02/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Tiga Pilar Pembangunan Desa Solusi Majukan Jatim

Gubernur Jatim bersama Pangdam V Brawijaya dan Kapolda  Jatim Salam Komando menandakan sinergi ketiga lembaga dalam memberikan  pengamanan di Jatim 2Gubernur Jatim, Soekarwo bersama Kasad TNI, GAtot  Nurmantyo dan Walikota Malang saat Forpimda swasembada pangan di GOR Ken  ArokMalang, KabarGress.com – Tiga pilar pembangunan desa menjadi solusi memajukan Jatim . Tiga pilar pembangunan desa yang dimaksud adalah kepala desa, Bintara Pembina Desa (Babinsa), Bintara pembinanaan dan keamanan ketertiban masyarakat (Babinkamtibmas) serta ikut sertanya masyarakat menjadi kekuatan baru dalam kemajuan desa dan kemudian berdampak secara langsung terhadap kemajuan sebuah provinsi. Demikian disampaikan Gubernur Jatim, Dr. H. soekarwo pada Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Provinsi Jawa Timur bertemakan Peningkatan Keamanan dan Ketertiban Dalam Rangka Mensukseskan Swasembada Pangan dan Pilkada Serentak di Jatim Tahun 2015 di Gedung Olah Raga Ken Arok, Kota Malang, Selasa (7/4).

Menurutnya, keberadaan ketiga pilar itu, menjadi langkah konkrit menghadapi semua permasalahan di tingkat pedesaan. Oleh sebab itu, harus dibuat sebuah kebijakan atau kesepakatan antara tiga pilar tersebut agar desa bisa menjadi basis solusi dari berbagai permasalahan yang ada. “Dengan begitu, cita cita untuk memajukan dan mensejehaterakan masyarakat bisa terjadi ” ujarnya.

Selain memajukan dan mensejahterakan, dengan sinerginya tiga pilar pembangunan desa maka pengaruh negatif bisa teratasi. “Kegiatan-kegiatan yang berbau radikal, bahaya narkoba, peredaran pupuk oplosan dan bencana bisa diselesaikan apabila tiga pilar bisa membuat kebijakan yang mendukung upaya memajukan desa. Apabila desa bisa maju, maka pemerintah provinsi akan ikut maju,” jelas Pakde Karwo sapaan akrabnya.

Ia menjelaskan, mengurus sebuah wilayah merupakan tugas yang sulit. Berbagai aspek harus diperkuat seperti aspek spiritual dan kebudayaan. Suatu wilayah tidak bisa bersaing dengan wilayah lain apabila tidak mengurus hal tersebut. “ Sebagai contoh, Inggris bisa besar seperti ini karena tetap mempertahankan budayanya. Dengan adanya pasar global, baik pemerintah daerah maupun desa harus bisa mempertahankan kearifan lokal dari wilayahnya dan menyerap pengaruh luar yang dirasa baik, “ ungkapnya.

Pakde Karwo menambahkan banyak tugas baru yang diemban ketiga pilar pembangunan desa, Babinsa memiliki tugas seperti meningkatkan ketahanan pangan, dan Babinkamtibmas mempunyai tugas menjaga keamanan dan ketertiban desa, kepala desa memberikan gagasan dan pengambil keputusan desa, dan masyarakat mempunyai posisi dalam memberikan masukan kepada jajaran aparatur desa. “Semakin padu dan sinergi keempat pilar pembangunan desa, maka rasa aman dan nyaman akan hadir ditengah masyarakat. Dengan begitu tingkat kesejahteraan masyarakat ikut terungkit, “ jelas Pakde Karwo sapaan akrabnya.

Kenyamanan timbul dengan adanya komunikasi antar masyarakat dan aparatur desa. Dengan berkomunikasi, masyarakat akan merasa lega karena merasa semua aspirasi tersalur dan didengar.

Pertumbuhan ekonomi Jatim beberapa tahun terakhir salah satunya merupakan peran dari empat pilar pembangunan desa. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jatim cukup besar yakni Rp1.540 triliun. “Besarnya PDRB Jatim tidak lepas dari peran desa membantu mewujudkan kemakmuran, “ imbuhnya.

Ia menambahkan, dengan berjalannya pemerintahan desa, merupakan perwujudan kehadiran negara di sekitar masyarakat. Pemerintahan desa didalam struktur pemerintahan seperti jangkar sari eksistensi pemerintahan diatasnya. Oleh sebab itu, agar jangkar tersebut kuat harus sering berkomunikasi dengan masyarakat. “ Sebagai contoh, apabila ada jalan desa yang rusak, langkah awal para pengurus desa adalah memanggil perwakilan masyarakat untuk berembug yang kemudian masukan tersebut dibawa ke tingkat DPRD agar mendapatkan respon dari wakil rakyat tersebut,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Satuan Angkatan Darat RI, Gatot Nurmantyo mengatakan, Jatim merupakan barometer keamanan sejak jaman dahulu. Perjuangan Indonesia melawan sekutu semakin gencar ketika adanya peristiwa 10 November, dimana rasa gotong royong masyarakaat Jatim bergerak. “Rasa gotong royong harus selalu dibawa dikehidupan saat ini, karena merupakan kearifan local. Saya yakin gotong royong masiih berkembang di Jatim, “ ungkapnya. (hery)

Teks foto:

– Gubernur Jatim bersama Pangdam V Brawijaya dan Kapolda Jatim Salam Komando menandakan sinergi ketiga lembaga dalam memberikan pengamanan di Jatim.

– Gubernur Jatim, Soekarwo bersama Kasad TNI, Gatot Nurmantyo dan Walikota Malang saat Forpimda swasembada pangan di GOR Ken Arok.