02/02/2021

Jadikan yang Terdepan

JATIMNOMICS Pakde Karwo Strategi Jitu Hadapi MEA

Pakde Karwo menjawab pertanyaan audiensi disaksikan para panelis ttg konsep Jatimnomic yg digagasnya di Aula KRT Fadjar Notonegoro FE Unair.Surabaya, KabarGress.Com – Gubernur Jawa Timur, Dr. H. Soekarwo mengungkapkan konsep “Jatimnomics” untuk menghadapi dan memenangkan persaingan di era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Jatimnomics merupakan trisula strategi pembangunan yang terdiri dari Produksi (UMKM dan Besar), Sistem Pembiayaan, dan Perdagangan/Pasar.

Konsep tersebut telah diimplementasikan Pakde Karwo, sapaan akrab Gubernur Jatim saat memimpin Jawa Timur dalam 2 periode terakhir kepemimpinannya. Pemikiran dan konsep original Pakde Karwo ini dipaparkannya didepan akademisi dalam bentuk workshop bertajuk “Strategi Jatim dalam Menghadapi era Perdagangan Bebas” di Aula KRT. Fadjar Notonegoro Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Airlangga Surabaya, Rabu (6/5) sebagai rangkaian pengukuhan gelar Doktor Honoris Causa bidang ekonomi.

Pakde Karwo mengatakan, strategi jitu dengan konsep Jatimnomics ini adalah membangun produksi, baik industri besar, maupun industri kecil, khususnya UMKM. Pasalnya UMKM merupakan penyumbang terbesar Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jatim, pada 2014, UMKM menyumbang Rp. 1.100 triliun terhadap PDRB Jatim. Selain itu, jumlah UMKM di Jatim kini telah mencapai 11,5 juta dan menyerap sebanyak 95% tenaga kerja di Jatim.

Guna meningkatkan kualitas dan daya saing UMKM, Pakde Karwo menggunakan cara pembangunan secara partisipatoris. Artinya, UMKM diajak bicara untuk mengusulkan/merencanakan dan memutuskan solusi terhadap masalah yang dihadapi, utamanya, masalah Sumber Daya Manusia (SDM), maupun permodalan.

Untuk memenuhi kualitas produksi, Pakde Karwo menuturkan bahwa pengembangan SDM UMKM di Jatim dilaksanakan melalui lab. Inkubator bisnis dengan bekerjasama dengan Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS) dan Universitas Brawijaya (UB) Malang. Sasarannya adalah lulusan perguruan tinggi yang berprestasi maupun yang berminat untuk berwirausaha, mereka digembleng dan didorong untuk menjadi entrepreneur muda.

Upaya lain untuk meningkatkan kualitas SDM adalah dengan standarisasi keterampilan SDM. Karena itu, Pemprov getol membangun SMK Mini. Sejak 2014, Pemprov telah mendirikan SMK mini dengan bekerjasama dengan Jerman (negara dengan standarisasi produk paling tinggi) dan Jepang.

Strategi kedua adalah skema pembiayaan, untuk segmen industri besar, skemanya yakni difasilitasi melalui business forum dan diplomasi ekonomi (dalam dan luar negeri), kemudian pemerintah memberikan jaminan kemudahan investasi (government guarantee). Yakni ketersediaan listrik, pengadaan lahan, keamanan/demo buruh kondusif, buruh yang berkualitas, serta kemudahan perijinan.

Sedangkan untuk industri kecil, khususnya UMKM, skemanya adalah stimulasi permodalan. Untuk mendapat akses modal, UMKM terkadang mengalami ketidakadilan jika dibanding perusahaan besar.

Karena itu, Pakde Karwo melakukan intervensi untuk membela UMKM, salah satunya regulasi agar Bank Jatim menjadi APEX Bank untuk Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Jatim dengan suku bunga yang lebih rendah dari perbankan umum, yaitu BPR sebesar 9% setahun, sedangkan Bank UMKM hanya sebesar 6% setahun. Dengan begitu, UMKM akan lebih mudah mengakses dan mendapatkan stimulasi modal usaha dengan bunga ringan.

“Khusus untuk wong cilik, harus ada Dilibelarisasi karena mereka ada di posisi yang lemah jika dipaksa ikut liberalisasi. Jadi UMKM harus diintervensi oleh pemerintah agar produknya lebih baik, lebih murah, dan cepat” ujarnya.

Strategi ketiga adalah perdagangan/pasar, Pakde Karwo mengatakan, penguatan perdagangan yang paling penting adalah pasar dalam negeri. Pasalnya pasar dalam negeri tidak tergantung kepada fluktuasi nilai tukar (kurs) mata uang asing, serta lebih efisien didalam konektivitas (shipping) antar pulau, dan menguntungkan bangsa sendiri.

Karena itu, sejak 2010, Pakde Karwo sangat getol membangun dan mengembangkan Kantor Perwakilan Dagang (KPD) dalam negeri. Hingga kini, total KPD Jatim sebanyak 26 kantor di 26 provinsi di Indonesia. Hasilnya sungguh luar biasa, Jatim menjadi pusat logistic and connectivity Indonesia bagian Timur.

“Banyak yang mengira jika perdagangan dalam negeri itu pusatnya di jakarta. Itu keliru, di jakarta hanya 19% sedangkan di Jatim itu 27,9%. Pada 2014, barang dari provinsi lain masuk ke Jatim (impor) itu sebesar Rp. 325,548 triliun, sedangkan barang dari Jatim yang keluar (ekspor) sebesar Rp415,876 triliun. Jadi ada surplus sebesar Rp90,328 triliun. Penyumbang terbesarnya adalah barang-barang UMKM” katanya.

Kemudian, upaya lain untuk memperkuat strategi perdagangan/pasar adalah menyelenggarakan pertemuan g to g antara asisten II seluruh Indonesia untuk membangun perdagangan antar provinsi, serta mengikutsertakan UMKM dalam pameran dagang antar provinsi.

“Tiga strategi itulah yang kami namakan konsep “Jatimnomics” sebagai basis pasar nasional untuk meneguhkan semangat Indonesia Incorporated. Dimana dalam menghadapi era MEA, kita perlu menggenjot multisinergi antara sektor pemerintah dengan sektor korporasi dan masyarakat dalam mewujudkan pembangunan ekonomi dalam negeri yang saling terintegrasi” ujarnya.

Sementara itu Wakil Rektor II Unair, Prof. Dr. Mohammad Nasih mengatakan, di era MEA, dibutuhkan kekuatan, komitmen dan kerjasama yang kuat untuk menghadapinya, pasalnya semua negara (daerah), dan organisasi, khususnya organisasi bisnis berlomba-lomba untuk membangun kekuatan agar dapat mengalahkan para pesaingnya.

Keempat panelis dalam workshop ini sepakat dengan konsep Jatimnomics yang digagas oleh Pakde Karwo sebagai upaya Pemprov menghadapi pasar bebas. Seperti yang diungkapkan panelis pertama, Prof. Dr. Djoko Mursinto yang memuji Pakde Karwo sebagai salah satu kepala daerah yang punya greget dalam menghadai MEA.

Menurutnya, Jatim perlu mengoptimalkan sektor pariwisata untuk meningkatkan perekenomian masyarakat lokal karena di Jatim punya 767 obyek wisata. Panelis kedua, Prof. Dr. Hotman M. Siahaan mengatakan bahwa konsep Jatimnomics Pakde Karwo sejatinya selaras dan memperkokoh konsep Trisakti Bung Karno. Dimana negara hadir dan mengintervensi untuk membela wong cilik.

“Disinilah peran Pakde Karwo, memanusiakan manusia lewat program Jalinkesra. ini sangat tepat karena rakyat adalah manusia sungguhan. Harus ada penawaran publik dalam rangka memberdayakan masyarakat, karena mereka tau apa yang mereka alami dan solusi apa yang tepat” ujarnya.

Panelis ketiga, Dr. Suparto Wijoyo mengatakan, Pakde Karwo sangat layak menjadi guru besar. Pasalnya, disamping menguasai ilmu hukum yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya, Pakde Karwo juga sangat menguasai ekonomi.

“Pakde Karwo adalah pakar, baik ekonomi maupun hukum. Dari sisi ekonomi, beliau mampu membuat strategi yang tepat bagi kemajuan ekonomi Jatim. Sedangkan dari sisi hukum, ia mampu membuat policy berupa kebijakan-kebijakan dan regulasi-regulasi yang berpihak pada rakyat kecil. Ibaratnya, Pakde Karwo adalah penerang bagi masyarakat dan pendar cahaya bagi perekonomian nusantara” pujinya.

Panelis keempat, Kepala Lembaga Demografi FE-UI Dr. Sonny H.B. Harmadi mengatakan, pihaknya memberi apresiasi atas pemikiran Jatimnomics dari Pakde Karwo, khususnya dalam membangun daya saing dari sektor UMKM dan SDM.

“Pendidikan di Indonesia secara konsisten tetap menempati rangking nomor 7 di Asia. Diperkirakan, Indonesia tidak bisa keluar dari peringkat 7 pendidikan hingga 2035. Artinya, tanpa kebijakan yang luar biasa untuk memutus rantai kesulitan akses pendidikan di masyarakat, khususnya wong cilik, Indonesia akan selamanya stuck disitu” katanya.

“Karena itu, saya mengapresiasi dan gembira dengan paparan Pakde Karwo, melalui pembangunan SMK mini-nya, serta skema pembiayaan yang berpihak kepada UMKM. Sehingga SDM dan UMKM Jatim dapat bersaing di era MEA. Jatimnomics patut dijadikan contoh secara nasional” pujinya.

Workshop dihadiri 400 orang kalangan civitas akademika di FEB Unair. Mulai mahasiswa S1 dan Pasca Sarjana, dosen, hingga para guru besar. Hadir juga sejumlah kepada daerah dan pada pejabat di lingkungan Pemprov Jatim. Workshop pada kesempatan itu dimoderatori oleh Dr Rudy Purwono, yang juga Pembantu Dekan FEB Unair. (hery)

Teks foto: Pakde Karwo menjawab pertanyaan audiensi disaksikan para panelis tentang konsep Jatimnomic yang digagasnya di Aula KRT Fadjar Notonegoro FE Unair.