02/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Tahun 2015, Hati-hati yang Rakus Harta, Tahta dan Wanita

Ki Lawu MaospatiMemasuki gerbang tahun 2015, alam telah menunjukkan kekuatannya. Banjir di sejumlah belahan dunia. Termasuk di  berbagai wilayah di Indonesia. Bencana longsor Banjarnegara Jawa Tengah merenggut puluhan nyawa manusia. Pesawat Air Asia terjun di laut wilayah Kalimantan Tengah. Bencana lain terus mengancam kehidupan manusia. Harapannya, manusia terhindar dari bencana-bencana, hingga menelan korban jiwa. Terus bagaimana prediksi tahun 2015, dari sisi perhitungan penanggalan Jawa?

Menurut Ki Lawu Maospati, paranormal asal Maospati Magetan, dalam perhitungan penanggalan Jawa Tahun baru 2015, 1 Januari 2015, bertepatan pada hari Kemis kliwon ( Kamis kliwon), Kemis Kliwon, hari dan pasaran berjumlah 16 (Kemis= 8, Kliwon= 8). Artinya Kemis adalah cangkem lamis. Dalam hal ini terjadi penipuan karena orang cenderung gampang percaya dengan ucapan yang manis-manis atau rayuan-rayuan yang membuat orang terbius dengan pesona–pesonanya.

Kliwon, lanjut paranormal yang punya nama asli Edi Ristiono, artinya awon (buruk). Meskipun orang dengan memberi bumbu-bumbu kata-kata yang manis, tetap saja keburukan tidak bisa ditutup–ditutupi. “Jadi tahun 2015 ini, orang harus hati-hati dan waspada, karena orang lebih suka mengumbar janji-janji manis. Memberi angin surga kepada orang lain, dengan tujuan mencari keuntungan, mencari wah di masyarakat. Orang hanya ingin dipuji-puji,” tutur Ki Lawu yang juga penulis ini.

Dijelaskan, Kemis kliwon dalam perhitungan uthak-athik gathuk ketiban 16. Masuk dalam hitungan pati (kematian). Jadi tahun 2015 banyaklah orang mati karena cuaca ataupun bencana, karena dalam perhitungan Jawa berdasarkan perhitungan anasir alam,  jatuh pada perhitungan AIR.  Sifat air akan mengalir dari yang tinggi ke daratan yang lebih rendah. Dalam hal ini sifat air akan menempati tempat-tempat yang dalam.

“Secara alam, hati-hati banyak air yuang melimpah. Dalam hal ini sifat air dalam keilmuan Jawa disimbolkan warna kuning, merupakan simbol harta tahta dan wanita. Dalam hal ini banyak terjadi perselingkuhan. Sebab itu, keimanan dan kesetiaan harus kita perkuat,”  kata Ki Lawu mengingatkan.

Dalam perhitungan Jawa, Kemis-kliwon (16), jatuh pada ASAT. Dalam penjabarannya, ASAT atau kering melambangkan bahwa setelah diguyur hujan di musim hujan yang menyebabkan banjir dimana-mana. Musim kemarau dan dalam perhitungan SAT, maka akan terjadi kemarau panjang dan cuaca panas. “Sehingga masalah kekeringan air akan menjadi masalah yang besar, air menjadi barang berharga,” ujarnya.

ASAT, di dalam perekonomian melambangkan rakyat hidup bertambah sulit, ekonomi sulit. Sedangkan seseorang hidup semata-mata duniawi, bakal selalu rakus dengan harta, tahta dan wanita. Perilaku itu sudah ditunjukan orang-orang yang  kesandung kasus-kasus. Mereka yang haus pada harta, tatah dan wanita, maka pada waktunya bakal ditumpas oleh alam dan Tuhan Yang Maha Kuasa.

“Pada dasarnya, kita sebagai manusia hanya bisa menjangkau atau mengira-ngira, memprediksi. Sedangkan kekuasaan  Alloh adalah mutlak semu kembali kepada Alloh. Dengan dengan menjangkau tahun akan datang, kita bisa mengukur diri kita sendiri, kita bisa mawas diri,” tutur Ki Lawu. (gie)