21/09/2020

Jadikan yang Terdepan

Jatim Siap Jadi Superkoridor MEA 2015

Gubernur Jawa Timur bersama Ketua PWI JatimSurabaya, KabarGress.com – Provinsi Jatim siap menjadi superkoridor Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015, baik melalui penerapan teknologi informasi (TI) maupun regulasi barrier non tarrif. “Kemampuan untuk menjadi superkoridor ini terus kami asah, hal itu bisa dilihat dari perkembangan ekonomi Jatim yang mampu tumbuh 5,01% lebih cepat dari pertumbuhan ekonomo nasional 4,55%,” ujar Gubernur Jawa Timur Dr. H. Soekarwo atau yang akrab disapa Pakde Karwo saat melakukan soft launching buku yang berjudul “Pintu Gerbang MEA 2015 Harus Dibuka”, pada tanggal 14 Maret di Hotel Mercure, Surabaya, Sabtu (14/3).

Ia mengatakan, MEA membuka koridor baru yang harus dipetik manfaatnya oleh Jatim sesuai dengan visi Pemprov. Jatim 2014-2019. Karenanya, tuntutan untuk menjadi superkoridor adalah tuntutan globalisasi. Selain menjadi basis perdagangan, industri, investasi, dan tenaga kerja ahli, Jatim juga harus membangun regulasi yang bisa memihak pada pelayanan publik

Dijelaskan, upaya-upaya yang dibuat dalam kesiapan menghadapi MEA 2015 diantaranya dengan membangun SMK Mini, membuat 9 kantor perwakilan dagang antar pulau. “Memperkuat Basis Ekonomo di dalam negeri adalah bentuk nasionalisme baru di era perdagangan bebas seperti saat ini,” tegasnya.

Di sisi lain, untuk optimalisasi kinerja urusan perdagangan, pariwisata, dan investasi (PPI) ke luar negri, Jatim membentuk etalase PPI berserta senior advisor-nya di negara Jepang, Swis, China, Korea Selatan dan Belgia.

Upaya lainnya yakni Jatim juga akan segera membangun sistem single window untuk mempermudah sistem control /tracking. Sistem itu nantinya bukan saja mengintegrasikan antar pelabuhan, tetapi untuk semua kontrol barang keluar masuk ke Jatim. “Sistem ini nantinya juga merupakan salah satu bentuk kebijakan untuk membatasi banyaknya barang yang masuk ke Jatim, sekaligus melindungi konsumen lokal,” terang Pakde Karwo.

Mengenai penguasaan bahasa, ia menuturkan, ada beberapa sekolah di bawah kendali pemerintah, yang diberikan subsidi untuk kegiatan kursus bahasa asing. Saat ini Pemprov juga telah menerbitkan surat edaran (SE) untuk penguasaan bahasa arab dan china. “Semua generasi muda utamanya harus mampu menguasai bahasa inggris,” tegasnya.

Kekuatan daya saing Jatim, terangnya, berdasarkan data yang ada mampu memberikan kontribusi terbesar ke-2 se indonesia, setelah DKI Jakarta. Kinerja makro ekonomi jatim jika dilihat dari nilai absolut Produk domestik Regional Bruro (PDRB) memperlihatkan effort kinerja signifikan dari Rp684,22 trilyun tahun 2009 menjadi Rp1.136,33 trilyun.

“Berdasarkan data tersebut Jatim bisa disebut sebagai pusat ekonomi utama di Indonesia Timur,” ungkapnya.

Sedangkap dalam lingkup regional ASEAN, PDRB Jatim teridentifikasi setara dengan 2/3 perekonomian Vietnam. Kinerja ini tentu membanggakan karena percepatan ekonomi jatim terjadi dalam kontraksi ekonomi dunia. “Kinerja perdagangan juga menunjukkan surplus dan selalu menjadi pendorong percepatan pertumbuhan ekonomi.Dengan demikian Jatim layak menjadi tujuan investasi jelang MEA 2015,” tukasnya.

Lebih lanjut disampaikan, saat ini sebagaian besar yang kita import adalah bahan baku. Karenanya jika tujuh smelter sudah selesai dibangun, Jatim akan mampu menguasasi pasar luar negeri. Saat Freeport sudah ada di Gresik maka Jatim akan mempunyai pospat dan dolomit. “Bahan baku penting kita kuasai, maka perjanjian dagang masalah bahan baku antar propinsi akan segera diadakan bertempat di Surabaya,” imbuhnya.

Jika Jatim mampu memanfaatkan pasar bersama yang memiliki jumlah pendukuk lebih dari 600 juta jiwa serta potensi perdagangan intra mapun eksternal ASEAN yang cukup besar, maka jatim merupakan provinsi yang memiliki kekuatan untuk memproduksi barang dan jasa yang kompetitif di pasar bersama ASEAN. “Jatim memiliki penduduk 38 juta lebih dan kekuatan ekonomi tahun 2013 sebesar Rp1.236 trilyun. Karenanya kita harus berusaha optimal mewujudkan Jatim sebagai superkoridor MEA 2015,” katanya.

Terkait penerbitan buku “Pintu Gerbang MEA 2015 Harus Dibuka”, Pakde Karwo menyampaikan, buku itu merupakan agregat kepemimpinannya dalam beragam ruang pandang. Pembuatannya juga melibatkan akademisi, profesional, budayawan-sastrawan dan aktivis dari berbagai wilayah di Indonesia. “Gagasan akademik dan pemikiran kreatif solutif dihimpun baik dengan menggunakan konsep scientific mind, agar bisa digunakan bagi siapa saja yang peduli dengan kemajuan dan kejayaan Bangsa Indonesia,” ujarnya.

Dengan penerbitan buku itu, lanjutnya, ia berharap Jatim dapat memainkan peran sebagai pintu gerbang MEA, untuk masuk dalam ruang jauh yang lebih lagi berupa pencaturan global. Selain itu terbitnya buku itu juga merupakan penanda yang menjadi semangat waga Jatim untuk menghadapi Pasar Bebas ASEAN 2015 yang kompetitif.

“Hal ini membutuhkan perhatian serius dari publik yang menangani bidang industri, jasa, perdagangan, serta seluruh stakeholders agar tidak terlelap dalam lorong MEA 2015,” pesannya.

Di hadapan 60 undangan yang terdiri dari wartawan berbagai media, Pakde Karwo juga melakukan dialog interaktif. Menurutnya, semua kritikan dan saran yang membangun akan menjadi masukan dan evaluasi untuk pembuatan buku jilid selanjutnya.

Turut hadir Ibu Nina Soekarwo yang biasa dipanggil Bude Karwo, Sekdaprov. Jatim Akhmad Sukardi, Asisten IV Setda Prov. Jatim Sukardo, serta beberapa pejabat di lingkup Pemprov. Jatim. (hery)