29/10/2020

Jadikan yang Terdepan

Kesiapan Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN

Kesiapan Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN - UKWMSSurabaya, KabarGress.Com – Asean Economic Community (AEC) atau lebih di kenal dengan MEA (Masyarakat Ekonomi Asia) menjadi hal yang menarik untuk diperbincangkan, pemberlakuannya sudah di depan mata yaitu 2015. AEC memiliki nilai strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Asia pada umumnya dan Indonesia pada khususnya. Jika tidak siap justru produk dari negara ASEAN lainnya yang akan menyerbu Indonesia. Hal ini menjadikan pelaku bisnis harus berpikir dan bekerja ekstra keras guna menghadapinya, sehingga tidak tergerus persaingan.

Respon atas hal tersebut diwujudkan dalam proyek ‘aufgabe’ atau proyek yang tiada kunjung usai dari Fakultas Bisnis dan Program Pascasarjana Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) yang sudah sejak tahun 2007 menyelenggarakan perhelatan berupa konferensi nasional yang memasuki tahun ke tujuh dengan mengangkat tema Towards a New Indonesia Business Architecture Sub tema: Business And Economic Transformation Towards AEC 2015. Ruang temu ini diharapkan bersama-sama menemukan pemecahan, dialog dan diskusi berbagai hal di area ekonomi dan bisnis.

Konferensi nasional kali ini menghadirkan pembicara utama yaitu Mufti Arimurti, ST sebagai General Manager OOTC vision & strategy PT Semen Indonesia (PERSERO),Tbk. yang membagikan pengalaman dalam mentransformasi PT Semen Indonesia untuk menjawab tantangan AEC 2015. Tantangan yang akan dihadapi industri semen kedepannya meliputi oversupply yang terjadi akibat pasar yang sangat kompetitif di Indonesia, harga energi mengalami peningkatan, dan masalah ketersediaan bahan baku.

Transformasi itu dilakukan PT Semen Indonesia melalui langkah awal dengan berekspansi ke luar negeri yakni di Vietnam. Hal itu dilakukan untuk menjawab permasalahan ekspor produk, kapasitas kapal Indonesia belum mampu mengangkut cukup banyak semen untuk di ekspor, sementara dari luar negeri dengan mudahnya mengirim dengan kapasitas besar ke Indonesia.

“Kalau perusahaan tidak berani melakukan transformasi sama saja dengan perusahaan mati atau tidak berkembang. Kini fokus kami pun tidak hanya pada semen semata namun juga berfokus pada industrinya,” papar Mufti Arimurti dalam penjelasannya.

Pola pikir manajemen risiko dibawakan secara gamblang oleh Dr. Tjan Soen Eng sebagai pembicara kedua dalam konferensi ini. “Perumusan strategi di atas kertas hanya menyumbang 30% kesuksesan, implementasi dan kontrol penerapan program menyumbang 70% kesuksesan, dan didalamnya terkandung manajemen risiko. Rencana hanya akan menjadi rencana tanpa ada tindakan konkret,” terang Tjan Soen Eng yang juga merupakan Akademisi dan CEO ABDA Groups of Companies.

Menjelang Masyarakat Ekonomi Asean 2015, Pelindo III melalui Agung Kresno Sarwono, SE., MM, memaparkan seputar perkembangan Teluk Lamong. Agung mengatakan bahwa Teluk Lamong adalah terminal pertama di Indonesia, atau keenam di dunia, yang akan beroperasi secara semiotomatis. “Teluk Lamong juga mengedepankan konsep ramah lingkungan. Alat bongkar-muatnya digerakkan sepenuhnya dengan tenaga listrik. Teluk Lamong menetapkan semua truk yang belum memenuhi standar emisi tersebut berhenti di area transfer di luar dermaga, lantas muatan dipindahkan ke atas truk kontainer berbahan bakar CNG,” ujar Operations & Engineering Director PT Teluk Lamong ini.

Dia juga menjelaskan, dengan adanya Teluk Lamong diharapkan dapat membantu menekan biaya angkut perusahaan sehingga produk yang dijual nantinya bisa lebih murah. Jadi penjual tetap untung dan pembeli bisa mendapatkan harga yang lebih murah.

Sebagai penutup sesi konferensi nasional yang berlangsung di Auditorium A201 UKWMS ini Ir. Puguh Iryantoro, MM. menjelaskan mengenai The Power of Win-Win Community with Open Innovation. Menurut Puguh Iryanto yang merupakan ketua Forum Inovasi Industri Indonesia dan Pengurus KADIN Jatim, “modal awal win-win community itu intregitas, yakni ketika apa yang kita lakukan selaras dengan apa yang kita pikirkan dan rasakan. Ketika tahu bahwa itu salah ya jangan dilakukan.” (ro)