22/10/2020

Jadikan yang Terdepan

Mengapa Talenta Mendorong Pertumbuhan Asia Pasifik: Penelitian dari SAP dan Oxford Economics Menghubungkan Investasi Tenaga Kerja dan Kinerja Perusahaan

Surabaya, KabarGress.com – Penekanan yang lebih besar pada perkembangan tenaga kerja berkorelasi dengan hasil keuangan yang lebih baik, menurut penemuan dari Workforce 2020, penelitian global dari SAP SE (NYSE: SAP) dan Oxford Economics. Penelitian ini mengamati tinggi dan rendahnya kinerja perusahaan di seluruh dunia, termasuk Australia, India, Jepang, dan Malaysia di Asia Pasifik, memeriksa korelasi antara prioritas tenaga kerja dan keuangan yang sukses. Hasil dari penelitian tersebut menemukan bahwa terdapat beberapa karakteristik utama dari perusahaan-perusahaan dengan kinerja yang tinggi terkait dengan penggunaan talenta mereka untuk mendorong pertumbuhan bottom-line.

Perusahaan-perusahaan Asia Pasifik Berkinerja Tinggi Merekrut dan Mempertahankan Talenta Terbaik

Perusahaan yang memiliki pertumbuhan yang lebih tinggi merupakan perusahaan yang dapat menarik kualitas talenta yang lebih baik. 64 persen perusahaan dengan kinerja tinggi merasa puas dengan kualitas kandidat kerja mereka, jika dibandingkan dengan 56 persen perusahaan dengan marjin profit dibawah rata-rata. Selain itu, sepertiga perusahaan dengan kinerja rendah di Asia Pasifik mengatakan bahwa kesulitan dalam merekrut pekerja dengan kemampuan level dasar berdampak pada strategi tenaga kerja mereka.

“Perusahaan-perusahaan di Asia Pasifik tidak diragukan mendorong pertumbuhan, dan tren Workforce 2020 merupakan pengingat bahwa pertumbuhan terikat pada perkembangan tenaga kerja yang kuat,” kata Jairo Fernandez, Senior Vice President, Human Resources, SAP Asia Pasifik Jepang (APJ). “Kunci untuk mengelola sumber daya manusia dengan baik adalah dengan menemukan, mendukung, dan mendorong talenta yang tepat. Teknologi dapat membantu Human Resources manager mengamati dan mengidentifikasi ruang dari kesempatan untuk memperkuat aset perusahaan yang paling berharga yang pada akhirnya membawa perusahaan pada kinerja bisnis yang lebih baik. Di SAP, kami melihat pertumbuhan kami yang kuat datang dari orang-orang yang luar biasa dan hebat dalam membantu pelanggan berjalan lebih baik dan sederhana.”

Perusahaan-perusahaan Asia Pasifik Berkinerja Tinggi Berencana Untuk Mengelompokkan Tenaga Kerja

Pemain-pemain hebat di Asia Pasifik secara signifikan lebih mungkin untuk mengatakan bahwa kelompok tenaga kerja yang meningkat dan para pekerja konsultan berdampak pada strategi tenaga kerja, sementara itu pemain-pemain yang kurang baik cenderung mengatakan bahwa demografi yang berubah-ubah berdampak pada strategi mereka. Hampir separuh dari perusahaan-perusahaan yang memiliki pendapatan tertinggi di kawasan tersebut semakin banyak menggunakan tenaga kerja yang berkelompok, bila dibandingkan dengan sepertiga pemain yang memiliki kinerja rendah.

Perusahaan-perusahaan Asia Pasifik Berkinerja Tinggi Memprioritaskan Isu Tenaga Kerja pada Level-C

Perusahaan dengan kinerja yang baik memprioritaskan isu tenaga kerja pada tingkatan yang lebih tinggi dibandingkan organisasi-organisasi yang berkinerja lebih rendah. 77 persen eksekutif pada perusahaan-perusahaan dengan pertumbuhan pendapatan yang tinggi di Asia Pasifik mengatakan bahwa isu tenaga kerja telah mendorong strategi Direksi, dibandingkan 64 persen diantara pemain berkinerja lebih rendah. Namun, lebih dari sepertiga eksekutif pada perusahaan-perusahaan berkinerja tinggi di kawasan mengatakan bahwa HR tidak akan memiliki suara dalam pembuatan keputusan selama 3 tahun.

Perusahaan-perusahaan Asia Pasifik Berkinerja Tinggi Harus Berinvestasi Lebih Pada Pelatihan dan Mentoring

Mengejutkan, 40 persen pemain berkinerja rendah mengatakan bahwa mereka memiliki dana yang cukup dan sumber daya yang didedikasikan untuk mengembangkan talenta, dibandingkan dengan 23 persen pemain berkinerja tinggi. Lebih banyak lagi perusahaan dengan profit margin yang rendah yang juga menawarkan pelatihan tambahan (73% vs 56%), mentoring formal (69% vs 61%), dan insentif untuk mengenyam pendidikan lebih lanjut (40% vs 22%).

Dalam hal kelangsungan keterampilan, 35 persen pemain berkinerja rendah mengatakan bahwa ketika seseorang dengan keterampilan utama megundurkan diri, perusahaan cenderung mengisi peran yang kosong dengan orang-orang yang ada dalam organisasi tersebut, berlawanan dengan pemain berkinerja tinggi yang hanya 23 persen melakukan hal tersebut, yang lebih banyak merekrut dari luar.

Perusahaan-perusahaan Asia Pasifik Berkinerja Tinggi Lebih Siap dengan Kemampuan Teknologi

Para eksekutif pada perusahaan-perusahaan dengan pertumbuhan pendapatan yang tinggi di Asia Pasifik mengatakan bahwa kemampuan teknologi tersebut terwakili dengan baik di organisasi mereka, mengalahkan perusahaan berkinerja rendah: analisis (62% vs 55%); perangkat lunak produktivitas kantor (58% vs 49%); dan media digital (36% vs 27%). (ro)