29/10/2020

Jadikan yang Terdepan

Hailbent, Alat Bantu Pembersihan Bahan Bakar di Laut

Hailbent, Alat Bantu Pembersihan Bahan Bakar di LautSurabaya, KabarGress.Com – Heilbent adalah inovasi dari Angelina Natasya Angdika, mahasiswa Program Studi Desain Manajemen Produk Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya. Heilbent merupakan alat bantu membersihkan tumpahan minyak di laut.  Alat ini akan dipublikasi pada Rabu, 21 Januari 2015 pukul 10.00-12.00 di Seminar Room lantai 1 Gedung International kampus Tenggilis Universitas Surabaya.

Heilbent merupakan pemenuhan tugas PDP (Project Desain Produk) 3 yang tahun ini bertema bencana. Heilbent dibuat untuk menjawab solusi nelayan/petugas laut untuk membersihkan tumpahan bahan bakar (minyak) dengan lebih cepat dan praktis. Ide awal bermula ketika mahasiswa yang tinggal dikawasan Manyar ini mengetahui  tumpahan bahan bakar kapal di Teluk Mexico beberapa tahun lalu. Angel kemudian mulai googling terkait proses pembersihan minyak di laut. Sementara ini, nelayan atau kelompok pecinta alam menggunakan alat manual untuk mengambil tumpahan minyak di laut. Hal ini dibenarkan Bram salah satu anggota komunitas Pecinta Alam Tunas Hijau saat ditemui di Kawasan Surabaya Timur. “Namun jika terjadinya tumpahan minyak di kilang pertamina, petugas menggunakan bahan kimia, import itu,” ungkap gadis kelahiran 1994.

Heilbent dirancang untuk penggunakan skala kecil. Bahan dasar heilbent adalah rambut manusia. Bahan dasar ini pula Angelina terispirasi saat masih di bangku sekolah dalam pelajaran biologi. “ Guru saya pernah mengatakan kalau kamu tidak keramas berhari – hari maka rambut akan berminyak, dari conth nyata itu berarti dapat disimpulkan kalau rambut dapat menyerap minyak”, ungkap anak pertama dari 2 bersaudara.

Rambut yang dikumpulkan dari 5 salon ini dimasukkan ke dalam kain bernama spanboom. Jenis kain ringan yang tidak menyerap air namun membantu rambut bekerja maksimal menyerap tumpahan minya. Spanboom sengaja dipilih warna yang mencolok supaya ketika ada bencana di tengah laut dan gelap, dapat membantu proses aplikasinya dan begitu pusa saat dimasukkan air laut, nelayan atau petugas mudah memantau keberadaannya.

Cara kerja heilbent dengan memasukkan ke dalam tumpahan minyak kemudian menggunakan tali ditarik sesuai sebaran minyak di laut. Setelah itu, heilbent diperas menggunakan dengan menggulungnya dengan formasi tertentu ke dalam roller yang terbuat dari fiber  glass. Kelemahan heilbent ini bahan spanboom hanya bisa digunakan sekali saja, sehingga ketika terjadi bencana tumpahnya bahan bakar minyak, nelayan harus membelinya lagi.

Prototype ini dibuat untuk memenuhi kebutuhan tuga PDP 3 (Projek Desain Produk 3) dengan tema bencana. “Inovasi Angelina sangat tinggi dan aplikatif sehingga dapat menjawab kebutuhan kapal kapal SAR dan NGO lingkungan seperto Greenpeace,” ungkap Kumara Sadana M.A selaku dosen pembimbing. (ro)