02/12/2020

Jadikan yang Terdepan

Pertamina Akan Kembali Melakukan Pengeboran di Blok WMO

Direktur Utama Pertamina Dwi SutjiptoSurabaya, KabarGress.com – Sekalipun harga minyak dunia belum membaik, namun  Pertamina berniat kembali memulai kembsli pengeboran sumur eksplorasi dan eksploitasi untuk menambah cadangan dan produksi minyak, termasuk dari Blok West Madura Offshore (WMO) yang dikelola Pertamina Hulu Energi.

“Tahun 2016, Pertamina akan melakukan 2 pengeboran sumur eksplorasi dari 9 rencana sumur eksplorasi sampai tahun 2018,  Kita harus menambah cadangan minyak nasional agar produksi nasional di masa akan datang bisa ditingkatkan,” kata Direktur Utama Pertamina  Dwi Sutjipto, Minggu (6/9/2015).

Hal itu disampaikan Dwi Sutjipto saat mengunjungi FSO Aberkah yang ada di Wilayah Kerja (WK) Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore dan  Poleng Processing Platform (PPP) milik Pertamina EP yang ada di 50 mil laut lepas Bangkalan.

Hadir pada kegiatan ini, Direktur Pengembangan PHE Bambang Manumayoso, President /General Manager PHE WMO Boyke Pardede, Direktur Pengembangan Pertamina EP Herutama Trikoranto dan GM Pertamina Asset 4 Wisnu Indadari.

Dipaparkan  Pertamina menargetkan bisa berkontribusi hingga 40 % dari produksi minyak nasional pada tahun 2019. Saat ini Pertamina baru berkontribusi sekitar 23 persen dari total produksi minyak nasional sebesar 830.000 barel per hari.

“Jadi pengeboran sumur eksplorasi dan eksploitasi harus dilakukan. Saya lihat, biaya produksi PHE WMO dan Pertamina EP di Poleng masih jauh di bawah 42 dollar per barel. Karena itu, tidak ada alasan untuk  menunda pengeboran sumur produksi  ataupun kegiatan eksplorasi untuk menambah cadangan,” kata  Dwi Sutjipto.

Ia  menambahkan, harga minyak dunia hingga tahun depan masih ada pada kisaran 50 – 55 dollar per barel. Situasi ini berlanjut hingga 4 tahun ke depan.

Dalam situasi seperti ini, kegiatan eksplorasi dan eksploitasi harus bisa lebih efisien. Namun efisiensi itu tdak dimaksudkan untuk menyetop kegiatan pengeboran karena hanya akan menambah kebutuhan impor minyak dan menggerus cadangan minyak.

“Kalau biaya produksi  di PHE WMO masih di bawah 25 dollar per barel, artinya masih ekonomis. Keuntungannya, bisa mengurangi kebutuhan impor minyak. Jadi kita harus bisa menjelaskan mengapa harus tetap ada pengeboran. ” katanya.

Dukungan untuk melakukan pengeboran sumur baru di Blok WMO, lanjut Dwi Sutjipto, lebih punya dasar lagi karena seluruh produksi minyak PHE WMO dipergunakan untuk memasok kilang di dalam negeri, baik itu yang ada di Cilacap ataupun Balongan.

“Tidak ada alasan untuk tidak melakukan pengeboran sumur baru di PHE WMO,” tegasnya.

Contoh Sukses

Sebelum itu, Boyke Pardede mengungkapkan , PHE WMO membutuhkan dukungan untuk mengerjakan proyek prioritas yakni POD Terintegrasi yang tertunda pengerjaannya pada tahun 2015.

“Proyek ini penting untuk kembali meningkatkan produksi di Blok WMO. Tahap awal ini akan ada penambahan tiga anjungan. April 2016 satu anjungan diharap selesai dan mulai berprofuksi.” Kata Boyke.

Boyke menambahkan, setelah agresif pada tahun 2014, PHE WMO menunda kegiatan pengeboran, termasuk pengembangan proyek integrasinya.

“Pengeboran terakhir Februari 2015 lalu. Meski begitu, hingga semester I 2015, PHE WMO masih mampu melampui target produksi yang ditetapkan SKK Migas yakni sebesar 15.490 barel minyak per hari dan gas bumi sebesar 110 MMScfd ,” katanya.

Boyke Pardede mengungkapkan, capaian ini cukup sulit mengingat kondisi harga minyak dunia sejak tahun lalu mengalami penurunan harga signifikan, sehingga terjadi beberapa penyesuaian terhadap aktivitas perusahaan.

Namun, lanjutnya, PHE WMO tetap melakukan aktivitas pengeboran dan pekerjaan sumur di tahun 2015 ini untuk menjaga tingkat produksi di tahun ini. Di tahun 2015, SKK Migas menetapkan target produksi minyak dan gas bumi PHE WMO sebesar 14.373 barel minyak per hari dan 110,83 juta kaki kubik gas.

Menanggapi hal itu, Dwi Sutjipto mengatakan, PHE WMO merupakan salah satu contoh sukses Pertamina dalam mengambil alih penggelolaan blok minyak di lepas pantai (offshore).

Dikisahkan, saat diambil alih Pertamina 7 Mei 2011, produksi Blok WMO yang saat itu dikelola Kodeco energy tinggal 11.000 barel. Sekalipun proses serah terimanya hanya 1 hari sebelum batas waktu, PHE WMO mampu kembali meningkatkan hingga 24.000 barel per hari.

Dwi menambahkan, keberhasilan PHE WMO mengelola blok lepas pantai ini yang membuat Pertamina yakin bisa mengelola Blok Mahakam dengan baik, bahkan lebih baik.

“Kita memang berharap proses pengambilalihan Blok Mahakam berjalan mulus. Kita siap mengelelola Blok Mahakam. Bahkan sekalipun Total EP tidak mau masuk, Pertamina  siap mengambil alih karena kita punya pengalaman di PHE WMO ataupu  PHE ONWJ,” tegas Dwi Sutjipto. (ro)