Jamu untuk Peningkatan Kualitas Kesehatan

Jamu untuk Peningkatan Kualitas KesehatanSurabaya, KabarGress.com – Himbauan dan seruan World Health Organization (WHO) untuk ‘back to nature’ ditanggapi dengan baik oleh masyarakat yang terlihat dari pemanfaatan obat herbal yang terus meningkat, mengingat manfaat yang dimiliki obat herbal itu sendiri. Obat herbal jika digunakan dengan takaran yang tepat akan memberikan efek samping yang rendah dan efek terapi yang cukup baik dibandingkan dengan obat modern. Bahkan kandungan senyawa lain dalam ekstrak atau jamu seringkali memberikan kombinasi efek terapi yang lebih optimal.

Namun, pemanfaatan obat herbal oleh tenaga kesehatan seperti dokter masih menjadi kontroversi. Beberapa hal yang dipermasalahkan diantaranya efikasi, efek samping, toksisitas, biovailabilitas dan bioekivalensi, dosis yang besar, efek antagonis dengan obat modern dan regulasi praktik pemberian obat herbal. Bukan tanpa usaha, pemerintah melalui menteri kesehatan dan dinas terkait telah melakukan berbagai upaya untuk mengangkat derajat jamu atau obat herbal alami Indonesia.

“Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) dan PT. HRL Internasional yang juga memiliki perhatian terhadap hal ini berinisiatif turut mengambil peran mensosialisasikan potensi pemanfaatan obat herbal alami Indonesia atau jamu di kalangan masyarakat,” tutur Dr. Lanny Hartanti, M.Si. selaku Ketua Pusat Pengembangan Obat Tradisional (PPOT) UKWMS.

Bertempat di Auditorium Benedictus, UKWMS bekerjasama dengan PT. HRL Internasional mengadakan seminar satu hari dan mengambil topik ‘Standarisasi dan Regulasi dalam Pemanfaatan Jamu bagi Kesehatan Masyarakat’ untuk memberikan gambaran umum praktek penggunaan obat herbal di luar dan dalam negeri, praktek standarisasi untuk menentukan keamanan obat herbal dan regulasi pemanfaatan obat atau jamu dalam layanan kesehatan masyarakat. Menghadirkan tiga narasumber yakni Prof. Dr. Amarullah H. Siregar (Bio-RX – Integrative Natural Medical Care), Edy Djauhari (Biofarmaka IPB) dan Umuh Jariyah, S.Si., Apt perwakilan Dinas Kesehatan Kota Surabaya seminar tersebut dihadiri 300 undangan.

Dihadiri para pelayan kesehatan baik dokter maupun farmasis, para narasumber berusaha menyampaikan bahwa penggunaan jamu sudah harus diaplikasikan sebagai alternatif obat selain obat modern. “WHO saja sudah menyatakan gerakan ‘kembali ke alam’ dan jamu sebagai obat alami khas Indonesia, lalu kenapa kita masih tidak mau konsumsi jamu? Penggunaan jamu atau herbal memang tidak bisa memberi efek secara instan seperti obat modern, namun dengan konsumsi yang tepat dan rutin hasilnya juga bisa maksimal,” papar Amarullah.

Edy yang hadir sebagai pembicara kedua pun menyatakan, ”presiden kita saja secara rutin mengkonsumsi temulawak selama bertahun-tahun namun tetap sehat dan tidak ada efek samping apapun. Jadi kenapa kita sendiri masih tidak mau mengkonsumsi?”, paparnya.

PT. HRL Internasional juga memamerkan beberapa produk olahan tanpa bahan pengawet seperti puree markisa, abon ikan, produk olah herbal seperti Teh Celup ADB yang bisa membantu penderita diabetes mengontrol kadar gulanya, Teh Celup Moringae yang memiliki kadar multivitamin yang tinggi dan rasa yang enak, serta produk inovasi PT. HRL Internasional dalam bidang rekayasa peralatan. (ro)

Teks foto: Usai seminar, para pembicara bersama perwakilan UKWMS dan PT. HRL Internasional berfoto bersama.

Leave a Reply


*