22/10/2020

Jadikan yang Terdepan

Aktivis Lingkungan Geram, Tuntut Perhutani Serius Selamatkan Mata Air

demo-perhutani-1Surabaya, KabarGress.Com – Puluhan massa tergabung dalam Aliansi Masyarakat Pelindung Hutan dan Pelestari Mata Air Jawa Timur menggelar aksi menuntut Perhutani agar serius menyelamatkan mata air di Hutan Lindung. Aksi digelar di depan Kantor Perum Perhutani Unit 2 Jawa Timur, Jl Genteng Kali Surabaya, Selasa (8/9/2015).

Beberapa organisasi dan aktivis peduli lingkungan yang bergabung di gerakan massa ini, diantaranya Padepokan Wonosalam Lestari, Ecoton, Komunitas Peduli Sungai Ciliwung, Telapak Bogor, Telapak Jawa Timur dan Telapak Pusat, Nol Sampah, Komunitas Jurnalis Peduli Lingkungan (KJPL INDONESIA) dan Aliansi Masyarakat Sungai Indonesia (AMSI).

Dalam aksinya, para aktivis lingkungan menuding Perum Perhutani gagal mengelola hutan lindung di Jatim. Salah satu indikatornya jumlah sumber mata air yang terus berkurang, khususnya yang berada di wilayah daerah aliran sungai (DAS).

Juru Bicara Aliansi Masyarakat Pelindung Hutan dan Pelestari Mata Air Jatim, Prigi Arisandi, mengatakan berdasar data yang dihimpun, saat ini jumlah mata air di wilayah hutan lindung di beberapa wilayah, seperti Malang, Jombang, Lumajang, Tulungagung, Trenggalek, Mojokerto, dan Blitar terus menyusut.

“Jika empat tahun lalu, di kawasan hutan lindung Jatim termasuk DAS luasnya mencapai 344.742 hektar dan terdapat lebih dari 1.597 mata air. Tapi sekarang, lebih dari separuhnya sudah hilang,” tandasnya.

Sementara lahan kritis di DAS Brantas, berdasar data yang disampaikan Badan Pengelola DAS Brantas, jumlah lahan kritis mencapai 231.290 hektar. Luasan lahan kritis itu terancam terus meluas jika tidak dilakukan langkah antisipasi secepatnya.

“Kalau lahan kritis terus dibiarkan meluas sangat berbahaya, karena rentan terjadi bencana banjir dan tanah longsor,” tegas Direkur Ecoton ini.

Untuk itu, para aktivis lingkungan minta Perhutani serius melakukan upaya melindungi dan mempertahankan fungsi ekologis hutan lindung sebagai daerah resapan dan tangkapan air.

“Perhutani jangan hanya fokus pada kegiatan produksi hutan yang nyata-nyata tak bisa diandalkan sebagai penyangga dan penyimpan air,” wanti-wantinya.

Aliansi Masyarakat Pelindung Hutan dan Pelestari Mata Air Jatim menawarkan solusi, yakni Perhutani diminta segera melakukan pemetaan dan perlindungan mata air di radius 200 meter dalam hutan lindung. Lalu aktifitas alih fungsi hutan untuk perkebunan masyarakat, serta makin intensif melakukan penyuluhan dan rehabilitasi hutan lindung.

“Selain itu penertiban dan pembinaan terhadap aparat Perhutani yang kerap melakukan permainan kotor dalam penebangan pohon di hutan lindung harus dilakukan,” tukas Prigi.

Sementara itu, Sekretaris Divisi Regional Perum Perhutani Jawa Timur, Yahya Amin, berjanji menindaklanjuti aspirasi para aktivis lingkungan. “Saya besok akan kesana melihat langsung kondisi hutan seperti disampaikan kawan-kawan,” tandasnya saat menemui para aktivis. (ro)

Teks foto: Demo aktivis lingkungan di kantor Perum Perhutani Unit 2 Jawa Timur, Jl Genteng Kali Surabaya, Selasa (8/9/2015). (foto dok intiwarta.com)