03/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Pakde Karwo: Spiritual Jadi Basis Pembangunan Bangsa

Pakde Karwo- Spiritual Jadi Basis Pembangunan BangsaSurabaya, KabarGress.com – Spritual menjadi basis penting dalam pembangunan bangsa, karena nilai spritual melebihi makna kultural. Selain itu spiritual juga menjadi dasar dalam menjamin kehidupan kesejahteraan manusia.

“Di Jatim bukan hanya kultural tapi spiritual yang menjadi dasar pembangunan bangsa. Jangan pernah ada pikiran bahwa kesejahateraan akan tercipta jika tidak didukung oleh spiritual yang kuat,” terang Gubernur Jatim Dr. H. Soekarwo saat membuka Temu Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat Provinsi Jatim Tahun 2014 di Balai Kartika, Surabaya, Selasa (11/11).

Ia menerangkan, selain berdasarkan spiritual kesejahteraan suatu bangsa tidak akan bisa diperbaikijika Polri dan TNI tidak dibantu oleh masyarakat. Jika kesejahteraan sudah diperoleh, maka akan tercipta keamanan dan kenyamanan. Karenanya kerukunan antar umat beragama harus selalu dijaga untuk mempertahankan keamanan.

Ditambahkan, seorang profesor dari Osaka mempunyai teori bahwa orang Jepang adalah keturanan Indonesia, hanya untuk memperjelas bahwa mereka bukan keturunan Cina. Teori tersebut membuktikan bahwa debat kultur bisa memperkuat pengetahuanbangsa, apalagi jika dilandasi dengan spiritual. “Akansemakin sejahtera jika silaturahim antar umat beragama semakin diperkuat,” imbuh Pakde Karwo sapaan lekat Gubernur.

Dalam hal penyebaran agama islam di Indonesia, lanjutnya, Walisongo membuat konsep “islam indonesia” bukan “islam di Indonesia”, karena ada akulturasi budaya dengan islam. Maka bisa dikatakan proses pengislaman di Indonesia merupakan penyatuan antara budaya dan agama. “Jika ada yang mau menulis mengenai konsep spiritual di Jatim, saya yakin akan menjadi referensi baru untuk seluruh dunia,” tegasnya.

Lebih lanjut disampaikan, premis dasar pemikiran pedoman etika kehidupan beragama antara lain pluralitas sebagai corak sosiologis masyarakat, perbedaan sebagai realitas kehidupan. Selanjutnya kebebasan beragama adalah hak asasi manusia, kerukunan hidup beragama merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat, dan kebebasan individu dan kelompok tidak mengganggu kebebasan orang lain atau kelompok lain.

Peran strategis Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) diantaranya sebagai rujukan tentang kerukunan, netral dalam penanganan persoalan masyarakat, mediator dalam perselisihan. Selain itu juga sebagai juru bicara kepentingan semua agama serta wibawa dan bijak dalam tindakan. “Karenanya anggota FKUB adalah pemimpin ormas keagamaan dan tidak boleh menjadi anggota partai politik. Menjadi anggota FKUB sekaligus menjadi rujukan seluruh FKUB di Indonesia timur,” lanjutnya.

Dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015, FKUB menjadi inti dari forum yang memperjuangkan kerukunan antar umat beragama. “Dimungkinkan nanti ada ustadz/pemuka agama dari luar negri, tapi tentu saja harus memenuhi semua standart-satndart yang ada,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua FKUB Provinsi Jatim Endro Siswantoro menyampaikan, Tema yang diangkat dalam acara Temu Agama dan Tokoh Masyarakat prov. Jatim Tahun 2014 adalah “Merajut Kerukunan Umat Beragama Pasca Tahun Politik 2014, Guna Mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan”.

Dijelaskan, tujuan kegiatan diantaranya untukmempertemukan tokoh agama dan tokoh masyarakat dan mengetahui hasil pembanguna selama pemerintahan Gubernur Jatim Tahun 2011 – 2014, sekaligus untuk mengetahui rencana pembangunan Tahun 2014 – 2019 dan mencari solusi atas konflik yang terjadi pasca Pileg dan Pilres 2014.

“Dalam pertemuan itu juga mengangkat keragaman budaya lokal, contohnya melalui tampilan Barongsai dari agama Konghucu, Seni Hadrah dari agama Islam, Tari Cendrawasih dari Agama Hindu, dan Tari Seribu Bulan dari Agama Budha,” terangnya.

FKUB Kabupaten/Kota Provinsi Jatim telah mampu menyelesaikan Pedoman Etika Kerukunan Antar Umat Beragama di Jatim yang menjadi acuan moral dalam berpikir, bertindak dan berkomunikasi sesama umat beragama di tengah-tengah masyarakat. Pedoman itu merupakan kesepakatan para pemimpin Majelis-Majelis Agama yang tergabung dalam FKUB Jatim. “Kami telah melakukan sosialisasi kepada Majelis-Majelis Agama tingkat Provinsi Jatim misalnya MUI, KWI< PGI, PHDI, WALUBI, dan MATAKIN,” imbuhnya.

Narasumber dalam acara tersebut yaitu Pangdam V Brawijaya Eko Wiratmoko dan Kajati Jatim Elvis Johnny. Turut hadir Forpimda Jatim, dan seluruh perwakilan anggota FKUB dari 38 kabupaten/kota. (eri)