04/12/2020

Jadikan yang Terdepan

Batik Pranakan Hasil Akulturasi Budaya Antara Indonesia dengan Berbagai Negara

Ibu Nina Soekarwo Menghadiri HUT ke 34 Ratna Busana Jawa Timur di Hotel Santika Premiere Surabaya (5)Surabaya, KabarGress.Com – Perhimpunan Ratna Busana Jatim perlu diapresiasi, karena mereka mempunyai kegiatan menggali, membina, mengembangkan, sekaligus melestarikan pakaian dan kain tradisional sebagai budaya luhur bangsa Indonesia. “Saya kira hari ini merupakan satu bentuk kegiatan yang menggali. Ternyata batik pranakan itu merupakan batik yang ada di Pekalongan. Diangkat dari hasil akulturasi budaya dari berbagai negara, antara Indonesia dengan Eropa, Tionghoa, India, Arab yang diangkat dengan batik,” ungkap Dra. H. Nina Soekarwo, saat Peringatan HUT ke 34 Himpunan Ratna Busana Jatim dengan mengangkat tema Pesona Batik Pranakan, di Premier Ballroom Hotel Santika Premier Jl. Gubeng Surabaya, Jumat (8/5).

Menurut Istri Gubernur Jatim yang biasa dipanggil Bude Nina, bahwa industri batik merupakan industri kreatif yang mempunyai prospek bagus di masa datang. Dengan digalinya batik pranakan, akan menambah rentetan motif batik yang ada di Indonesia khususnya Jawa Timur. “Batik Pranakan merupakan bagian dari jenis batik yang perlu digali dan dilestarikan,” ungkapnya lebih lanjut.

Untuk indutri batik, menurut Bude Karwo yang juga sebagai Penasihat Perhimpunan Ratna Budaya Jatim, tidak dapat bersaing dengan industri pabrikan. “Kita harus mempertahankan warisan budaya. Menggali seni nilainya jauh lebih tinggi, dan itu merupakan sarana untuk mendiskripsikan batik dalam suatu tulisan. Batik mempunyai filosofi yang menarik bagi pangsa pasar,” jelasnya.

Lebih lanjut digambarkan oleh Bude Nina, bahwa sejak ditetapkannya batik sebagai warisan budaya Bangsa Indonesia pada 2 Oktober 2009, produksi batik naik sampai 500 persen. Hal tersebut tentunya merupakan potensi luar biasa bagi pengembangan UMKM. Omset sampai mencapai Rp10 triliun , dan menyerap tenaga kerja sebanyak 3,5 juta orang.

“Saat ini, 38 kabupaten/kota di Jatim sudah mempunyai motif batik sesuai dengan budaya lokal yang berlaku. Tercipta 1.120 motif batik di seluruh Jatim, dan telah dibukukan oleh MURI,” ungkapnya lebih lanjut.

Bude Nina mengharapkan ke depan Himpunan Ratna Busana semakin besar dan berkualitas., sehingga lebih mampu melestarikan budaya tradisional yang ada di Jawa Timur.

Sementara itu Ketua Himpunan Ratna Busana (HRB) Jatim Nunik Silalahi mengatakan bahwa anggota HRP terdiri dari berbagai usia, berbagai latar belakang dan berbagai macam profesi. Tetapi mereka mempunyai visi yang sama yaitu ingin menggali, membina, mengembangkan dan melestarikan budaya bangsa khususnya batik dan kain tradisional sebagai manifestasi kecintaan mereka pada Bangsa Indonesia.

Pada peringatan HUT nya yang ke 34, berbagai kegiatan telah dilakukan, yaitu bakti sosial di Rumah Belajar Pendawa dengan memberikan berbagai macam buku bacaan, workshop dengan untuk meningkatkan kualitas perempuan, serta talk show dan peragaan busana Batik Peranakan.

“Di usia yang ke 34, masih sedikit kegiatan yang kita lakukan. Tetapi telah memberikan kontribusi pada kejayaan busana tradisional di Indonesia,” ungkapnya. (hery)

Teks foto: Nina Soekarwo menghadiri HUT ke 34 Ratna Busana Jawa Timur di Hotel Santika Premiere Surabaya.