02/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Cantik Luar Dalam dengan Limbah Buah Manggis

Yuvita Rosary Deva menunjukkan proses pengadukan masker peel-off.Hendrik Agusta dan Vian Awagis  menunjukkan hasil tablet salut enterik.Vian Awagis -memakai baju lab- saat proses penyalutan tablet dengan cara menyemprotkan bahan penyalut.Surabaya, KabarGress.Com – Kulit manggis, beberapa saat yang lalu sempat menimbulkan tren di kalangan masyarakat. Tanggapan positif maupun negatif muncul dari masyarakat, ramai pula hadir dalam bentuk bahan ledekan di media sosial maupun acara-acara di media massa.

“Bagi kami, sebenarnya itu mengkhawatirkan, karena berdasarkan penelitian sebenarnya bahan aktif pada kulit manggis memang terbukti memiliki manfaat yang luar biasa. Antioksidan yang terkandung di dalamnya sangat tinggi sehingga kami tertantang berinovasi untuk mengoptimalkan manfaatnya. Kalau masyarakat hanya ingat ledekan tapi lupa manfaat yang sebenarnya terkandung dalam buah khas Indonesia ini, mereka akan rugi. Terutama bagi para petani manggis, karena limbah yang mereka hasilkan sebenarnya bisa jadi penghasilan tambahan,” ujar Farida Lanawati Darsono, M.Sc. selaku pembimbing dari empat orang mahasiswa Profesi Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) yang membuat tiga macam inovasi produk perawatan tubuh dari kulit manggis.

Hendrik Agusta Setiawan dan Vian Anawagis membuat tablet salut enterik dari kulit manggis. “Keistimewaan tablet ini dibandingkan yang sudah ada di pasaran adalah kami membuatnya dapat bertahan dengan baik saat berada di lambung, sehingga manfaatnya masih dapat diserap dengan baik di usus,” ujar Hendrik.

Dua orang mahasiswa lainnya, Yuvita Rosary Deva dan Rus Dwi Cahyani membuat produk perawatan wajah berupa masker peel-off dan krim pelembab. “Kulit manggis kaya akan antioksidan dan terbukti membantu proses regenerasi kulit, selain itu juga berfungsi sebagai anti penuaan dini,” ujar Yuvita mengenai masker buatannya.

“Manggis adalah produk lokal Indonesia yang menurut kami sayang kalau kulitnya hanya dibiarkan menjadi limbah, daripada begitu lebih baik dijadikan pelembab saja. Selain menjaga elastisitas kulit juga bisa untuk tabir surya, jadi kalau semua ini digabungkan akan menjadi produk perawatan yang terbukti aman serta bekerja dari dalam hingga ke luar,” tambah Rus Dwi melengkapi keterangan teman-temannya.

Lebih lanjut ketika ditemui di Laboratorium Farmasetika Lanjut Fakultas Farmasi UKWMS, Vian membeberkan proses dasar yang harus dilakukan sebelum limbah kulit manggis siap diolah menjadi produk perawatan. “Pertama-tama kulit dikeringkan, dipotong kecil-kecil, lalu dihaluskan dengan blender, kemudian direndam dalam air, istilahnya di-maserasi. Untuk bahan-bahan yang kami gunakan semuanya alami, walaupun untuk penyalut tabletnya kami gunakan bahan sintetis sejenis polymer yang aman untuk tubuh manusia. Penyalut inilah yang menjamin tablet buatan kami tidak akan habis dicerna oleh asam lambung,” ungkap Vian yang asli kelahiran Surabaya.

Komponen masker peel-off yang dibuat oleh Yuvita sebagian besar adalah ekstrak kulit buah manggis yang dibeli dari petani manggis di Malang. “Selain ekstrak kulit manggis yang sudah kami buat menjadi bubuk, ditambahkan pula PVA, PVP K-30, HPMC, nipagin, nipasol, gliserin, etanol dan aquadest.

Dipilih bentuk peel-off  karena efeknya mengencangkan, sekaligus membantu regenerasi kulit karena sel-sel kulit mati akan terangkat saat masker dikelupas,” tutur Yuvita.

Sama-sama menggunakan bahan pengental gliserin, krim pelembab yang dibuat oleh Rus Dwi juga dipastikan aman untuk dipergunakan oleh manusia. “Kami sudah melalui simulasi pengujian BPOM yang diberikan oleh Fakultas, sehingga nantinya bila kami berniat menjadikan produk ini sebagai wirausaha kami bisa melakukannya dengan standar yang benar. Bahan utama yang kami pergunakan tetap kulit manggis, bahan-bahan tambahan lainnya dibutuhkan lebih agar penggunaan dan penyimpanannya lebih mudah. Khusus untuk penyimpanan, semua produk kami dirancang agar dapat bertahan di suhu ruangan normal sehingga nantinya tidak menyulitkan distribusi maupun pengguna,” tutup Rus Dwi. (ro)

Teks foto:

– Yuvita Rosary Deva menunjukkan proses pengadukan masker peel-off.

– Hendrik Agusta (kiri) dan Vian Awagis (kanan) menunjukkan hasil tablet salut enterik.

– Vian Awagis (memakai baju lab) saat proses penyalutan tablet dengan cara menyemprotkan bahan penyalut.