15/01/2021

Jadikan yang Terdepan

Banjir Hantui Kota Surabaya

banjirSurabaya, KabarGress.Com – Bencana banjir pada musim penghujan tahun ini tampaknya bakal menghantui Kota Surabaya. Hal ini diakibatkan rendahnya serapan anggaran di Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Pematusan (DPUBMP) Kota Surabaya sangat rendah. Tak hanya itu, lelang proyek pengerjaan saluran air dan box culvert baru digelar Juli-Agustus.

Anggota Komisi C DPRD Kota Surabaya, Vinsensius mengatakan, lantaran target yang ditetapkan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya sangat mepet, banyak kontraktor yang tidak bersedia mengikuti tender. Namun, ada juga sejumlah kontraktor yang ikut tender dan berhasil menang. Sayangnya, target pengerjaan yang ditetapkan, tidak terpenuhi.

Pemkot sendiri sudah mengalokasikan dana untuk antisipasi banjir dan juga pemeliharaan saluran air. Sayangnya, anggaran yang dialokasikan serapannya sangat minim. Rata-rata hanya sekitar 40%. “Logikanya, kalau serapan anggaran untuk proyek saluran air maupun pemeliharaan drainase minim, maka Pemkot tidak akan mampu tangani banjir,” katanya.

Serta, banyak proyek saluran air yang tidak tuntas, kata dia, maka bisa dipastikan aliran air akan terhambat. Inilah yang bisa mengakibatkan genangan air yang berujung pada banjir. Contohnya, di saluran air di kali Darmo Permai. Aliran air di kawasan air mengarah ke Tandes. Di Tandes sendiri saat ini sedang pengerjaan box culvert. “Hal ini menjadi serba salah. Kalau dibuka, maka akan mengganggu pengerjaan box culvert. Jika tidak dibuka, saat hujan deras bisa dipastikan Darmo Permai akan banjir,” terangnya.

Diketahui, pada 2014, Pemkot Surabaya mengalokasikan anggaran untuk proyek pengerjaan saluran air sebesar Rp62,5 miliar. Tapi hanya terserap sebesar Rp12,7 miliar. Sedangkan untuk pengadaan sarana dan prasarana pematusan, dari anggaran Rp73, 4 miliar hanya terserap Rp28,5 miliar. Total anggaran di DPUBMP Kota Surabaya sebesar Rp1,17 triliun.

Tapi, hingga Oktober, penyerapannya hanya sebesar Rp316 miliar. Artinya, penyerapan anggaran hanya 27%. “Akibat lemahnya peran dan fungsi dinas ini, maka banjir bisa saja terjadi di sejumlah kawasan di Surabaya. Terutama Surabaya barat. Seringkali alasan pemerintah kenapa anggaran tidak bisa terserap maksimal, karena sulitnya pembebasan lahan,” ujar Awey, panggilan Vinsensius.

Sementara itu, selama reses anggota DPRD Kota Surabaya menemukan sebanyak 800 dari 1.500 titik proyek penyediaan sarana dan prasana belum rampung. Total nilai proyek tersebut mencapai Rp100 miliar. Proyek infrastruktur itu berupa pavingisasi dan saluran air. Proyek pavingisasi dan saluran tersebut masuk anggaran 2014.

“Yang menyedihkan, tiap tahun penyerapan anggaran di dinas PU terus menurun. Tahun lalu, penyerapan sekitar 70%. Saat ini turun menjadi 54%,” ujar Ketua DPRD Kota Surabaya, Armuji. (tur)