02/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Surabaya Heritage Track; Lunar Track – The Pagoda of Surabaya

* Menelusuri Jejak Klenteng dan Budaya Masyarakat Tionghoa

Surabaya, KabarGress.Com – Perkembangan masyarakat Tionghoa di Surabaya tidak akan jauh dari berbagai tradisi yang dibawa oleh nenek moyang yang kemudian terus tumbuh dan berkembang. Salah satu tradisi yang masih eksis hingga kini adalah perayaan Hari Raya Imlek, atau juga dikenal sebagai Tahun Baru Cina. Sebuah tradisi yang biasanya dikaitkan dengan berkumpulnya keluarga besar serta berdoa ke klenteng.

Di Surabaya klenteng awalnya digunakan sebagai tempat untuk menghormati Makcho, dewa pelindung para pelaut dan nelayan dari Cina ketika berdagang di sekitar pesisir pulau Jawa pada abad ke 14.

Klenteng mengalami perubahan yang signifikan dan bahkan terancam ditutup ketika ada pemberlakuan peraturan pemerintah di tahun 1965 tentang pelarangan kebudayaan termasuk kepercayaan tradisonal Tionghoa. Akibatnya banyak klenteng yang kemudian mengadopsi nama dari bahasa Sanskerta atau bahasa Pali dan mengubah nama sebagai vihara serta mencatatkan surat izin dalam naungan agama Buddha demi kelangsungan peribadatan dan kepemilikan. Setelah Hari Raya Imlek diakui di tahun 2002, klenteng pun mengganti nama kembali seperti nama semula. Sedangkan vihara tetap pada fungsinya sebagai tempat peribadatan umat Buddha.

Melalui program tematik tur Surabaya Heritage Track (SHT) ‘Lunar Track’ yang diadakan selama tanggal 17 Februari – 15 Maret 2015, trackers diajak untuk mengunjungi berbagai klenteng, seperti Klenteng peribadatan Khonghucu yaitu Klenteng Boen Bio, yang merupakan satu-satunya klenteng sastra Tionghoa di Indonesia dan Klenteng Pak Kik Bio pada hari Selasa dan Rabu. Pada hari Kamis dan Jum’at trackers akan mengunjungi Klenteng Peribadatan Tri Dharma (Taoisme, Konghuchu dan Buddha) yaitu Klenteng Hok An Kiong yang merupakan klenteng tertua di Surabaya dan Klenteng Sam Poo Tay Djhien yang memiliki peninggalan kayu dari kapal Laksamana Cheng Ho, sedang pada hari Sabtu dan Minggu akan mengunjungi Klenteng Hong San Koo Tee dan Jun Cin Kiung.

Tur tematik SHT diselenggarakan pada periode-periode tertentu guna memperkenalkan sejarah Surabaya serta berbagai bangunan kuno namun memiliki nilai sejarah tinggi. Tur SHT dapat dinikmati oleh wisatawan secara cuma-cuma. Melalui berbagai tur SHT tracker tak hanya dapat menikmati berbagai bangunan cagar budaya, namun juga mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru.

Tematik Tur : “Lunar Track”

Jadwal Tur : Selasa s/d Minggu, 17 Februari – 15 Maret 2015

Rute

Hari Selasa – Rabu Waktu : 15:00 – 16:30 WIB

Tema: Kehidupan masyarakat Tionghoa di Surabaya

HoS – Klenteng Boen Bio – Klenteng Pak Kik Bio – HoS

Rute

Hari Kamis – Jum’at Waktu : 15:00 – 16:30 WIB

Tema: Sejarah dan distorsi Imlek bagi masyarakat Tionghoa di Surabaya

HoS – Klenteng Sam Poo Tay Djhien (Mbah Ratu) – Klenteng Hok An Kiong – HoS

Rute

Hari Sabtu – Minggu Waktu : 15:00 – 16:30 WIB

Tema: Keterkaitan antara Pecinan dan Klenteng sebagai bukti eksistensi masyarakat Tionghoa di

Surabaya

HoS – Klenteng Hong San Koo Tee – Klenteng Jun Cin Kiung – HoS

Materi Cerita:

• Klenteng Boen Bio

Dibangun pada tahun 1882, Klenteng berarsitektur Tiongkok, Belanda dan Jawa ini merupakan klenteng sastra Tionghoa yang hanya ada satu di Indonesia. Keunikan dari klenteng ini yaitu tidak ditemuinya Kiemsin (patung) di dalam altar, hanya terdapat Shinci (papan arwah) sebanyak 145 buah di dalam klenteng ini, yaitu shinci nabi Khongcu beserta murid dan pengikutnya.

Selain itu, di atas ruang latar terdapat plakat asli dari Kaisar Kuang Ji yang bertuliskan Sen Diau Nan Cing yang artinya ajaran Khonghucu berkumandang hingga ke Selatan Tiongkok. Klenteng ini mengajarkan tentang ajaran Konfusius. Seperti terlihat dengan adanya patung Konfusius dimana patung tersebut hanya ada di 50 negara, dan di Indonesia ini yang memilikinya hanya di Surabaya.

• Klenteng Pak Kik Bio

Klenteng Pak Kik Bio atau yang disebut juga Klenteng Jagalan dibangun pada 8 April 1951 dan diresmikan pada 17 Juni 1952. Klenteng Pak Kik Bio terlihat unik dengan adanya serambi menjorok ke depan yang mengandung filosofi untuk menyambut berkah. Di klenteng ini terdapat sebuah genta yang berada di dekat dinding berlambang Patkwa dan Yin-Yang. Genta dalam kepercayaan Konghucu melambangkan suluh kehidupan, serta dibunyikan sebagai tanda berkumpul dan siap melaksanakan upacara keagamaan. Terdapat pula Patkwa, sebuah simbol yang diperkenalkan oleh Kaisar Fu Hsi (2582 SM) dengan garis-garis lurus tanpa putus (Yang I, simbol maskulin) dan garis-garis patah dua (Yin I, simbol feminin), di dalam sebuah segi delapan yang menggambarkan delapan situasi kehidupan, yaitu perkawinan, ketenaran, kekuasaan, keluarga, pengetahuan, karir, orang-orang berguna, dan anak-anak.

• Klenteng Sam Poo Tay Djhien

Kelenteng Sam Poo Tay Djien yang terletak di Jalan Demak mulai dipergunakan sebagai kelenteng pada tahun 1935. Klenteng ini merupakan tempat peribadatan Tri Dharma (Taoisme, Konghuchu dan Buddha). Setelah ekspedisi Cheng Ho, masyarakat menemukan kayu yang dipercaya sebagai bagian kapal Cheng Ho. Kayu tersebut beberapa kali dihanyutkan ke laut tetapi selalu kembali ke daratan. Akhirnya masyarakat mendirikan kelenteng ini sebagai penghormatan kepada Cheng Ho. Laksamana Cheng Ho merupakan kasim dari Tiongkok yang melakukan ekspedisi ke selatan. Pada tahun 1414 Laksamana Zeng Ho mengadakan ekspedisi ke Pulau Jawa. Perahunya hancur di Pelabuhan Holandper (Tanjung Perak).

• Klenteng Hok An Kiong

Klenteng tertua di Surabaya yang dibangun sejak tahun 1830. Awalnya, tempat beribadah umat Tri Dharma ini merupakan tempat persinggahan bagi pendatang dari Tiongkok. Umumnya, mereka datang dengan membawa serta patung Makcho, dewi pelindung para pelaut dan nelayan, untuk disembahyangi di lokasi persinggahan. Lambat laun kawasan ini berkembang menjadi pemukiman sehingga dirasa perlu untuk membangun sebuah klenteng sebagai tempat ibadah dan penghormatan kepada Makcho atau Ma Cou Po.

• Klenteng Hong San Koo Tee

Dibangun pada 24 September 1919 oleh Jap Liang Sing, klenteng ini merupakan tempat peribadatan bagi umat Tri Dharma (Taoisme, Konghuchu dan Budha). Yang menarik dari klenteng ini adalah adanya altar khusus untuk memuja Dewi Sri yang merupakan dewi padi bagi masyarakat jawa penganut kejawen. Asal muasal dari dibangunnya altar Dewi Sri ini adalah ditemukannya arca Dewi Sri di areal klenteng saat pembangunan berlangsung.

• Klenteng Jun Cin Kiung

Klenteng ini merupakan klenteng keluarga yang dibangun pada tahun 1950 dan tempat ibadah umat Tridharma. Didalam klenteng ini terdapat patung utama yaitu patung Dewi Kwan Im, dewi penyayang. Sembahyang yang dilakukan di klenteng ini adalah sembahyang Yam King. Sembahyang Yam King ini merupakan sembahyang dengan menggunakan bahasa Tionghoa yang dilakukan setiap hari pertama dan hari ke 15 di bulan China. Banyak dari jemaat Khonghucu yang meminta air suci di klenteng ini. Bagi yang percaya, konon air suci yang diberikan bisa mengobati penyakit apa saja. (ro)