25/01/2021

Jadikan yang Terdepan

“Legenda Cinta Nusantara” Keragaman Legenda Cinta Nusantara dalam Goresan Kanvas

Legenda Cinta Nusantara - Keragaman Legenda Cinta Nusantara dalam Goresan KanvasHOS SampoernaSurabaya, KabarGress.Com – Sebagai sebuah bangsa yang majemuk yang terdiri dari berbagai suku dan etnis, Indonesia kaya akan keberagaman cerita rakyat yang tumbuh dalam keseharian hidup masyarakat. Romantisme seberang lautan yang dirasa lebih puitis dan melankolis, turut menenggelamkan legenda yang juga merupakan warisan serta cermin nilai-nilai budaya kita. House of Sampoerna (HoS) mengajak Komunitas Brush 7+ untuk mengangkat kisah kasih yang diceritakan para pujangga dalam sebuah pameran yang bertajuk ”Legenda Cinta Nusantara”, yang digelar mulai tanggal 30 Januari – 28 Februari 2015 di Galeri Seni HoS.

Keinginan untuk mempopulerkan kembali legenda cinta rakyat yang sarat akan pesan-pesan moral, meningkatkan semangat para seniman untuk menggali cerita dan melimpahkan kreatifitas yang tertuang dalam berbagai karya. Delapan seniman dari berbagai kota di Indonesia berhasil mengemas berbagai tokoh imajiner daerah ke dalam karya visual yang tak kalah romantis dengan cerita dibaliknya hingga terlahir 25 karya seni untuk menarik kembali ingatan dan memori masyarakat akan keindahan cerita rakyat Indonesia.

Dalam karya lukis Syis Paindow sang pejuang Arjuna yang memiliki 15 istri digambarkan dalam sosok pria membawa panah dan bunga sebagai gambaran ‘Arjuna Mencari Cinta’. Legenda lainnya adalah ‘Roro Jonggrang’ yang menjadi tokoh dibalik berdirinya Candi Prambanan tergantikan oleh perempuan masa kini yang lebih menuntut kemewahan, seperti yang dihadirkan oleh Ghany Leo. Ponk-Q, dengan gaya pop-art menorehkan warna terang pink diatas kanvas mengangkat cerita ‘Adventure Rama Sinta’ di atas sebuah perahu. Tidak kalah dengan ke-3 rekannya, Lima seniman lain turut menuangkan imaji cinta kelokalan dalam bentuk drawing, Ilustrasi dan grafis yang tak kalah apik dan penuh dengan misteri cinta.

“Legenda Cinta Nusantara” merupakan pameran pertama komunitas Brush 7+. Awalnya, komunitas yang beranggotakan 3 orang dan dikenal sebagai Brush #3 yakni Jono Sugiartono, Ponk-Q dan Syis Paindow, berkembang dengan bergabungnya personil baru dari berbagai daerah seperti Jakarta, Jambi, Makasar, Ciamis, sehingga terbentuk komunitas Brush 7+ untuk dapat memenuhi tantangan HoS dalam ajang kali ini.

Adapun Arifin Yasonas, Fitrajaya Nusananta, Hendrikus David Arie, Tomy Faisal Alim yang turut bergabung untuk menghasilkan karya yang dapat dinikmati hingga akhir bulan Februari. “Kesempatan yang diberikan House of Sampoerna pada pameran kali ini memberikan wawasan baru bagi kami dalam berkarya karena kami tidak hanya dituntut melakukan penelitian sebelum menuangkannya, namun juga manfaat yang bisa dirasakan oleh masyarakat karena nilai edukasi yang terkandung di setiap karya kami” tutur Syis Paindow selaku koordinator pameran ini.

“Pameran ini juga merupakan tantangan bagi kami agar masyarakat dapat belajar menghargai karya seni, dan juga para seniman yang berjuang dibaliknya, seperti kami” tambah Syis. (ro)