak di Kecamatan Wonosalam Jombang.

Rombongan petinggi Perhutani terlebih dahulu menuju kediaman Wagisan, Ketua Kepuh (Kelompok Pelindung Hutan dan Pelestari Mata Air) di Dusun Mendiro, Kecamatan Wonosalam yang pada Selasa (08/09) lalu ikut berunjukrasa dan meminta Perhutani Divre Jatim supaya bersedia meninjau langsung kondisi hutan lindung di wilayahnya. Wagisan didampingi Urip Sumohardjo, Sekretatris LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan) Sumber Makmur, Amiruddin, Direktur Padepokan Wonosalam Lestari dan Kepala Dusun Mendiro. Setelah berbincang sejenak, Yahya Amin langsung mengajak Wagisan dan kawan-kawan melihat beberapa mata air yang disampaikan telah kering dan rusak tersebut.

Pembalakan liar di wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan -KHP- Carang Wulung di Kecamatan Wonosalam Jombang, Jawa TimurMedan hutan Carang Wulung yang hanya terdapat jalan setapak dan curam, membuat rombongan harus menggunakan sepeda motor untuk dapat mencapai lokasi mata air. Ada lima titik mata air yang dikunjungi, yakni Mbulu, Petung Pecut, Glintungan, Klowongan, dan Mbeji. Pantauan awak media ini, keadaan lima mata air itu secara umum memang masih menyemburkan sumber air, tetapi debitnya kecil. Aneka satwa liar diantaranya burung, ayam hutan, garangan, dan luwak kerapkali terlihat sepanjang perjalanan.

Hasil pengamatan, hutan Carang Wulung terlihat masih baik dan terjaga, meski masih dijumpai beberapa tanaman musiman seperti ketela, pisang, serta kopi yang tidak sesuai dengan fungsi ekologi hutan lindung. Praktek pencurian kayu juga masih terjadi, dengan ditemukannya bekas satu batang pohon pinus yang telah ditebang. Diduga kuat, pelaku pembalakan liar itu menggunakan gergaji mesin untuk memotong pohon pinus tersebut, karena di sekitarnya terdapat serbuk kayu.

Pohon pinus ditebang liar di WonosalamUsai meninjau beberapa titik mata air, Yahya Amin beserta jajarannya juga menyempatkan diri mendatangi ekowisata air terjun Selo Lapis di Dusun Mendiro yang dikhawatirkan malah merusak hutan dan MA (Madrasah Aliyah) Fasser yang memiliki pelajaran tentang hutan dan mata air. Ribuan pohon diantaranya kemiri, nangka, dan duren di areal air terjun Selo Lapis yang ditanam swadaya oleh masyarakat Wonosalam sejak sepuluh tahun lalu, kini mulai bisa dirasakan manfaatnya. Buah dari tanaman itu hanya bisa diambil ketika buahnya telah jatuh di tanah dan tidak boleh dipanjat atau digalah.

Selanjutnya Perhutani membuat berita acara yang disetujui Wagisan dan kawan-kawan, yaitu pemasangan tanda di lokasi titik-titik mata air, tidak boleh ada penebangan pohon dalam jarak radius 200 Meter dari titik mata air, permohonan hutan Carang Wulung sebagai laboratorium alam, dan peninjauan kembali aktivitas di Selo Lapis sebagai ekowisata.

Musyawarah antara Perhutani Divre Jatim dengan masyarakat Wonosalam, Jombang, JatimSebelum berpamitan, Yahya Amin berpesan, ke depannya harus selalu terus terjalin komunikasi dan sinergi yang baik antara pihak Perhutani Jombang, KPH Carang Wulung, masyarakat, dan stake holder (pemangku kebijakan, red) terkait seperti Muspides serta Muspika setempat. Hal tersebut menurut Yahya Amin bermanfaat menciptakan hubungan yang baik, sehingga meminimalkan terjadinya kesalahpahaman, supaya bisa sama-sama merawat dan menjaga kelestarian hutan Carang Wulung.

Sedangkan rencana kegiatan ke depan berupa penanaman bibit pohon secara swadaya di bulan Desember 2015 yang harus berfungsi sebagai ekologi, dan penyelamatan mata air di hutan Carang Wulung.

Wagisan, Ketua Kepuh mengatakan, sangat setuju diadakan penghijauan, khususnya di sekitar areal mata air, dan siap menyumbang minimal 500 bibit pohon kemiri, duren, serta nangka. (ro)

Teks foto:

– (foto 1 dan 2); Satu pohon Pinus yang diperkirakan berusia lebih 40 tahun ditemukan ditebang secara ilegal di Wilayah KPH Carang Wulung.

– (kika): ADM Perhutani Jombang, Heru Dwi, Direktur Padepokan Wonosalam Lestari, Amiruddin, Ketua Kepuh (Kelompok Pelindung Hutan dan Pelestari Mata Air) di Dusun Mendiro, Wagisan dan Sekretaris Perhutani Divre Jatim, Yahya Amin, melihat langsung pohon Pinus yang ditebang secara ilegal di hutan Carang Wulung, Wonosalam, Jombang, Rabu (9/9/2015).

– Suasana musyawarah antara Perum Perhutani Divre Jatim dengan masyarakat Dusun Mendiro, Wonosalam, Jombang.