02/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Monica Cicilia: Saya Difitnah!

Tan Monika CiciliaSurabaya, KabarGress.Com – Persoalan protes Tan Monika Cicilia memprotes adanya PKL dan dinilai warga mengalami gangguan jiwa, menguak fakta baru. Warga Kapasari gang II Surabaya ini mengklarifikasi adanya tudingan miring terhadap dirinya, yang dikatakan bahwa ia mengalami gangguan jiwa.

Saat dikonfirmasi, KabarGress.Com, siang tadi (4/4/2015), Ia merasa disudutkan dan difitnah dengan penilaian tersebut.’’Mana ada kalau orang gangguan jiwa bisa merawat Mamaku dulu waktu sakit,’’ katanya. Monika bahkan menantang untuk pemeriksaan kejiwaan. Ia bahkan bersedia diperiksa oleh Tim Kedokteran Kepolisian untuk pembuktian.

Ceritanya, tudingan tersebut bermula sejak tahun 2010 silam. Saat itu, bungsu dari empat bersaudara ini menceritakan menyoal adanya permasalahan internal dengan keluarga terkait warisan. Dia bahkan mengaku pernah diasingkan oleh saudara-saudaranya sendiri.

’’Aku pernah dibawa sampai ke Lawang, dikumpulkan sama orang-orang gila. Sampai disuruh tanda tangan kartu berwarna kuning. Tapi aku ndak tahu itu apa, soale waktu itu persoalan sedang memuncak dengan keluargaku sendiri,’’ urai Monika.

Ingatannya masih kuat. Dia menceritakan lokasi rumah tersebut begitu besar ukurannya. Selama seminggu Monika berada disana. Selama dilokasi tersebut, Monika mengaku terus dipaksa minum obat sampai lidahnya kaku. Lantas ia berdoa, hingga akhirnya dia bisa keluar dari lokasi tersebut karena tidak terbukti ada gangguan kejiwaan.

Dikatakan Monika, adanya tudingan tersebut bahkan berlanjut sampai didengar oleh para warga sekitar. Termasuk, saat dia memprotes keberadaan PKL dan melaporkan kepada berbagai pihak. Satpol PP, Kepolisian Sektor Genteng, hingga Balai Kota bahkan diakuinya tidak percaya terhadap protesnya.’’Kejam sekali dihasut seperti itu. Biar Tuhan yang membalas,’’ katanya.

Sebelumnya, Tan Monika Cicilia warga Kapasari gang II Surabaya memprotes keras adanya keberadaan PKL di kampungnya. Dia menilai, ada beberapa pedagang yang menyalahgunakan lokasi perkampungan untuk pesta miras.

Pernyataan Monika ini seakan terbungkam. Berbagai laporan baik di DPRD Surabaya, Satpol PP, bahkan Kepolisian seakan tidak menggubris pernyataannya. Bahkan, warga kampungnya sendiri menilai kerasnya sikap Monika seakan mempercayai anggapan bahwa ada yang salah dengan kondisi kejiwaan Monika. (tur)

Teks foto: Tan Monika Cicilia.