20/09/2020

Jadikan yang Terdepan

NU – Muhammadiyah – MTA – HTI Ojok Gontok-gontokan!

KH Ahmad Qomarijamaah pengajianNgawi, KabarGress.Com – Menghadapi gelombang jaman yang ‘mengerikan’ ini, seharusnya antar umat Islam ataupun antar kelompok organisasi Islam jangan gontok-gontokan. Sudah waktunya umat Islam bersatu menghadapi berbagai ancaman terhadap perpecahan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Umat di NU, Muhammadiyah, HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), MTA (Majelis Tafsir Al Qur’an) dan lainnya, nggak boleh ngelok-ngelokne. Nggak boleh mengkafir-kafirkan. Peziarah kubur yo nggak usah diolok-olok. Jaga kerukunan dan keutuhan umat dan bangsa,” kata KH Ahmad Qomari, di acara tasyakuran panen masa tanam 2014 digelar Yayasan Pemeliharaan dan Perluasan Wakaf Pondok Pesantren Modern Gontor, Sambirejo Mantingan Ngawi, akhir pekan (31/1).

Kiai asal Kedunggalar Ngawi ini mengingatkan, untuk tidak mempersoalkan perbedaan tentang ibadah. Jadikan perbedaan itu sebagai pengikat silaturahmi. Saling menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan masing-masing. “Jangan rembugan soal paham dengan temannya yang tidak sama, agar tidak timbul saling ngelok-ngeloke,“ ujar kyai sering membuat terpingkal-pingkal jamaah yang hadir.

Yang memprihatinkan, lanjut Kiai Qomari, jika dalam kehidupan sehari-hari, sesama umat atau antar umat saling olok-olok, saling fitnah-memfitnah. Sikap atau perbuatan itu harus dibuang jauh oleh umat. Perbuatan memfitnah, olok-mengolok, perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah. “Rukun dalam bermasyarakat. Keluarga harus rukun,” tuturnya.

Menyikapi situasi jaman yang serba modern dengan pergaulan begitu bebas, menurut Qomari, anak-anak sebagai generasi penerus agama dan penerus bangsa, harus dibentengi dengan agama. Orang tua wajib mendidik anaknya dengan agama agar anak tidak keblinger. Orangtua wajib memberi ilmu. Bukan malah memberi harta.

“Coba kita lihat pengaruh narkoba, jaringannya sudah banyak menghancurkan mental anak muda. Anak-anak wajib dipageri agama, anak-anak harus pintar agama, paham agama, bukan pintar berdalil. Paham agama artinya bertindak apa yang ada di ilmu agama. Nindake ilmu agama,” katanya.

Islam mengajarkan agar umat bekerja keras mencari harta banyak. Tetapi kerja keras itu untuk mendekatkan diri pada Allah. Jangan sampai memandang dunia sebagai alat untuk menumpuk harta. Itu sama saja rakus. “Cari harta sebagai alat untuk mendekatkan diri pada Allah. Manfaatkan rejeki itu dengan baik, untuk amal ibadah,” ujar Qomari.

Dia mengingatkan, agar umat tidak melupakan atau meninggalkan para ulama dalam segala kehidupan.”Dekatlah dengan kyai, dekat dengan ulama agar berkah tetap turun. Presiden Jokowi arep mbangun Indonesia kayak apa, kalau berkah dicabut mau apa. Jika berkah dicabut maka Allah akan memberi pemimpin yang dholim,” tuturnya.

Terkait dengan panen, Qomari memberi jurus untuk meningkatkan hasil panen. Jurusnya, petani harus terus menerus sholat, menyukuri hasil panen dengan meningkatkan amal ibadah. “Kalau itu dikerjakan panen akan datang dipastikan meningkat, Wereng-wereng podo lungo. Hasilnya membawa berkah dan kemenangan,” tandasnya. (har)

Teks foto: KH Ahmad Qomari dan jamaah yang hadir.