05/12/2020

Jadikan yang Terdepan

BI Gandeng DKP Jatim Naikkan Kelas UMKM

UMKM Naik Kelas 2Surabaya, KabarGress.Com – Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Jawa Timur bekerjasama dengan Dinas Kelautan & Perikanan (DKP) Jawa Timur berupaya keras mendorong usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) untuk bisa ‘naik kelas’. Sebagai wujud komitmen mendorong sektor industri kecil dan menengah ini dilangsungkan Bazar UMKM di halaman Kantor Perpustakaan BI, Minggu (17/5/2015).

Menurut Kepala Divisi Advisory dan Pengembangan Ekonomi Daerah BI Jawa Timur, Hestu Wibowo, selama ini pola pikir UMKM masih sebatas modalnya kecil, omzetnya kecil, jaringan pasarnya terbatas dan sebagainya. Pola pikir itulah yang harus diubah bahwa UMKM tidak selama harus berada di level seperti itu.

UMKM Naik Kelas”Jika semangat mereka terus didorong seperti melalui kegiatan ini, diperkuat permodalannya, ditingkatkan kemampuannya dan didukung jaringan pemasaran produknya, mereka bisa ‘naik kelas’. Ini yang menjadi harapan kami,” tandas Hestu di sela-sela acara bazar yang dihadiri banyak mahasiswa dari berbagai kampus di Jawa Timur tersebut.

Disebutkan, jumlah UMKM di Jawa Timur berdasarkan data 2013 sebanyak 6,8 juta yang terdiri dari 5,9 juta usaha mikro kecil dan 700 ribu usaha menengah. Dari 6,8 juta UMKM, 62 persen berada di sektor pertanian dan sisanya sektor non pertanian. Keberadaan 6.8 juta UMKM mampu menyerap 8,6 juta tenaga kerja. ”Ini menunjukkan peran pentin dari UMKM ikut mengurangi angka pengangguran di Jawa Timur,” terangnya.

UMKM Naik Kelas 1Sementara terkait dengan penyaluran kredit ke UMKM, Hestu menegaskan, di Jawa Timur sudah melebihi target yang ditentukan Bank Indonesia. Berdasarkan data 2015, prosentase penyaluran kredit ke UMKM sebesar 27,53 persen sedangkan ketentuan BI sebesar 20 persen. ”Tahun 2015, perbankan sudah menyalurkan kredit sebesar Rp52,67 triliun ke sektor perdagangan dan besar dan Rp18 triliun ke sektor industri pengolahan,” urainya.

Kerjasama dengan DKP Jawa Timur, kata Hestu, juga terkait dengan upaya meningkatkan masyarakat untuk meningkatkan konsumsi ikan. Selama ini tingkat konsumsi ikan di Jawa Timur relatif masih rendah sementara potensi sumber daya alam akan ikan baik laut maupun darat sangat berlimpah.

Sebagian besar UMKM yang dilibatkan dalam Bazar adalah UMKM yang bergerak di bidang pengolahan ikan. Satu diantaranya, Ririn pemilik Laras Food pengusaha UMKM dari Gresik.

Dalam talk show yang juga digelar di Bazar UMKM, Ririn menceritakan bagaimana membangun usaha pengolahan ikan yang dilakukan sejak tahun 2007. Dengan modal pas-pasan dan Ririn rela keluar dari perusahaan pengolaha ikan.

”Dengan pengalaman selama bekerja, saya awali usaha dengan jatuh bangun. Tidak langsung sukses seperti sekarang. Dulu, modalnya hanya blender dan lemari es sekarang saya mempunyai 30 tim untuk terus mengembangkan usaha Laras Food,’ ‘ujar Ririn yang menyiapkan produknya untuk diekspor ke Amerika Serikat.

Hal senada juga disampaikan Gus Ali pemilik Restoran ”Asap-Asap”. Sebelum usaha sendiri, Gus Ali bekerja selama 4 tahun di Restoran Wong Solo. Rupanya jiwa entrepreneurship yang tinggi mendorong Gus Ali untuk mengembangkan usaha sendiri dan fokus dengan produk ikan sebagai bahan utama di restoran.

”Kenapa pilih ikan, karena usaha yang saya bangun tidak hanya untuk mendapatkan keuntungan tetapi juga turut mencerdaskan bangsa. Dalam berbisnis, saya terapkan konsep 4P yakni price, place, product, and people. Selama kita berbisnis, harus punya standar dan skala, perbanyak silaturahmi, mensyukuri dan selalu bersedekah,” papar Gus Ali.

Hingga saat ini, Gus Ali memiliki 21 restoran yang tersebar di beberapa kota. Ditargetkan tahun 2020, restorannya bisa ‘go internasional’. (ro)