03/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Wagub Minta ADMI Bangun Pendidikan di Daerah Tertinggal

Wagub Minta ADMI Bangun Pendidikan di Daerah TertinggalSurabaya, KabarGress.com -​Wakil Gubernur Jawa Timur, Drs. H. Saifullah Yusuf minta Administrator Muda Indonesia (ADMI) untuk bekerja sama dengan pemerintah dalam membangun pendidikan di daerah tertinggal. Tujuannya adalah untuk mengatasi masalah disparitas atau kesenjangan serta memutus rantai kemiskinan yang biasanya dialami masyarakat di daerah tersebut.

​Permintaan itu disampaikan Gus Ipul, sapaan akrab Wagub Jatim saat menjadi keynote speaker Temu Administrator Muda Indonesia (ADMI) 2014 Universitas Negeri Surabaya dengan tema“Kebijakan Pembangunan Daerah Tertinggal di Nusantara” di Aula Fakultas Ilmu Sosial Unesa Surabaya, Jl. Ketintang Surabaya. Rabu (22/10).

​Gus Ipul mengatakan, meski Indonesia mengalami banyakkemajuan di berbagai bidang dan dipuji oleh berbagai negara di dunia karena perekonomiannya tetap stabil ditengah kondisi ekonomi global yang sedang krisis, namun disisi lain Indonesia sejatinyamasih memiliki problem utama, yakni problem kesenjangan atau disparitas.

​“Amerika dan Eropa mengalami krisis ekonomi, sedangkan Indonesia tetap stabil pertumbuhan ekonominya.  Tetapi itu bukan berarti tanpa masalah, sebab pertumbuhan ekonomi yang bagus itu belum bisa dinikmati oleh semua masyarakat. Betul pendapatan per kapita kita naik, tetapi yang merasakan kenaikan hanya sebagian masyarakat saja, tidak semua. Bahkan data dari Bank Dunia menyebutkan, masyarakat Indonesia yang kaya makin kaya sedangkan yang miskin malah tambah miskin. Artinya ada disparitas antar individu yang dialami bangsa ini” katanya.

“Belum lagi disparitas antar wilayah di Indonesia, ada daerah yang begitu maju seperti di Jakarta dan Surabaya, tetapi juga ada daerah yang sangat tertinggal seperti di pedalaman Papua dan Kalimantan. Saat menjadi Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal, saya pernah ke daerah-daerah terpencil seperti Pulau Miangas, Pulau Rote. Kondisinya sangat jauh tertinggal, baik secara Sumber Daya Manusia (SDM) maupun infrastrukturnya” lanjutnya.

​Problem utama yang dialami masyarakat yang berada di daerah tertinggal adalah kemiskinan. Hal itu dapat dilihat dari rendahnyaAngka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang merefleksikan pencapaian tingkat kesejahteraan masyarakat  di suatu wilayah. IPM diukur dari tiga dimensi penting kehidupan manusia, yakni pengetahuan, kesehatan, dan gizi serta kemampuan ekonomi rumah tangga.

​Menurut Gus Ipul, salah untuk memutus rantai kemiskinanadalah melalui pendidikan. Sebab dengan mengenyam pendidikan yang cukup, maka kesempatan untuk mengubah nasib menjadi lebih besar. ​Sebaliknya, jika tidak bisa memiliki pendidikan yang cukup, dikhawatirkan akan menciptakan DNA orang miskin.

“Pendidikan bagi masyarakat daerah tertinggal harus dipenuhi,sebab jika tidak dipenuhi akan menciptakan DNA miskin. Contohnya ada orang miskin punya anak miskin, menikah dengan mantu miskin,kemudian punya cucu miskin, dan seterusnya. Untuk menghindarinya, tidak ada pilihan lain kecuali pembangunan pendidikan. Pendidikan memutus rantai kemiskinan” katanya.

​Kesadaran akan pembangunan pendidikan juga disadari oleh berbagai negara di dunia, bahkan ada yang berani mengeluarkan kebijakan ekstrim untuk berperang melawan kemiskinan melalui pembangunan pendidikan.

“Banyak negara yang melakukan pola pedidikan dengan sangat ekstrim. Contohnya Malaysia pada 1974 yang beranimenggelontorkan dana besar-besaran untuk menyekolahkan anak-anak di kampung. Ratusan ribu anak dikeluarkan dari kampungnya untuk disekolahkan, dua puluh tahun kemudian, atau hari ini bisa kita saksikan, anak-anak itu menjadi orang yang luar biasa dan menjadikan Malaysia maju seperti saat ini” katanya.

Karena itu, Gus Ipul minta para mahasiswa, khususnya anggota ADMI untuk turut bahu-membahu bersama pemerintah dalam membangun pendidikan di daerah tertinggal. “Kita punya SDM yang luar biasa, sebagian dari orang-orang luar biasa itu adalah anggota ADMI yang hadir disini. Pembangunan pendidikan ini penting, apalagi kita mau menghadapi era AEC 2015” ujarnya.

​Gus Ipul juga minta forum Temu ADMI untuk menghasilkan masukan-masukan bagi pemerintah dalam memberantas kemiskinan di daerah tertinggal. “Saya apresiasi langkah para mahasiswa untuk duduk bersama membahas kesenjangan antara daerah maju dan tertinggal. Masukan-masukan anda sangat berarti bagi kemajuan bangsa ini. Semoga sukses” tuturnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Sosial Unesa, Dr. Ketut Prasetyo, M.Si mengatakan, pertemuan ADMI ini sangat penting artinya bagi kemajuan bangsa ini, khususnya dalam memberi masukan bagi penyusunan kabinet menteri Indonesia yang akan dibentuk.

“Disini akann dibahas rekonstruksi negara apa yang kita impikan, ini modal besar bagi Indonesia karena forum ini menghadirkan delegasi dari 24 perguruan tinggi se-Indonesia. Saran saya, kemas dengan baik dan sampaikan hasilnya pada kabinetmenteri Indonesia yang belum terbentuk,  inilah masukan teman-teman mahasiswa Adminstrasi Negara” katanya.

Ketua HIMA Prodi Administrasi Publik UNESA, Muh. Zainal Arifin, mengatakan, temu ADMI dihadiri oleh 96 delegasi mahasiswa 24 Universitas se-Indonesia. Diantaranya, UNESA, Univ. BrawijayaMalang, Univ. Airlangga Surabaya, Univ. 17 Agustus Surabaya,Univ. Katolik Parahyangan, Univ. Muhammadiyah Sinjai, Univ. Bhayangkara Surabaya, Univ. Gajah Mada Jogjakarta, Univ. HangTuah Surabaya, Univ. Maritim Kep. Riau, Univ. CenderawasihPapua, Univ. Diponegoro Semarang, Univ. Jember, Univ. Madura,Univ. Galuh Ciamis Jabar, Univ. Merdeka Malang, Univ. PadjajaranBandung, Univ. Sebelas Maret Surakarta, Univ. Jenderal Soedirman,Univ. Sriwijaya Palembang, dan Univ. Negeri Yogyakarta. (eri)