25/10/2020

Jadikan yang Terdepan

OJK Adakan Sosialisasi dan Pelatihan Literasi Keuangan Penyandang Disabilitas

Jpeg

Surabaya, KabarGress.Com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Pusat Studi Layanan Disabilitas Universitas Brawijaya (PSLD UB) Malang, mengadakan sosialisasi serta pelatihan Literasi Keuangan bagi penyandang disabilitas di Jawa Timur, bertempat di Hotel Sheraton Surabaya, Senin (27/4/2015). Dalam event ini juga dilaksanakan pula workshop peningkatan kapasitas perlindungan konsumen kepada Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK).

Anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK, Kusumaningtuti S. Soetiono, mengungkapkan metode pelatihan Literasi Keuangan pada penyandang disabilitas ini menggunakan buku panduan yang telah diujicobakan di Surabaya, Mojokerto, dan Malang. Pelatihan Literasi Keuangan pada penyandang disabilitas di Jawa Timur ini diharapkan bisa direplikasikan di daerah lain.

”Pelatihan Literasi Keuangan ini akan kami lanjutkan dengan pengenalan produk keuangan dan risikonya dalam rangka meningkatkan kemandirian perencanaan keuangan bagi penyandang disabilitas,” terang perempuan yang akrab dipanggil Tituk ini.

Dikatakaan, kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari program yang telah dilaksanakan tahun 2014. Kegiatan serupa diperluas di berbagai kota agar penyandang disabilitas sadar tentang keuangan dan akhirnya dapat meningkatkan literasi keuangan. Selain itu kegiatan ini juga dilatarbelakangi oleh hasil Survey Nasional Literasi Keuangan yang dilaksanakan OJK pada semester I/2013, yang mana hanya 21,84% penduduk Indonesia yang tergolong well literate.

”Kondisi ini memerlukan strategi edukasi tersendiri untuk meningkatkan kondisi penduduk dari less literate menjadi well literate. Perlu ada peningkatan akses dan layanan keuangan yang lebih luas bagi kehidupan masyarakat, seperti tabungan, pembayaran, kredit usaha, dana pensiun, asuransi kesehatan dan asuransi pendidikan,” ujar Tituk.

Menurut Sekretaris PSLD UB, Slamet Tohari, berdasarkan hasil survei di 3 kota di Jawa Timur yang melibatkan 210 penyandang disabilitas menunjukkan bahwa penyandang disabilitas masih sulit mendapatkan akses layanan ke jasa perbankan. Diuraikan, sebanyak 94% penyandang disabilitas tersebut tidak mencatat keuangannya, 55% menyatakan tidak memiliki kesiapan saat menghadapi kebutuhan mendadak, dan 50% tidak memiliki tabungan.

Survei tersebut juga menunjukkan sebanyak 48,98% mempunyai tabungan, dan 70,45% dari mereka yang menabung tidak pernah menabung di lembaga jasa keuangan, sementara hanya 29,55% ayang menyatakan pernah menabung.

Dikatakan, selama ini penyandang disabilitas sulit mendapatkan layanan akses pendidikan dengan alasan terhambat sampai di SLB. Universitas Brawijaya Malang sendiri telah membuka layanan akses pendidikan bagi mereka dengan kuota 25 orang setahun. “Kami pilih yang terbaik dari kalangan mereka, kemudian kemudian mereka kami gabungkan dengan mahasiswa umum lainnya dan disediakan pendamping,” ungkap Slamet.

Melihat kondisi riil tersebut, menurut Tituk kembali, OJK akan terus melakukan edukasi keuangan secara terus menerus untuk meningkatkan literasi keuangan masyarakat Indonesia yang masih rendah termasuk bagi insan yang berkebutuhan khusus. OJK juga akan terus mendorong PUJK menyediakan produk dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan penyandang disabilitas. (ro)

Teks foto: Anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK, Kusumaningtuti S. Soetiono, didampingi Sekretaris PSLD UB, Slamet Tohari (3 dari kiri), menerima salah satu produksi kerajinan tangan, di sela-sela acara sosialisasi serta pelatihan Literasi Keuangan bagi penyandang disabilitas di Jawa Timur, bertempat di Hotel Sheraton Surabaya, Senin (27/4/2015).