02/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Islam Itu Santun, Wajib Tolak Gerakan Radikal dan Kekerasan

Muspika Panekan dan Kapolsek Panekan - paling kananMagetan, KabarGress.Com – Gerakan radikal dan aksi  kekerasan mengatasnamakan agama, seperti Islam State of Irak-Suriah,  jelas merusak ajaran dan reputasi Islam. Al Qur’an dan Al Hadist tidak mengajarkan radikalisme dan tindakan kekerasan pada umatnya. “Radikalisme, fundamentalisme,  kekerasan mengatasnamakan agama dan liberalisme mengabaikan akar budaya dan agama, merusak pilar-pilar  beragama,” ujar KH Lukman Hidayat, Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah, Plumpung  Kec. Plaosan, saat pengajian umum  di Pendopo Kec. Panekan, Rabu (11/3).

Menurut Kiai Lukman, umat Islam tidak perlu mengikuti ajaran dan gerakan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Ajaran Islam adalah santun, anti kekerasan, menolak ajaran yang merusak kehidupan di bumi. Tindakan kekerasan yang dilakukan ISIS di Timur Tengah,  jelas bukan ajaran Islam. Itu harus ditolak dan jangan sampai gerakan ISIS meracuni Umat Islam di Indonesia.

Pengajian umum bertema “Merajut nilai-nilai dan sikap beragama yang berwawasan kebangsaan, toleransi, damai dan anti kekerasan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)” tersebut dihadiri  Kesbangpol, Camat, kepala desa  se kecamatan Panekan, tokoh agama dan masyarakat serta warga sekitar.

Umat Islam tidak perlu ragu menolak gerakan radikalisme dan tindakan kekerasan mengatasnamakan agama.  Gerakan tersebut jelas bertentangan dengan ajaran Islam.   Begitu pula, umat Islam jangan ragu dalam mengamalkan Pancasila. Mengamalkan Pancasila  bagian dari ibadah, tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Kiai Lukman mengingatkan pada umat Islam untuk tidak saling mengolok-ngolok. Tidak mudah mengharamkan ibadah yang dilakukan sesama umat, apalagi mudah mem-bid’ah. Sikap yang  begitu itu, menciptakan permusuhan, dan perpecahan umat. “Mosok konco ngrokok ae, dineroko-neroko ake. Makhruh  diharamke, di bid’ahke. Undangan manten di bid’ahke. Padahal Al Qur’an ngajari manusia, ngajari sesama muslim saling mendoakan. Terhadap bukan orang Islam saja, kita lakum dinikum waliyadin,” tuturnya.

Yang memprihatinkan di jaman akhir jaman ini, lanjutnya, banyak orang yang pemahaman  agamanya sempit. Hanya tahu sedikit ilmu agama, merasa sudah berilmu. Padahal ilmu yang dimiliki hanya setetes air. Sedangkan Ilmu  Allah itu sangat luas. Diibaratkan,  seisi bumi dan air laut belum cukup  menulis dan menghitung ilmu Allah.

“Sekarang ini banyak orang bubar pensiun, ngomong ayat-ayat, moco Al Qur’an ora teteh, haram-haramke. Setithik-setithik takon endi ayate. Wong nggawe kopyah ditakokne ayate opo. Wong Yasinan dimasalahkan. Difoto kanggo KTP emoh, jarene haram. Sedikit-sedikit takon ngendi hadist-se. Bendino padu-gelut, perkoro takon endi hadist-se. Coba lampu merah (lalu lintas) iku nggak ada hadist-se, terus dimasalahke, terus dadine lalu lintas koyok opo. Iwak ambune amis, padahal di Qur’an itu iwak amis nggak ada, nggak disebut, terus opo nggak percoyo,” tuturnya.

Menyikapi hal seperti, umat Islam harus belajar memahami Al Qur’an dan Hadist dengan benar. Jangan  baru tahu sedikit, sudah mengharam-haramkan orang, dan digunakan mencari-cari kesalahan orang dalam menjalankan agamanya. Padahal ilmu Islam itu luas dan luwes. Sikap beragama yang berwawasan kebangsaan, toleransi, damai, dan anti kekerasan menjadi kewajiban bagi setiap umat yang hidup dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Sekarang ini banyak orang yang tidak cari kebenaran tapi malah mencari-cari kesalahan,” ujarnya. (*)