01/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Tahlil Akbar Awali Muktamar ke 33 NU

Pakde Karwo dan Gus Ipul Beri Sambutan Sembari Saling Berdialog Pd Tahlil Akbar Haul Bung Karno dan KH Hasjim Asy ari di Blitar,Blitar, KabarGress.com – Tahlil Akbar dan Haul Bung Karno dan KH Hasjim Asy’ari yang diadakan di Kompleks Makam Bung Karno di Blitar, Rabu (29/7) malam, merupakan kegiatan perdana dari serangkaian kegiatan Muktamar ke 33 NU yang akan diadakan di Jombang (1 s.d 5 Agustus 2015). Pada kesempatan itu Gubernur Jawa Timur Dr. H. Soekarwo mengatakan bahwa Presiden Soekarno atau Bung Karno dan KH. Hasjim Asy’ari merupakan perpaduan antara agama dan semangat nasionalisme. Mereka berdua mempunyai peran besar dalam peristiwa 10 Nopember 2015.

“Masyarakat, utamanya generasi saat ini, hanya tahu bahwa 10 Nopember 2015 diperingati sebagai Hari Pahlawan. Tetapi mereka tidak mengetahui resolusi jihad yang dicetuskan oleh kedua pahlawan tersebut dalam peristiwa 10 Nopember 1945,” ungkapnya saat Tahlil Akbar dan Haul Bung Karno dan KH. Hasjim Asy’ari,.

KH. Hasjim Asy’ari sebagai pemimpin Nahdatul Ulama (NU) saat itu memiliki jasa besar dalam menentukan jalan tengah Negara Pancasila diantara pilihan negara agama atau sekuler. Konsep ke Islaman yang diusung beliau itulah yang mengembangkan kehidupan toleransi dan perbedaan di Indonesia. Konsep tersebut menjadi jalan tengah diantara banyaknya konflik di negara dengan penduduk mayoritas Islam.

Sedangkan Bung Karno telah membawa Negara Indonesia bebas dari penjajahan dengan menghadirkan Pancasila dan dijadikan dasar Negara Indonesia. Tanpa Pancasila, Indonesia akan menjadi negara yang cerai-berai dan tidak mempunyai akhlak. “Sudah menjadi kewajiban generasi penerus untuk menjadikan resolusi jihad Bung Karno dan KH Hasjim Asy’ari sebagai inspirasi dan motivasi,” jelasnya lebih lanjut.

Gubernur Jateng, Gubernur Jatim dan Wakil Gubernur Jatim Berdoa Bersama Pada Tahlil Akbar Haul Bung Karno dan KH Hasjim Asy ariWakil Gubernur Drs. Saifullah Yusuf yang lebih akrab dipanggil Gus Ipul mengatakan, dipilihnya tahlil akbar dan haul Bung Karno dan KH Hasjim Asy’ari sebagai acara perdana Muktamar ke 33 NU, sebagai upaya agar kita semua belajar merenung kembali resolusi jihad yang telah dilakukan para pejuang bangsa. “Betapa banyak dibalik sejarah-sejarah bangsa yang belum diungkap pada masyarakat. Misalnya bagaimana resolusi jihad yang dilakukan sebelum terjadinya peristiwa 10 Nopember 1945,” ungkapnya.

Pada kesempatan itu Gus Ipul juga menyinggung masalah lahirnya Pancasila yang belum diketahui hari kelahirannya, walaupun telah ditetapkan pada tanggal 1 Juni. “Untuk melihat secara konkrit Pancasila ditengah-tengah masyarakat, dapat kita lihat pada kegiatan tahlil,” ungkapnya.

Dijelaskan, setiap mengadakan tahlil, majelis selalu mengumandangkan ayat-ayat yang terkandung Surat Al-Ikhlas yang mempunyai arti mengagungkan keberadaan Allah SWT. Mempunyai makna Sila I yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.

Dalam kegiatan tersebut siapapun boleh mengikutinya tanpa memandang agama, bangsa, kelas ekonomi, tua-muda, semua boleh mengikutinya (Kemanusiaan yang adil dan beradab).

Kemudian, selama tahlil berlangsung, semua yang mengikutinya duduk di tempat yang sama dalam posisi bersila (Persatuan Indonesia). Siapa yang memimpin acara akan ditentukan pada saat acara berlangsung (Kerakyatan yang dipimpin oleh khikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan), dan pada kegiatan tersebut pemimpin tahu bila semua yang hadir tidak suka berlama-lama mengikuti kegiatan, pemimpin mengetahui keinginan umatnya, kemudian semua mendapatkan makanan yang sama (Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia).

Ketua PW NU Jawa Timur KH. Mutawakil Alallah, mengatakan bahwa saat ini masyarakat kurang menghargai resolusi jihad yang telah dilakukan para pejuang bangsa. “Janganlah menyebut keburukan orang-orang yang telah mendahului kita. Sebutlah kebaikan-kebaikannya, apalagi untuk para pejuang yang telah berjasa bagi bangsa dan negara,” jelasnya.

Dikatakan pula bahwa sejak dahulu NU sejak dahulu selalu bergandengan tangan dengan para nasionalis. Seperti Bung Karno dan KH. Hasjim Asy’ari. “Jaga hubungan harmonis diantara kita, mari kita bergandengan tangan sebagaimana yang telah dilakukan para pejuang saat membentuk Negara Indonesia, cintailah tanah air,” ajaknya.

Haul akbar Bung Karno dan KH Hasjim Asy’ari dihadiri sekitar 15 ribu orang. Diantaranya adalah Gubernur Jateng (Ganjar Pranowo). (hery)

Teks foto:
– Pakde Karwo dan Gus Ipul memberi sambutan sembari berdialog pada rangkaian acara Tahlil Akbar Haul Bung Karno dan KH Hasjim Asy’ari di Blitar.
– Gubernur Jateng, Gubernur Jatim dan Wakil Gubernur Jatim berdoa bersama pada Tahlil Akbar Haul Bung Karno dan KH Hasjim Asy’ari.