02/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Klinong Klinong nang Suroboyo; The Pagoda of Surabaya

* Menelusuri Keindahan Tradisi Masyarakat Tionghoa

???????????????????????????Surabaya, KabarGress.Com – Masyarakat Tionghoa datang ke Nusantara sejak abad ke-4 dengan tujuan untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Kesuburan dan kehidupan masyarakat yang damai di Nusantara membuat sebagian dari mereka memutuskan untuk menetap, termasuk di Surabaya. Pada awal abad ke-20, Surabaya telah menjadi kota dagang yang cukup ramai dan terkenal, hal ini tidak terlepas dari peran serta para pelaut Tionghoa yang turut meramaikan dan memajukan aktivitas dagang di kota Surabaya.

Bahkan kala itu Surabaya menjadi kota besar dengan jumlah orang Tionghoa terbanyak setelah Batavia. Hidup dan tinggal jauh dari negaranya tidak serta merta membuat masyarakat Tionghoa melupakan budaya dan tradisi
nenek moyang mereka yang indah dan penuh dengan filosofi kehidupan, yang tetap dipertahankan hingga kini. House of Sampoerna melalui program Klinong-Klinong nang Suroboyo (KKS) mengajak para trackers untuk mengenal dan melestarikan sejarah dan peninggalannya dengan berjalan kaki mengunjungi tempat dan bangunan bersejarah di Surabaya. Program yang terbuka untuk umum dengan dibatasi hanya 20 orang per sesi, dipandu oleh pemandu wisata berpengalaman dan mengenal sejarah kota Surabaya.

Rute: Klinong Klinong nang Suroboyo

“Pagoda of Surabaya – Menelusuri Keindahan Tradisi Masyarakat Tionghoa”

Jadwal Tur : Minggu, 22 & 29 Maret 2015

Waktu : 07:00 – 09:00 WIB

Pos Pemberangkatan dan Kembali : House of Sampoerna

Materi Cerita :

· Jalan Karet-Jalan Coklat

Jalan Karet dan Jalan Coklat merupakan pusat kawasan Pecinan awal di Surabaya dan merupakan tempat bermukim keluarga-keluarga penting Tionghoa seperti Keluarga Han, Tjoa dan The yang hingga saat ini rumah kediaman mereka masih bisa disaksikan utuh sebagai rumah sembahyang leluhur atau Rumah Abu oleh generasi-generasi penerusnya. Di Jalan Coklat terdapat klenteng tertua di Surabaya (dibangun tahun 1830) yang dikenal dengan Klenteng Hok An Kiong. Klenteng ini bertuan rumahkan Mak Cho Po, atau Dewi Laut, yang dipercaya sebagai dewi pelindung para nelayan dan pelaut di lautan lepas.

· Jalan Kembang Jepun

Jalan Kembang Jepun yang dulunya dikenal dengan sebutan “Handelstraat” di masa kolonial, tempat ini menjadi pusat perdagangan di areal pecinan Surabaya dengan berbagai ruko yang berjualan aneka rupa komoditas di sepanjang jalannya. Saat ini masih terdapat beberapa toko yang masih bertahan, salah satunya adalah Toko Pia Kemenangan. Toko ini sudah berdiri sejak 1942 dan menyediakan berbagai penganan dan sajian khas perayaan dalam tradisi masyarakat Tionghoa. Seperti Kue Bulan untuk perayaan musim gugur serta Kue Keranjang pada perayaan tahun baru Imlek.

· Jalan Waspada-Jalan Samudra-Jalan Kopi

Areal ini merupakan salah satu areal bisnis sibuk di wilayah Surabaya Utara terutama dengan usaha ekspedisi luar pulau, juga pertokoan sandang.

(foto: dok/rajakamar.com)