01/12/2020

Jadikan yang Terdepan

Gubernur: Industri sebagai Basis Pembangunan Kesejahteraan

Gubernur Jawa Timur Pakde Karwo berdialog dengan salah satu penjaga Stand dari Balai Pengembangan Industri Persepatuan IndonesiaSurabaya, KabarGress.com – Gubernur Jawa Timur Dr. H. Soekarwo mengatakan industri harus bisa menjadi basis pembangunan kesejahteraan rakyat. Hal itu dapat dilihat dari tingkat ekonomi Jatim pada semester I tahun 2015 ditopang oleh tiga sektor utama sebesar 61,56% yaitu disektor industri pengolahan sebesar 29,45%, sektor perdagangan besar dan eceran , reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 17,44% dan sektor petanian, kehutanan dan perikanan sebesar 14,67%. “Hal tersebut menunjukan bahwa masyarakat Jatim mempunyai mainset di bidang industri,” kata Pakde Karwo sapaan akrab gubernur Jatim Pada Pembukaan Pameran Produk Indonesia 2015 di Grand City Surabaya, Kamis (6/8).

Lanjutnya, pertumbuhan ekonomi semester I tahun 2015 tumbuh sebesar 5,22% dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya sebesar  4,7%. Dengan nilai PDRB sebesar Rp. 821,23 triliun, Jawa Timur memberikan kontribusi sebesar 14,67% terhadap pembentukan PDB nasional atau urutan ke 2 setelah DKI Jakarta.

Ekspor impor non-migas Jatim pada semester I  didominasi oleh 10 kelompok barang yaitu perhiasan/permata, lemak dan minyak hewan/nabati, kayu dan barang dari kayu, ikan dan udang, kertas/karton, bahan kimia organik, alas kaki dan ikan olahan, tembaga dan perakitan rumah dengan total nilai sebsar 6.126,17 dollar AS atau 67,33% dari total nilai ekspor non-migas.

Tujuan ekspor tersebut yakni Jepang, Amerika Serikat, Tiongkok, Taiwan, India, Korea Selatan dan Autralia dengan nilai total sebesar 4.484,29 juta dollar AS atau sebesar 49,26% dari total nilai ekspor non migas. Ekspor non migas tujuan negara ASEAN sebesar 1.556,64 juta dollar AS atau 17,1 % dari total ekspor non-migas dan ekspor non migas tujuan Uni Eropa sebesar 893,76 juta dollar AS atau 9,82% dari total ekspor non migas.

Menurutya, berdasarkan kontribusi  terhadap struktur industri pengolahan di Jawa Timur tahun 2014 didominasi oleh 4 sub sektor industri yaitu sebesar 68,50% yang terdiri industri makanan dan minuman (26,8%), pengolahan tembakau (26,3%) kimia, farmasi dan obat tradisional (9,1%) dan kayu dan barang dari kayu (6,3%). Hal ini menunjukan bahwa pertumbuhan industri di Jatim sudah line in dengan rencana pembangunan jangka panjang yaitu industri berbasis agro yang terintegrasi antar sektor hulu dan hilirnya.

“Berdasarkan komoditi unggulan yang potensial ekspor ke luar negeri maka diteteapkan industri prioritas di Jatim yaitu industri makan minuman, pengolahan tembakau, kimia farmasi dan obat tradisional, logam dasar, karet dan barang yang terbuat dari karet dan plastik, kulit dan barang dari kulit, serta tekstil dan pakaian jadi,” ujarnya.

Untuk mendukung program prioritas industri tersebut, kata Pakde Karwo, perlu dilakukan peningkatan pembinaan secara paripurna melalui berbagai prgram strategis. Program tersebut yakni, bimbingan tekhnis peningkatan keterampilan SDM baik aspek tekhnis dan amnajemen produksi, pelatihan peningkatan pengetahuan tekhnolgi produksi yang antara lain bahan baku, tekhnologi proses dan finishing produk, pemberian stimulus berupa hibah mesin dan peralatan produksi sekaligus pendampingan operasionalnya.

Program strategis lainya yakni memberikan fasilitas penerapan ISO dan SNI sertifikasi HKI, sertifikasi pengujian mutu produk, sertifikasi halal barcode dan batik mark. Juga memberikan  fasilitas desain produk dan kemasan serta fasilitasi promosi produk melalui kegiatan gelar produk industri, temu bisnis dan pameran batik dalam negeri maupun luar negeri.

“Saya mengapresiasi Pameran Produk Indonesia 2015 ini sebagai media promosi yang menggambarkan potret kemampuan industri dalam negeri dan sebagai bentuk apresiasi kepada dunia usaha industri yang telah mengembangkan inovasi dan kreatifitas dalam menghasilkan produk-produk yang bernilai tambah dan berdaya saing,”  katanya. (hery)

Teks foto: Gubernur Jawa Timur Pakde Karwo berdialog dengan salah satu penjaga Stand dari Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia.