22/10/2020

Jadikan yang Terdepan

Pakde Karwo Usulkan Pengembangan Akuntasi ke Aspek Pelestarian

gub jatim sambutan diacara gala dinner di gedung negara  grahadiSurabaya, KabarGress.com – Gubernur Jawa Timur, Pakde Karwo mengusulkan agar pembangunan akuntansi secara empiris ke arah pembangunan berkelanjutan. Hal itu mempunyai arti, pemahaman ilmu akuntasi tidak hanya menangani tentang pembukuan saja, tetapi lebih keaspek sosial, perilaku, dan aspek pelestarian. Usulan itu disampaikan pada Malam Gala Dinner Airlangga Accounting International Conference (AAIC) 2015, di Gedung Negara Grahadi, Rabu (3/6) malam.

Ia mengatakan, perubahan yang terjadi harus merujuk pada aspek pelestarian, dan terstruktur dengan baik. Rencana pembangunan harus merujuk empat strategi utama. Pertama, pengembangan yang pro kemiskinan (pro poor), pro pertumbuhan (pro growth), pro penciptaan lapangan pekerjaan (pro job), dan pro lingkungan (pro environment).

“Bahwa beberapa program yang pro lingkungan telah diterapkan di Jatim. Pemanfaatan energi baru dan terbarukan, mengurangi emisi gas rumah kaca, provinsi hijau, dan menghitung keseimbangan sumber daya alam (NSDA), penghijauan di jalan provinsi. Selain itu, pemberian nomor rehabilitasi program lahan di seluruh wilayah administrasi Jatim, termasuk dari hutan kota di berbagai kota di Jatim,” ungkapnya sambil memberikan beberapa contoh.

Oleh karena itu akuntansi keseimbangan sumber daya alam (NSDA) harus dilakukan dengan detail dan sinergi antarapemerintah dan swasta, juga lintas sektor. Ia mencontohkan, Pemprov. Jatim telah memiliki desain berkelanjutan untuk masuk ke dalam generasi mendatang. Pemerintah juga menekankan kepada perusahaan di Jatim harus mengikuti peraturan yang berhubungan dengan lingkungan. “Kami juga mulai menggeser paradigma pembangunan ekonomi di Jatim tidak hanya tumbuh tetapi juga berkelanjutan dan perubahan,” paparnya.

Tidak hanya paradigma, tetapi juga langkah nyata dalam perencanaan dan pelaksanaan dengan strategi dan menghasilkan output yang diwakili akuntansi lingkungan dan bahkan di kohesi pertumbuhan yang menghitung aspek sosial seperti kemiskinan, kesenjangan, dan pengangguran.

Ia menyampaikan, pertumbuhan ekonomi Jatim tahun 2009 – 2014 melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Tahun 2012 pertumbuhan ekonomi Jatim 7,27 persen, nasional 6,23 persen. Tahun 2013 Jatim 6,55 persen, nasional 5,58 persen dan tahun 2014 Jatim 5,86 persen, nasional 5,02 persen. Pertumbuhan tersebut diikuti dengan kinerja kualitas lingkungan dengan ditandai kualitas air sungai menunjukkan COD pada 2010, 17,94 mg/l, turun sampai 12,45 mg/l pada tahun 2014.

Tidak hanya fokus pada akuntansi lingkungan, pertumbuhan ekonomi Jatim juga pindah ke inklusi, yang diikuti oleh indikator kinerja sosial dengan pertumbuhan dengan ditanndai menurunnya orang pengangguran dari 5,08 persen di tahun 2009 menjadi 4,19 persen, pada tahun 2014. kemiskinan juga menurun dari 16,68 persen pada 2009 menjadi 12,28 persen pada tahun 2014.

Tidak hanya itu, perbedaan menurut distribusi pendapatan dari versi bank dunia pada tahun 2009 – 2014, untuk 40 persen kelompok bawah 19,86 persen sampai 19,82 persen, yang berarti perbedaan bahwa pendapatan yang tidak seimbang adalah rendah. Sementara itu, menurut pengeluaran perbedaan dalam posisi menengah 2009 – 2014 di kisaran 0,34 – 0,40 persen. Posisi dalam pertumbuhan evaluasi oleh Badan Pusat Statisktik di Jakarta pertumbuhan ekonomi Jatim berada di kepuasan.

Airlangga Accounting International Conference (AAIC) 2015 yang mengusung tema Megatrend And Research Opportunities In Accounting, digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga berlangsung mulai 3 – 5 Juni 2015 diikuti oleh Indonesia sebagai tuan rumah, Malaysia, Brunei Darusalam, Bangladesh, Libia, Lebanon, New Zealand, dan Australia. (hery)

Teks foto: Pakde Karwo memberikan sambutan pada Malam Gala Dinner Airlangga Accounting International Conference (AAIC) 2015, di Gedung Negara Grahadi, Rabu (3/6) malam.