03/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Pembangunan Infrastruktur Terhambat, Jatim Terancam Byar Pet

Bambang WarsonoSurabaya, KabarGress.Com – Akibat proses pembangunan infrastruktur listrik terhambat, baik penambahan gardu induk (GI), tapak menara, pembangkit, maupun Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 KV, beberapa tahun ke depan Jawa Timur terancam byar pet (baca: krisis energi listrik). Adapun kendala utama pembangunan tersebut berasal dari masyarakat sendiri karena menolak lahannya dipergunakan untuk pembangunan infrastruktur tadi maupun proses perijinan dari pemerintah daerah yang berbelit-belit.

Dikatakan Manager Area Pengatur Beban (APB) Jawa Timur, Bambang Warsono, SUTT 150 KV Waru, Sidoarjo, kini bebannya di atas 70%. Saluran tersebut menyalurkan listrik 456 Megawatt (MW) ke Rungkut baik rumahtangga maupun industri, Sukolilo, Ngagel, Simpang, Wonokromo dan Surabaya Selatan. “Batas ideal beban 80%. Sehingga sudah mendekati ambang batas,” ungkapnya di sela-sela acara media gathering, Sabtu (8/11/2014).

Perlu diketahui, konsumsi listrik Jawa Timur terus mengalami peningkatan di atas 7 persen per tahun. Bahkan tahun ini ditargetkan bisa menembus pertumbuhan 8,3 persen. “Sedikitnya ada sembilan kabupaten/kota yang terancam pemadaman bergilir satu sampai dua tahun mendatang. Seperti Surabaya, Sidoarjo, Bangkalan, Sampang, Sumenep, Pamekasan, Wlingi, Tulungagung, dan Jombang. Yang terparah daerah Jombang karena perkiraan satu tahun nanti terjadi pemadaman bergilir jika pembangunan GI dan SUTT150 KV disana tidak bisa dilaksanakan. Sebab, beban GI Kertosono ke GI Ploso sudah 80 persen,’’ ingatnya.

Ruang pantau kondisi listrik di Jawa TimurMenurutnya, rencana PT PLN membangun GI di beberapa titik hingga kini belum bisa terealisasi karena terkendala ijin masyarakat. “Kami berharap warga dapat mendukung pembangunan infrastruktur tersebut. Pembangunan GI di sekitar warga kami pastikan tidak berbahaya,” jelasnya.

Disebutkan, di Surabaya Selatan yang mendapat aliran listrik dari GI Waru, Rungkut, Sukolilo, Ngagel, dan Sampang, bebannya telah mencapai 70 persen. “Jika dua tahun mendatang pembangunan GI di sekitar Juanda tidak terealisasi, dipastikan daerah tersebut mengalami pemadaman bergilir. Begitu pula Madura akan mengalami hal serupa karena beban GI Tandes, GI Perak, GI Ujung dan GI Kenjeran sudah sampai 67 persen,’’ tutur Bambang.

Penambahan kapasitas di GI Karang Pilang atau penyambungan SUTT 150 KV juga penting guna menekan beban gardu. Masalahnya, penambahan daya dari GI Karang Pilang masih terkendala penolakan warga dan tidak bisa dipastikan kapan selesai.

Untuk wilayah Sutami, Wlingi, Blitar dan Tulungagung beban jaringan sudah 67%. Sehingga perlu penambahan gardu induk dan SUTT di Wlingi dan Tulungagung. Rencana tersebut juga terkendala pembebasan lahan.

Bambang mengingatkan kerentanan juga terjadi di Madura yang mengandalkan pasokan dari Surabaya. “Pembangunan pembangkit di Pulau Garam serta penambahan saluran tegangan tinggi disana gagal,” tukasnya. (ro)

Teks foto: Manager Area Pengatur Beban (APB) Jawa Timur, Bambang Warsono, menerangkan kondisi kelistrikan Jawa Timur.