02/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Sukoto Pesaing Berat Risma

PusPolitikaSurabaya, KabarGress.Com – Elektabilitas dan popularitas Sukoto sebagai calon walikota Surabaya perlahan namun pasti merambat naik. Bahkan, Sukoto menempel ketat elektabilitas Walikota Surabaya saat ini Tri Rismaharini. Diketahui, elektabilitas Sukoto sekitar 22 persen, sedangkan Tri Rismaharini 43 persen.

Berdasarkan hasil survey Pusat Penelitian Politik dan Agama (PusPolitika), elektabilitas Tri Rismaharini dan Sukoto menduduki tempat pertama dan kedua. Sedangkan Whisnu Sakti Buana ditempat ketiga dengan perolehan 10.50 persen, Dhimam Abror 7 persen, dan Arzeti Bilbina 5 persen.

Ketua PusPolitika Surabaya Muhammad Jacky menyatakan, survey tersebut dilakukan pada 18-25 Mei 2015 dengan teknik multistage random sampling. Responden penelitian dalam usia produktif dengan kisaran berumur 18-50 tahun. Rinciannya, 25 persen berusia 18-30 tahun, 40 persen berada dikisaran usia 30-40 tahun, yang berumur 40-50 sekitar 25 persen, dan responden berusia 50 lebih sekitar 10 persen.

“Jadi repondennya sebanyak 100 orang, 70 laki-laki, 30 perempuan,” ujarnya dalam rilis di Hotel Sahid, Senin (25/5/2015).

Mereka memiliki latar belakang pendidikan rata-rata SD sampai SMA. Rinciannya sebanyak 10 persen responden lulusan SD, 30 persen tamatan SMP, sedangkan SMA sebanyak 50 persen, dan sisanya sekitar 10 persen lulusan perguruan tinggi.

“Kita survey dari berbagai etnis, 70 persen dari jawa, 20 persen Madura, Tionghoa 5 persen, dan sisanya bukan dari suku-suku tersebut,” jelasnya.

Menurut Jacky, suara Risma, sapaan Tri Rismaharini masih mungkin bisa disalip oleh kandidat lainnya. Hal itu bila Risma menjadi musuh bersama para kandidat yang lain dan partai politik. Apalagi hasil survey menyatakan Risma tidak menang mutlak. Sehingga memungkinkan masih ada kontestasi diantara para calon walikota.

Jacky mengungkapkan, saat ini terjadi fenomena DeRismanisasi. Dimana warga Surabaya dan PNS melakukan perlawanan terselubung.  Pasalnya, Risma di lingkungan PNS Pemkot Surabaya dan para guru dikenal sebagai pemimpin yang otoriter.

“Jadi untuk mengimbangi Risma, diperlukan tokoh yang dapat mempersatukan kekuatan,” terangnya.
Masalah kesejahteraan, kata Jacky, menjadi isu sentral di Surabaya. Disusul masalah pendidikan, kesehatan dan keamanan. Karena itu, warga Surabaya berharap yang menjadi walikota lima tahun kedepan adalah yang bisa menangani masalah-masalah tersebut.

“Pada akhirnya, pemilih yang belum menentukan yang sangat berpengaruh terhadap pemenangan pilwali, kami hanya melakukan survey secara independen untuk membantu proses demokrasi di Surabaya,” tukasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPW NasDem Jatim, Vinsensius menambahkan, hasil survey PusPolitika sangat mengejutkan. Hal itu karena Sukoto berada diposisi kedua setelah Risma. Sehingga ada peluang untuk menyaingi popularitas dan elektabilitas Risma.

“Peluang kontestasi dalam pilwali Surabaya masih terbuka lebar, apalagi responden penelitian ini hanya 100 orang,” ucapnya.

Anggota DPRD Surabaya ini menilai pembangunan kota selama kepemimpinan Risma hanya berkonsentrasi pada masalah pertamanan. Selebihnya Risma hanya rajin melakukan branding atau pencitraan. “Selama ini Risma hanya melakukan pencitraan, sementara roda pembangunanya sangat lambat,” tandasnya. (tur)