03/02/2021

Jadikan yang Terdepan

“Surabaya The Heroes City”; Mengenang Patriotisme Arek-arek Suroboyo SHT Track, 04 – 29 November 2014

Surabaya, KabarGress.Com – Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya turut memiliki peranan penting dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia, dan sekaligus telah menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme. Pertempuran tersebut diawali oleh mendaratnya tentara Inggris atas nama blok Sekutu pada tanggal 25 Oktober 1945 untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan perang yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya.

Tidak hanya itu, tentara Inggris juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia Belanda. Hal inilah yang kemudian memicu pergerakan perlawanan arek-arek Suroboyo terhadap tentara AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) dan pemerintahan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) hingga pertempuran 10 Nopember 1945.

Serangan-serangan dilakukan di beberapa sektor salah satunya sektor utara seperti Lapangan Udara Morokrembangan, Koblen, Bioskop Sampoerna, Benteng Miring, Gedung Internatio, Badan Penanaman Modal, dan Lindeteves. Pada serangan di Bioskop Sampoerna sekitar 100 orang pejuang yang berjaga di kompleks pabrik dan Bioskop Sampoerna berusaha mempertahankan kawasan tersebut. Ketika pasukan sekutu menyerang, sebanyak 7 orang meninggal. Korban tersebut merupakan korban pertempuran pertama dari semua front pertempuran Surabaya. Karena mendapat tekanan dari pasukan Inggris, maka para pemuda terpaksa mundur ke kampung Pesapen dan viaduct di area Tugu Pahlawan. Kegigihan arek-arek Suroboyo dalam berjuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia itulah yang kemudian menjadikan Kota Surabaya dikenal sebagai Kota Pahlawan.

Untuk mengenang semangat juang arek-arek Suroboyo, House of Sampoerna menggelar tur tematik Surabaya Heritage Track (SHT) “Surabaya The Heroes City” dengan mengunjungi Hotel Majapahit yang menjadi saksi bisu perobekan bendera Belanda oleh arek-arek Suroboyo, areal Balai Pemuda yang dahulunya menjadi Markas Besar PRI (Pemuda Republik Indonesia) dan Gedung Nasional Indonesia yang menjadi saksi sejarah pergerakan pemuda di masa penjajahan.

Tur tematik SHT diselenggarakan pada periode-periode tertentu guna memperkenalkan berbagai bangunan kuno namun menarik, serta memiliki nilai sejarah di Surabaya. Tur SHT dapat dinikmati oleh wisatawan secara cuma-cuma. Melalui berbagai tur SHT trackers tak hanya dapat menikmati berbagai bangunan cagar budaya, namun juga mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru.

Jadwal Tur : Selasa – Kamis, 04 – 29 November 2014

Pukul : 09:00 – 10:30 WIB

Pemberhentian :

Beberapa lokasi yang dikunjungi yakni:

House of Sampoerna

Hotel Majapahit

Areal Balai Pemuda

Graha Wismilak

Materi Cerita

House of Sampoerna

Kompleks pabrik dan Bioskop Sampoerna pada tanggal 10 November 1945 merupakan lokasi pertahanan PRI-Sulawesi yang tergabung dalam PRI Utara pimpinan Warrouw. Di lokasi ini terdapat 100 orang pejuang yang berusaha mempertahankan kawasan ini. Ketika pasukan sekutu menyerang, sebanyak 7 orang meninggal di Bioskop Sampoerna ini. Korban tersebut merupakan korban pertempuran pertama dari semua front pertempuran Surabaya.

Karena mendapat tekanan dari pasukan Inggris, maka para pemuda terpaksa mundur ke kampung Pesapen dan viaduct. (Sumber: Nugroho Notosusanto. Pertempuran Surabaya. 1985. hlm: 154-155)
Hotel Majapahit

Bangunan ini didirikan pada tahun 1910 oleh Lukas Martin Sarkies dengan nama LMS lalu berganti nama menjadi Hotel Oranje di masa kolonial dan berganti lagi menjadi hotel Yamato di masa kependudukan Jepang. Terkait dengan pertempuran 10 November, pihak Belanda mengibarkan bendera Belanda (merah-putih-biru) di menara sisi utara hotel (saat ini dikenal dengan istilah Flag Terrace). Hal inilah yang memicu kemarahan Arek-arek Surabaya dan meminta agar bendera Belanda tersebut diturunkan. Insiden tersebut menewaskan Kolonel Ploegman dan 4 orang pejuang Surabaya. (Sumber: Hotel Majapahit dan Nugroho Notosusanto. 1993. SEJARAH Nasional Indonesia Jilid VI. hlm: 111-112).
Areal Balai Pemuda

Balai Pemuda dulunya bernama Simpaangsche Societeit, diarsiteki oleh Westmaes dan dibangun pada tahun 1907, gedung ini memiliki arsitektur unik yang masih utuh hingga kini. Kawasan ini merupakan salah satu tempat pergerakan para pemuda Surabaya. Pada bulan November 1945 gedung tersebut dijadikan Markas Besar PRI (Pemuda Republik Indonesia) Pusat. PRI ini dibentuk pada 21 September 1945 dengan markas di Jl. Merdeka, Jakarta.

Organisasi pemuda ini merupakan peleburan dari organisasi-organisasi pemuda yang sudah terbentuk sebelumnya. Para anggota PRI ikut andil ketika terjadi pelucutan senjata Jepang di Don Bosco dan markas Kompetei dan ikut berperang dalam pertempuran 3 hari di Surabaya (28, 29 dan 30 Oktober 1945) melawan Sekutu. (Sumber: Willson. 2008. Soemarsono: Revolusi Agustus.hlm 39 dan 21).
Grha Wismilak

Bangunan PT Wismilak didirikan pada tahun 1928 dulu dikenal sebagai Kantor Kepolisian Negara Darmo. Ditempat inilah tempat gencatan senjata antara NICA dan Indonesia. Sejak awal, gedung yang didirikan pada tahun 1928 ini difungsikan sebagai kantor polisi oleh Jepang. Pada tanggal 21 Agustus 1945, polisi istimewa Surabaya yang dikomandoi oleh Moh.Jasin memproklamirkan diri sebagai polisi Republik Indonesia dan gedung ini ditempati sebagai kantor polisi. Terkait pertempuran 10 November 1945, arek-arek Suroboyo diultimatum untuk menghentikan perlawanan pada tentara AFNEI dan menyerahkan senjata rampasan dari Jepang di depan gedung ini. Ultimatum tersebut kemudian dianggap sebagai penghinaan bagi para pejuang dan rakyat yang telah membentuk banyak badan-badan perjuangan/milisi. (ro)