02/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Pakde Karwo Berjanji Operasi Pasar Dilakukan Sampai Harga Stabil

Gubernur Jatim Soekarwo bersama Walikota Surabaya Tri  Rismaharini  berdialog dengan pedagang beras saat melakukan  sidak operasi  pasar di Pasar Soponyono Rungkut SurabayaSurabaya, KabarGress.com – Gubernur Jawa Timur, Pakde Karwo berjanji akan terus melakukan operasi pasar (OP) sampai harga beras turun dan kembali stabil. Hal itu disampaikan saat meninjau OP yang dilakukan Pemprov Jatim yang bekerjasama dengan Perum Bulog Divre Jatim di Pasar  Soponyono Rungkut Surabaya, Kamis (5/3).

“OP ini akan terus kami laksanakan sampai harga beras kembali stabil. Khusus OP hari ini,  harga beras medium dijual Rp7300/kg. OP khusus Surabaya telah disiapkan sebanyak 80 ton/hari.,” jelasnya.

Dikatakan, harga beras medium saat ini mencapai Rp9.200/kg dan premium Rp11.050/kg.  Dengan dilakukannya OP di beberapa pasar,  diharapkan harga beras bisa turun di kisaran Rp7.500 – Rp8.000/ kg untuk jenis beras medium, dan Rp8.500 – Rp9.000/kg jenis beras premium. “Meskipun dua hari ini harga telah turun di kisaran Rp300 – Rp500/kg nya, namun, setelah dilakukan OP harga beras menjadi Rp8.700 untuk medium dan Rp10.800 untuk premium,” imbuhnya.

Ia menjelaskan, kenaikan harga beras beberapa pekan terakhir disebabkan terjadinya paceklik selama desember-februari petani tidak panen. Saat paceklik pemerintah harus mensubsidi beras miskin (raskin), namun distribusi raskin dari pusat terlambat. “Keterlambatan distribusi raskin inilah yang menyebabkan kenaikan harga beras,  padahal seharusnya akhir januari raskin harus sudah terdistribusi,” katanya.

Jumlah penerima raskin di Jatim sendiri sebanyak 2, 857 juta Rumah Tangga Sasaran – Penerima Manfaat (RTS-PM) atau setara beras 42 ribu ton/bulan. Stok Bulog Jatim sekarang sebanyak 362.748 ton beras dan cukup untuk 8 bulan ke depan. “Mekanisme OP ini seharusnya juga dilakukan secara nasional,  sedangkan untuk masyarakat miskin disubsidi dengan raskin. Dengan stok beras cukup dan raskin yang memadai,  masyarakat  tidak perlu khawatir akan kekurangan beras,” tuturnya.

Lebih lanjut disampaikan, per akhir Maret, hasil panen di Jatim mencapai 500 ribu Ha atau setara 3,1 juta ton beras. Total hasil panen sebesar 7,8 juta ton/tahun, sedangkan kebutuhan masyarakat hanya 3,8 juta ton/tahun, sehingga ada kelebihan produksi 4,4 – 4,6 juta ton.  Dengan hasil panen itu kebutuhan beras Jatim per akhir maret sangat stabil. Sehingga ketika ada kelebihan stok beras, kita bisa mengirim beras ke Papua, Kalimantan, dan wilayah lainnya. “Ketika harga beras sudah stabil jangan melakukan OP lagi, karena ini bisa menyebabkan harga gabah kering  turun,” tegasnya.

Menurutnya, jatim sebenarnya terkena imbas tingginya harga beras di Jakarta dan luar Jawa sehingga terjadi panic buying  pada masyarakat. Bahkan di Jateng dan Jabar terjadi gagal panen,  sedangkan stok beras Jatim sebenarnya masih cukup. “Khusus Jatim karena stoknya cukup tidak semua daerah mau melakukan OP. Contoh di Jombang, tidak mau melakukan OP karena sedang masa panen,” ujarnya.

Untuk permasalahan pembelian gabah kering panen, Pakde Karwo menyampaikan, gabah kering panen agar tidak dijual saat musim panen karena tidak ada nilai tambah untuk petani. Rata-rata di Jatim gabah kering panen dijual seharga Rp5.275, meskipun harga pembelian petani (HPP) untuk tahun ini belum ditentukan. “Jadi saat musim panen, harga gabah kering panen turun, makan Bulog harus membeli dari petani untuk menstabilkan harga jual gabah kering,” pungkasnya.

Sementara itu, Walikota Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan, Pemkot Surabaya juga melakukan OP khususnya di wilayah-wilayah pinggiran dan tempatnya di Balai RW. Beras yang dijual ke masyarakat saat OP juga beras dari Bulog  dan sampai saat ini sudah mencapai 20 ton beras. Selain itu Pemkot juga menggelar  OP minyak goreng, gula, dan kebutuhan pokok lainnya. “Kita sudah mulai sejak dua minggu lalu, dan sengaja kita tidak melakukan OP di pasar karena saat permintaan di pasar turun maka harga akan turun dengan sendirinya,” tukasnya.

Operasi Pasar di Pasar Soponyono Surabaya

Pemerintah Provinsi Jatim menggelar Operasi Pasar (OP) di Pasar Soponyono Rungkut Surabaya, Kamis (5/3). OP tersebut digelar dalam rangka menstabilkan harga beras dengan bekerjasama dengan Perum BULOG Divre Jatim. “OP ini akan terus kami laksanakan sampai harga beras kembali stabil dan turun. Khusus untuk OP hari ini harga beras medium dijual seharga Rp7.300/kg,” ujar Gubernur Jatim Dr. H. Soekarwo atau yang akrab disapa Pakde Karwo.

Dikatakan, OP khusus Surabaya telah disiapkan sebanya 80 ton/hari. Harga beras medium saat ini adalah Rp9.200/kg dan premium Rp11.050/kg. Dengan dilakukannya OP di beberap pasar sekaligus harga beras harus bisa turun di kisaran Rp7.500 – Rp8.000/ kg untuk jenis beras medium, dan Rp8.500 – Rp9.000/kg untuk jenis beras premium. “Meskipun sejak dua hari ini harga telah turun di kisaran Rp300 – Rp500 per kg nya, seharga Rp8.700 untuk medium dan Rp10.800 untuk premium,” imbuhnya.

Ia menjelaskan, kenaikan harga beras yang terjadi beberapa pekan terakhir ini disebabkan terjadinya paceklik selama desember-februari petani tidak panen. Saat paceklik pemerintah harus mensubsidi beras miskin (raskin), namun distribusi raskin dari pusat telat. “Keterlambatan distribusi raskin inilah yang menyebabkan kenaikan harga beras,  padahal seharusnya akhir januari raskin harus sudah terdistribusi,” katanya.

Ditambahkan, Jumlah penerima raskin di Jatim sendiri sejumlah 2, 857 juta Rumah Tangga Sasaran – Penerima Manfaat (RTS-PM) atau setara beras 42 ribu ton/bulan. Stok Bulog Jatim sekarang sejumlah 362.748 ton beras dan cukup untuk 8 bulan kedepan. “Mekanisme OP ini seharusnya juga dilakukan secara besar-besaran di Jakarta ataupun Jateng, sedangkan untuk masyarakat miskin disubsidi dengan raskin. Dengan stok beras cukup dan raskin yang memadai masyarakat  tidak perlu khawatir akan kekurangan beras,” harapnya.

Lebih lanjut disampaikan, per akhir Maret hasil panen di Jatim mencapai 500 ribu Ha atau setara 3,1 juta ton beras. Total hasil panen di Jatim sebesar 7,8 juta ton/tahun sedangkan kebutuhan masyarakat Jatim hanya 3,8 juta ton/tahun, sehingga ada kelebihan produksi 4,4 – 4,6 juta ton.  Dengan hasil panen itu kebutuhan beras Jatim per akhir maret akan sangat stabil.

“Sehingga ketika ada kelebihan stok beras kita bisa mengirim beras ke Papua, Kalimantan, dan wilayah lainnya. Untuk itu ketika harga beras sudah stabil jangan melakukan OP lagi, karena ini bisa menyebabkan harga gabah kering akan turun,” tegasnya.

Menurutnya, jatim sebenarnya terkena imbas tingginya harga beras di Jakarta dan luar Jawa sehingga terjadi panic buying  pada masyarakat. Bahkan di Jateng dan Jabar terjadi gagal panen, sedangkan stok beras Jatim sebenarnya masih cukup. “Sebab itulah khusus Jatim karena merasa stoknya cukup tidak semua daerah mau melakukan OP, contoh di Jombang tidak mau melakukan OP karena sedang masa panen,” urainya.

Untuk permasalahan pembelian gabah kering panen Pakde Karwo menyampaikan, gabah kering panen tidak dijual saat musim panen karena tidak ada nilai tambah untuk petani. Rata-rata di Jatim gabah kering panen dijual seharga Rp5.275, meskipun HPP untuk tahun ini belum ditentukan. “Jadi saat musim panen harga gabah kering panen turun, makan BULOG harus membeli dari petani untuk menstabilkan harga jual gabah kering,” pungkasnya.

Sementara itu, ditemui di tempat yang sama Walikota Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan, Pemkot Surabaya juga melakukan OP khususnya di wilayah-wilayah pinggiran dan tempatnya di Balai RW. Beras yang dijual ke masyarakat saat OP juga beras dari BULOG, dan sampai saat ini sudah mencapai 20 ton beras. Sselain itu Pemkot juga menggelar  OP minyak goreng, gula, dan kebutuhan pokok lainnya. “Kita sudah mulai sejak dua minggu lalu, dan sengaja kita tidak melakukan OP di pasar karena saat permintaan di pasar turun maka harga akan turun dengan sendirinya,” tukas Risma. (hery)