03/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Ingin Indonesia Berkah, Umat Islam ‘Jok Eker-Ekeran’

• Pengajian di Waduk , Dihibur Kesenian Reyog dan Nyanyi Indonesia Raya

foto-kyaifoto-gressfoto-reyogMagetan, KabarGress.Com – Umat Islam tidak perlu eker-ekeran (berselisih pendapat ) tentang pemahaman ajaran. Boleh saja, berbeda pendapat tentang pemahaman ajaran, asal tidak terus dihembuskan dan dipertajam.

Kalau eker-ekeran itu dibiarkan, pasti berujung ’gontok-gontokan’. Tokoh-tokohnya harus mampu menjaga kerukunan beragama agar umat Islam tentram dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sebagaimana negara yang diberkahi. Negara badaltun thoyibatun wa robbun ghofur.

“Ojok eker-ekeran soal Slametan, ojok eker-ekeran soal tahlil. Nek ene wong sing nggak gelem slametan, geleme sodaqoh yo ojo nglakoni slametan. Sing slametan yo ben slametan. Nek enek wong sing ijik seneng podo tukaran, amargo wong iku podo pekok’e.(Jangan berselisih paham soal kenduri, tahlil. Kalau ada orang yang tidak mau tahlilan, maunya melakukan sodaqoh ya jangan melakukan tahlilan. Yang tahlilan biar tahlilan. Kalau ada orang yang masih suka berselisih terus soal itu, karena orang itu sama-sama bodohnya, tidak punya ilmunya),” kata KH Mashudi asal Kediri saat pengajian umum memperingati Tahun Baru 1436 H, di lapangan Desa Waduk Kec. Takeran Magetan, Jumat (31/10) malam.

Pengajian yang dihadiri ribuan jamaah dari kelompok Majelis Taklim, warga Waduk, dan muslimat serta dihadiri Muspika setempat, dihibur kesenian Reyog dan pasar malam. Dan sebelum pengajian dimulai, seluruh jamaah yang hadir mengambil sikap tegak (berdiri) dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai tanda syukur kepada Alloh SWT yang melimpahkan rahmadnya melalui tanah air tercinta Indonesia.

‘Eker-ekeran’ soal kebiasaan beribadah di masyarakat, lanjut Kiai asal Kediri ini, seolah tidak ada habisnya. Ada orang yang merasa benar dan punya pemahaman sendiri. Padahal mereka itu tidak paham sumbernya ilmunya. “Ilmu katon tapi awak dewe ora katon. ( Seolah kita tahu ilmu itu, tapi kenyataannya kita tidak paham ilmunya),” tuturnya.

Dicontohkan, soal tahlilan untuk orang meninggal. Ternyata sebagian besar yang tahlillan tidak tahu dasarnya mengapa harus tahlil. Yang tidak setuju dengan tahlil, tidak mau memahami secara detail sumber ilmu tahlil itu. “Itulah cara dakwah yang digunakan Kanjeng Sunan Kalijogo supaya Islam bisa diterima umat waktu itu,” ujarnya.

Jadi sekarang ini, lanjut Kiai Mashudi, tidak perlu lagi saling eker-ekeran. Umat Islam harus guyub rukun. Saling menghargai dan menghormati, agar kerukunan umat tercipta. “Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla juga tahlil. Makanya oleh pemerintahan sekarang, kebudayaan di masyarakat dihidupkan lagi. Agar tidak lupa pada asal-usulnya,” katanya.

Banyak pihak yang memahami bahwa manusia diciptakan dari tanah. Namun tanah sendiri ada 3 sifat, yakni tanah lempung, tanah padas dan tanah masir. Tanah lempung mempunyai sifat mudah dibentuk mudah diatur dan dapat dipastikan menghasilkan sesuatu yang baik, sedangkan tanah padas sifatnya keras dan kaku serta mudah patah. Sementara itu, tanah ‘masir’ sifatnya mudah pudar atau ‘ambyar’.

Dari tiga sifat tanah di atas, dapat di analogikan terhadap manusia bahwa bilamana kita jumpai sifat manusia yang selalu tawadhuk, menurut aturan dan dan penuh santun apat dipastikan Alloh dalam menciptakan manusia tersebut dari tanah pilihan atau tanah lempung/liat. Jika menemui sifat yang kaku, susah diatur dan cenderung brutal, maka dimungkinkan

Alloh menciptakan mereka dari tanah padas. Sedangkan sifat dari tanah ‘masir’ bisa dilihat dari sikap manusia yang tidak punyai pendirian dan sangat mudah terpengaruh oleh hal-hal yang baru, meski kesahihannya masih diragukan. “Banyak kita temui banyaknya orang yang susah diatur dan sedikit mau diatur.”

Menurutnya, orang yang susah diatur diibaratkan diciptakan dari tanah padas oleh Alloh SWT. Sifat tanah padas keras dibandingkan tanah lempung. Orang yang diciptakan dari tanah lempung itu mudah diatur. Jadi jangan heran kalau ada orang yang susah diatur. Mungkin dia dulu itu berasal dari tanah padas,” katanya.

Karena itu, Kiai Mashudi mengajak umat Islam untuk introspeksi. Jangan merasa benar sendiri dan menang sendiri. Pemerintahan yang dipimpin Jokowi-Jusuf Kalla harus berbuat kebaikan demi kemaslahatan umat. Pemerintah dan warga jangan melakukan kerusakan. Jaga kerukunan agar kita selamat dunia akherat. (*)

Teks foto: Suasana pengajian umum di lapangan Desa Waduk.