03/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Oktober 2014, Inflasi Jatim 0,44 Persen

Kepala BPS Jawa Timur Sairi HazbullahSurabaya, KabarGress.Com – Pada bulan Oktober 2014 Jawa Timur mengalami inflasi sebesar 0,44 persen. Dari 8 kota IHK di Jawa Timur, semua kota mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Sumenep sebesar 0,65 persen, diikuti Banyuwangi sebesar 0,51 persen, Surabaya sebesar 0,49 persen, Probolinggo dan Madiun masing-masing sebesar 0,46 persen, Malang sebesar 0,40 persen, Kediri sebesar 0,32 persen, dan inflasi terendah terjadi di Jember sebesar 0,12 persen.

Kepala BPS Jatim, Sairi Hasbullah, mengatakan dari tujuh kelompok pengeluaran, semua kelompok mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 1,00 persen, diikuti kelompok kesehatan sebesar 0,91 persen, kelompok makanan jadi, minuman dan rokok sebesar 0,54 persen, kelompok bahan makanan sebesar 0,22 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga sebesar 0,12 persen, kelompok sandang sebesar 0,10 persen, dan inflasi terendah terjadi pada kelompok transport, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,03 persen.

“Komoditas yang memberikan andil terbesar terjadinya inflasi adalah tarif listrik, bahan bakar rumah tangga, beras, cabai merah, nasi dengan lauk, ikan bandeng/bolu, sepeda motor, udang basah, buah jeruk, dan cabai rawit. Dampak kenaikan tarif listrik bulan September 2014 bagi pelanggan pasca bayar terjadi pada bulan Oktober 2014, sedangkan bagi pelanggan pra bayar dampaknya langsung pada bulan September,” terangnya.

Komoditas yang harganya terkendali dan memberikan andil terbesar terjadinya deflasi adalah daging ayam ras, telur ayam ras, buah pir, buah semangka, angkutan udara, gula pasir, buah anggur, gipsum, emas perhiasan, dan tongkol pindang.

Dari 6 ibukota provinsi di Pulau Jawa, semua kota mengalami inflasi dan inflasi terendah terjadi di kota Bandung sebesar 0,14 persen. Inflasi tertinggi terjadi di kota Semarang sebesar 0,55 persen, diikuti kota Surabaya sebesar 0,49 persen, kota DKI Jakarta sebesar 0,40 persen, kota Serang sebesar 0,37 persen dan kota Yogyakarta sebesar 0,28 persen.

“Dari 82 kota IHK nasional ada 74 kota mengalami inflasi dan 8 kota mengalami deflasi, inflasi tertinggi terjadi di Tual sebesar 2,18 persen. Dari 74 kota IHK di Indonesia yang mengalami inflasi, 5 kota inflasi terendah yaitu Mamuju sebesar 0,06 persen, Jember sebesar 0,12 persen, Watampone sebesar 0,13 persen, Bandung sebesar 0,14 persen, dan Ambon sebesar 0,15 pesen. Sedangkan dari 8 kota yang mengalami deflasi, deflasi tertinggi di Sorong sebesar 1,08 persen dan deflasi terendah di Tanjung Pandan sebesar 0,12 persen,” imbuhnya.

Laju inflasi tahun kalender (Desember 2013-Oktober 2014) Jawa Timur mencapai 3,83 persen. Inflasi year-on-year (Oktober 2014 terhadap Oktober 2013) Jawa Timur sebesar 4,57 persen, angka ini lebih tinggi dari pada inflasi year-on-year bulan September 2014 sebesar 4,13 persen. Tetapi dalam kurun waktu tiga tahun terakhir inflasi year-on-year bulan Oktober 2014 merupakan inflasi terendah. (ro)

Teks foto: Kepala BPS Jatim, Sairi Hasbullah.