22/10/2020

Jadikan yang Terdepan

Trem Gagal Dikerjakan Tahun Ini

Surabaya, KabarGress.Com – Proyek trem yang digadang-gadang bisa dikerjakan tahun ini gagal total. Pasalnya, Kementrian Perhubungan (Kemenhub) saat ini baru melakukan feasibility study atau studi kelayakan. Sehingga, proyek angkutan massal yang diperkirakan menelan anggaran Rp2,2 triliun itu baru bisa dikerjakan tahun depan.

Menteri Perhubungan Ignasius Johan seusai mengisi acara Airlangga Accounting International Conference (AAIC) kemarin mengatakan, saat ini pihaknya masih menuntaskan studi kelayakan terlebih dulu. Baru kemudian Kemenhub agar menggelar lelang proyek prestisius tersebut. “ Saya kira untuk pekerjaan lelang, sangat kecil untuk dilakukan tahun ini, mungkin tahun depan,” katanya.

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, Kemenhub) dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai operator trem dalam proyek angkutan massal ini telah melakukan penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU). Dalam MoU tersebut, Kemenhub dan Pemkot Surabaya sebagai pemegang dan penanggung jawab proyek.

Sedangkan PT KAI sebagai operator trem. Rencananya proyek jalur trem Surabaya akan membentang sepanjang 17 Km yang menguhubungkan wilayah Surabaya Selatan dan Utara yakni dimulai dari Wonokromo, Pandegiling, Embong Malang, Kedungdoro, Pasar Blauran, Pasar Turi, Indrapura, Rajawali, Jembatan Merah, hingga Tugu Pahlawan. Jalur trem tersebut bakal memiliki 29 titik pemberhentian.

Sementara itu, pengamat ekonomi dari Universitas Brawijaya (UB) Malang, Imron Rozuli mengatakan, infrastruktur jalan akan membawa dampak secara langsung pada pertumbuhan ekonomi dan sekaligus investasi. Angkutan massal yang berupa trem ini akan mempercepat mobilitas masyarakat dan juga barang.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia, khususnya Surabaya banyak didorong oleh sektor konsumsi. Nah, dengan adanya percepatan mobilitas orang dan barang ini juga akan meningkatkan konsumsi. Transaksi juga akan naik juga,” katanya.

Imron menambahkan, proyek yang didanai oleh pemerintah pusat ini juga akan mengakibatkan pemerataan ekonomi. Artinya, sentra pertumbuhan ekonomi yang selama ini hanya terkonsentrasi di pusat kota, nantinya akan menyebar ke pinggiran kota.

“Di seluruh kota-kota besar di dunia, di New Castle (Inggris) misalnya, semuanya mengandalkan tranportasi massal seperti kereta api. Selain mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, juga bisa membuat jalan menjadi lebih tahan lama. Ini karena pengguna kendaraan pribadi semakin jarang,” jelasnya. (tur)