31/10/2020

Jadikan yang Terdepan

Dewan Nilai Pemkot Tak Serius Soroti Tempat Wisata

telecombat taman remaja surabayaSurabaya, KabarGress.Com – DPRD Kota Surabaya menilai Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya kurang serius dalam menggarap potensi-potensi wisata yang ada di Surabaya. Sebaliknya, BUMD dan juga perusahaan lain yang berfungsi mengelola tempat wisata justru kondisinya amburadul.

Anggota Komisi C DPRD Kota Surabaya, Erwin Tjahyuadi mencontohkan, Kebun Binatang Surabaya (KBS) yang sejak pertengahan 2013 diakuisisi oleh Pemkot. Tapi ternyata, hingga kini berbagai macam persoalan seolah tiada henti mendera kebun binatang legendaris tersebut.

“Saya kira, Pemkot harus segera menuntaskan masalah ini, jangan dibiarkan berlarut-larut. Kalau seperti ini terus, KBS tidak akan bisa berkembang,” ujarnya.

Politisi asal fraksi PDIP ini, juga menyinggung Taman Remaja Surabaya (TRS). Tempat rekreasi di Jalan Kusuma Bangsa, yang rencananya akan diambil oleh Pemkot. Alasannya, tempat tersebut memberi kontribusi yang kecil bagi PAD. Pemkot berencana mengubah Taman Remaja menjadi kampung seni.

Pemkot berharap, kata Erwin, dengan pengambilalihan itu Taman Remaja Surabaya akan memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan sebelumnya. TRS berdiri diatas lahan milik Pemkot. Luasannya sekitar 16.910 meter persegi. “TRS jangan diambilalih seperti itu. Ingat, TRS itu memiliki sejarah yang panjang. Bahkan, TRS itu sudah menjadi ikon kota Surabaya,” katanya.

TRS yang dikelola PT Star Remaha tersebut, merupakan sarana hiburan yang menyediakan beragam permainan anak-anak dan atraksi. Diantaranya, boom boom car, rumah hantu, galeri menembak, merry go round dan panggung hiburan yang menampilkan pergelaran musik artis lokal hingga pertunjukan waria.

Hasil evaluasi dan rapat umum pemegang saham beberapa waktu lalu sepakat untuk menutup TRS yang sudah berusia 30 tahun itu. Saat ini, Pemerintah Kota Surabaya dan direksi sedang membahas waktu penutupannya. “Sampai kapanpun kami tetap akan tolak penutupan TRS,” tegas Erwin.

Sementara itu, dari laporan pertanggungjawaban (LKPJ) wali kota menyebutkan, serapan anggaran dalam mengelola destinasi wisata kurang begitu maksimal. Disebutkan, realisasi belanja program pengembangan pemasaran pariwisata hanya sebesar 89% atau sebesar Rp10 miliar dari total alokasi dana yang dianggarkan sebesar Rp12 miliar.

Bahkan, realisasi belanja program pengembangan destinasi wisata sebesar hanya 60% atau sekitar Rp1,4 miliar dari alokasi dana yang dianggarkan sebesar Rp2,3 miliar.

Dalam LKPJ tersebut disebutkan, selama 2014, obyek wisata di Surabaya yang ditingkatkan kualitasnya menjadi destinasi wisata sebanyak 19 lokasi. Ini sesuai dengan target 2014.

Pada tahun yang sama, jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Surabaya sebanyak 742.084 orang. Jika dibandingkan dengan target yang ditetapkan sebanyak 190.872 wisatawan, maka capaian kinerjanya sebesar 388%. Jumlah kunjungan wisatawan domestik. Selama 2014 sebanyak 15.929.745 orang.

“Jika dbandingkan dengan target yang ditetapkan sebanyak 8.296.175, maka capaian kinerjanya sebesar 192%,” ujar Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini. (tur)