02/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Siswi SD Banyu Urip Alami Pelecehan Seksual

Surabaya, KabarGress.Com – Anggota Komisi D DPRD Surabaya mendatangi SD Banyu Urip 3,4 dan 8 di Jalan Banyu Urip Kidul IV, Rabu (7/1/2015). Tiga legeslator komisi yang membidangi kesejahteraan rakyat tersebut adalah Baktiono, Budi Leksono dan Sugito.

Kedatangan di SD ‘komplek’ tersebut untuk memfollowup laporan dari salah satu orangtua murid yang tidak terima anaknya diduga mengalami pelecehan seksual saat mengikuti kegiatan liburan tengah semester. Yakni kegiatan outbound di kawasan Prambon Sidoarjo.

Peristiwa tersebut bermula pada 9 Desember lalu, SD Banyu Urip ‘kompleks’ menggelar acara outbound dengan diikuti seluruh siswa dan siswi kelas 5 serta 6. Outbound dilakukan di kawasan Prambon Sidoarjo.

Salah satu kegiatan outbound adalah flying fox. Ketika flying fox itulah menurut laporan beberapa siswi, salah satu operator flying fox saat melakukan tugasnya seolah-olah memegang bagian sensitif siswi-siswi. Hal itu membuat para siswi gerah dan kemudian melaporkan hal itu ke gurunya.

“Pada saat itu kami langsung panggil pihak pengelolanya dan kami komplain. Kemudian dari pihak pengelola langsung minta maaf saat itu juga, ” ujar Kasek SD 8, Banyu Urip, Indriyati.

Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Baktiono mengatakan, beberapa waktu yang lalu pihaknya menerima laporan dari salah satu wali murid di kawasan Banyu Urip. Wali murid tersebut melaporkan bahwa anaknya merasa diperlakukan tidak senonoh saat mengikuti outbond pihak sekolah di Prambon.

“Salah satu orang tua murid sempat ke sekolah untuk menanyakan hal itu, tapi tidak puas. Selanjutnya melaporkan ke kita,” jelas Baktiono.

Berbekal laporan tersebut, ketiga anggota Komisi D lantas ‘terjun’ ke SD Banyu Urip ‘kompleks’ untuk mengetahui penjelasan secara langsung dari pihak sekolah. Namun, ternyata kepala sekolah SD Banyu Urip mengatkan beres.

“Salah satu orangtua siswa tidak terima karena pihak outbound hanya minta maaf ke pihak sekolah. Tidak minta maaf langsung ke pihak siswa atau orangtua siswa,” papar Baktiono.

Baktiono menegaskan, pihaknya meminta kepada Kasek untuk melaporkan hal tersebut ke Dispendik. Dengan harapan agar hal tersebut tidak terjadi lagi di sekolah lain. “Biar Dispendik menindaklanjuti dan  tidak terulang lagi di sekolah lain. Karena sampai ada  siswa  yang trauma akibat kejadian itu,” tutur Baktiono. (Tur)