26/11/2020

Jadikan yang Terdepan

Koalisi Enam Parpol Bakal Sia-sia

Surabaya, KabarGress.Com – Bakal calon walikota Surabaya Antony Bachtiar mengatakan rencana koalisi besar yang digagas oleh beberapa partai politik (parpol) akan sia-sia. Pasalnya, untuk menghadang pasangan Tri Rismaharini dan Whisnu Sakti Buana (WS) tidak perlu dengan koalisi besar.

Ketua DPC Persatuan Tionghoa Indonesia Raya (Petir) Surabaya ini, khawatir rencana koalisi hanya menguatkan pasangan incumbent. Ketika berusaha dilemahkan, Tri Rismaharini sebagai perempuan justru mendapatkan simpati dari jutaan perempuan di Surabaya. Maka, upaya koalisi besar berapa berakibat blunder.

“Saya tidak yakin koalisi besar bisa kalahkan Risma kalau kompisisi dan strateginya tidak pas, saya takutnya ini malah jadi blunder,” katanya, Jumat (26/6/2015).

Antony mengungkapkan, pasangan incumbent sebenarnya tidak layak maju lagi. Penyebabnya adalah, serapan APBD yang rendah. Tahun lalu, serapan APBD Kota Surabaya hanya 52%, tahun ini juga diperkirakan sama. Bahkan, melihat dari strategi pembangunan yang diterapkan Risma bukan tidak mungkin serapan APBD tahun ini lebih rendah.

“Walikota sebagai pengemban amanah rakyat wajib untuk melaksanakan serapan APBD minimal 80% dalam setiap tahunnya, kalau tidak mampu laksanakan ini sebaiknya incumbent tidak perlu maju lagi sebagai walikota,” pinta Antony yang mendaftar calon walikota melalui Gerindra, Hanura, dan Demokrat ini.

Terkait wacana pilwali aklamasi yang dihembuskan PDI Perjuangan, Antony menganggap isu tersebut tak lebih dari ketakutan partai berlambang kepala banteng moncong putih. PDI Perjuangan dinilai gentar melawan calon-calon yang akan diusung oleh parpol lainnya. “PDI Perjuangan tidak siiap bersaing,” tandasnya.

Calon walikota lainnya, Basa Alim Tualeka angkat bicara terkait dengan wacana pilwali aklamasi yang diwacanakan oleh PDI Perjuangan. Ajakan Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya Whisnu Sakti tersebut ibarat orang yang selesai bermimpi. Karena  tidak mempedulikan terhadap perkembangan sistem demokrasi yang berlaku saat ini.

“Kalau menurut saya ajakan atau wacana itu sah-sah saja, namun tidak tepat serta tidak sesuai dengan mekanisme yang berlaku saat ini,” ujar Alim.

Menurut Alim yang sudah mendaftar sebagai lewat Partai Gerindra, PKB, dan Demokrat ini, Pilwali sata ini menganut aturan pemilihan langsung. Berarti calon harus lebih dai satu. Kalaupun hanya satu, maka pemilihan pasti deadlock alias tidak bisa digelar sampai harus ada pasangan calon  lebih dari satu.

“Jadi kalau PDIP menginginkan aklamasi, berarti harus berjuang di senayan untuk mengembalikan sistem demokrasi pemilihan secara tidak langsung. Dalam pemilihan secara tidak langsung pun harus ada pasangan calon juga lebih dari satu dan harus memenuhi persyaratan dan kriteria, baru diadakan pemilihan,” jelasnya.

Alim menegaskan,  wacana PDI Perjuangan Surabaya itu hanyalah akal-akalan politik saja. Karena menganggap hanya mereka yang mampu membawa pasangan, sedangkan parpol lainnya tidak bisa karena tidak punya calon atau tidak bisa mengusung calon.

“Ajakan PDI Perjuangan itu akal-akalan dengan mengajak parpol lain untuk aklamasi,” tandasnya. (tur)