29/10/2020

Jadikan yang Terdepan

Kanker Serviks Dapat Dicegah dengan Tindakan Preventif dan Promotif

serviksSurabaya, KabarGress.Com – Gubernur Jawa Timur Dr. H. Soekarwo mengatakan bahwa tindakan preventif dan promotif merupakan tindakan yang harus dilakukan untuk meningkatkan taraf hidup, serta untuk mencegah bertambah banyaknya masyarakat yang terkena kanker servix. Karena hal tersebut merupakan salah satu cara pencegahan secara dini, juga murah harganya. “Tetapi dana tindakan preventif dan promotif selama ini tidak tercover dalam anggaran yang ditetapkan oleh pemerintah pusat,” ungkapnya pada acara FGD (Forum Group Discussion) Jatim Darurat KKanker Serviks, di Hotel Santika Premier Jl. Guberng Raya Surabaya, Kamis (5/3).

Oleh karena itu menurut Gubernur yang biasa disapa Pakde Karwo, politisi bidang kesehatan harus mengubah konsep kebijakan politik kesehatan menjadi anggaran kesehatan di tingkat pemerintah pusat. Tindakan preventif dan promotif memerlukan anggaran besar, tetapi selama ini tidak pernah dianggarkan.

“Selama ini pemerintah pusat ingin membangun masyarakat yang sehat, tetapi belanjanya atau dananya tidak tersedia,” ungkapnya lebih lanjut.

Selanjutnya, Pakde Karwo memberikan apresiasi kepada media massa khususnya Harian Surya yang peduli dengan meningkatnya jumlah penderita Kanker Servix, dengan cara memberikan inisiasi kepada masyarakat bagaimana cara hidup sehat. Hari ini tentang Kanker Servix, dilain waktu bisa disosialisasikan penyakit tidak menular lainnya.

Penyakit tidak menular tetapi mematikan dari tahun ke tahun terus meningkat. Menurut Pakde Karwo hal tersebut dapat terjadi karena adanya perubahan gaya hidup (life style) yang dipengaruhi oleh peningkatan ekonomi masyarakat. Misalnya, orang lebih menyukai mengkonsumsi makanan siap saji, junk food. Makanan tersebut sebagai pemicu penyakit yang mematikan. “Saat ini yang berbahaya adalah anak yang mengkonsumsi gizi lebih,” paparnya.

Mengenai RSUD Dr. Soetomo yang mengalami over load pasien, Pakde Karwo mengharapkan agar kepala daerah kabupaten/kota termasuk DPRD kab/kota mampu membuat kebijakan agar sistem rujukan dapat berjalan dengan baik.

Salah satu cara yang dapat dilakukan menurut Pakde Karwo adalah membangun RSUD Dr. Soetomo di Kabupaten Bangkalan. Agar masyarakat Bangkalan mau berobat di RSUD Dr. Soetomo Bangkalan, karena dalam benak masyarakat Bangkalan merasa bahwa mereka sedang berobat di RSUD Dr. Soetomo sebagaimana yang ada di Surabaya.

Sementara itu menurut, dr. Hari Nugroho, Sp.OG, spesialis kandungan yan sekaligus peneliti Kanker Servix RSUD Dr. Soetomo mengatakan bahwa saat ini kanker servix merupakan penyakit mematikan nomor satu di Indonesia. 66,79 persen penderita berusia antara 35 tahun – 54 tahun. Dan sebanyak 44,75 persen sudah mencapai stadium III.

Sedangkan di RSUD Dr. Soetomo mulai Januari – Desember 2014, pasien baru kanker servix sebanyak 842 pasien atau 3 – 4 pasien baru/hari. Terus meningkatnya pasien di Jatim, karena YKI Jatim terus melakukan tindakan promotif di desa-desa dengan mobil deteksi dini kanker servix, sehingga masyarakat mulai berani untuk memeriksakan diri.

“Usia produktif bagi wanita, karena mereka harus mengasuh keluarga yang memerlukan perhatian. Impact socialnya sangat besar,” ungkapnya.

Lebih lanjut dikatakan, menurut data yang ada di Indonesia 17 dari 100.000 penderita kanker servix baru per tahun terdeteksi (20.928 pasien/per tahun). Bisa dikatakan 2,5 pasien tambahan per jam dan 1,1 orang meninggal per jam.

Sedangkan apabila telah mencapai stadium III ke atas, menurutnya tindakan yang dilakukan adalah pasien harus melakukan radioterapi. Dan yang bisa melakukan hanya di RSUD Dr. Soetomo. Karena peralatan sangat terbatas, sehingga si pasien harus menunggu selama lima sampai tujuh bulan. Cara pencegahannya, menurutnya antara lain tidak merokok atau menjauhi orang merokok, menghindari sex dini, menghindari banyak anak, melakukan pap smear, vaksin. Dan yang mengagetkan penderita kanker servix bertambah banyak bukan karena faktor ekonomi, tetapi karena masyarakat masih takut untuk memeriksakan diri. (hery)