03/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Pabrik Pengolahan Nikel Ancam Ekosistem Taman Nasional Baluran

peta_baluranSurabaya, KabarGress.Com – Organisasi Protection of Forest and Fauna (PROFAUNA) Indonesia memprotes keras rencana dibangunnya pabrik pengolahan (smelter) nikel di kawasan yang berdekatan dengan Taman Nasional Baluran, Situbondo. Protes keras PROFAUNA itu dilakukan dalam sebuah aksi demo teaterikal di depan kantor Gubernur Jawa timur pada hari Kamis, 23 Oktober 2014.

Dalam aksi protes itu PROFAUNA mendesak gubernur Jawa timur untuk membatalkan rencana pembangunan pabrik penglolan nikel. Pasalnya, pembukaan lahan (land clearing) yang dimulai pada akhir Agustus lalu berada di atas lahan yang berbatasan langsung dengan wilayah Taman Nasional Baluran. Isu ini dipandang krusial karena keberadaan smelter memiliki banyak dampak negatif bagi kelestarian ekosistem Baluran, dan juga secara tidak langsung bagi masyarakat.

Penelusuran PROFAUNA ada dugaan kuat bahwa pembangunan pabrik nikel tersebut belum dilengkapi dengan dokumen Analisis Menganai Dampak Lingkungan. “selain belum ada Amdal, pembangunan jalan menuju pabrik yang melewati pintu masuk kawasan Taman Nasional Baluran tersebut juga belum ada izin dari Menteri kehutanan, sehingga sangat tepat kalau pembangunan pabrik nikel itu harus dihentikan”, tegas Swasti Prawidya Mukti, juru kampanye PROFAUNA.

PROFAUNA mengecam keras dibuatnya jalan menuju pabrik pengolahan nikel yang jalan tersebut melewati kawasan Taman Nasional Baluran. “Pembukaan jalan tersebut sudah tentu merupakan sebuah bentuk pelanggaran hukum karena tidak termasuk dalam jenis pemanfaatan yang diperbolehkan atas taman nasional”, ujar Swasti.

Pabrik pengolahan nikel dengan bendera PT Situbondo Metaliindo itu menjadi ancaman bagi masa depan ekosistem Baluran yang menjadi habitat berbagai jenis satwa liar. Di Taman Nasional Baluran seluas 25.000 ha, itu tercatat terdapat 217 jenis burung dan 26 jenis mamalia diantaranya banteng (Bos javanicus javanicus), kerbau liar (Bubalus bubalis), ajag (Cuon alpinus javanicus), kijang (Muntiacus muntjak muntjak), rusa (Cervus timorensis russa), macan tutul (Panthera pardus melas), kancil (Tragulus javanicus pelandoc), dan kucing bakau (Prionailurus viverrinus).

Keprihatinan PROFAUNA terhadap kehadiran pabrik pengolahan nikel di Baluran tersebut didasari beberapa hal. Pertama, smelter merupakan sebuah sistem yang sangat boros listrik dan batubara, sebagai bahan bakar proses pengolahan. Proses smelting pun pada akhirnya akan menghasilkan konsentrat mineral, serta produk limbah padat berupa batuan dan gas buang SO2.

Saat menguap ke udara, maka senyawa SO2 dapat memicu terjadinya hujan asam (acid rain) yang jika turun ke tanah akan meningkatkan derajat keasaman tanah dan sumber air. Akibatnya, semua jenis vegetasi akan mengalami kerusakan jaringan sehingga membahayakan kelangsungan hidupnya. Secara tidak langsung, hal ini juga berarti kematian perlahan bagi satwa-satwa di Baluran.

Walaupun tidak terasa secara langsung dan dalam tempo singkat, pada manusia dan satwa semua jenis senyawa nikel juga dapat menyebabkan iritasi saluran pernapasan, pneumonia, emphysema, hiperplasia, dan fibrosis.

Selain itu, percobaan laboratorium membuktikan bahwa senyawa nikel dapat menembus dinding plasenta pada mamalia sehingga dapat mempengaruhi perkembangan embrio dengan risiko kematian dan malformasi. (ro)

 

Tentang Taman Nasional Baluran

Taman Nasional Baluran merupakan perwakilan ekosistem hutan yang spesifik kering di Pulau Jawa, terdiri dari tipe vegetasi savana, hutan mangrove, hutan musim, hutan pantai, hutan pegunungan bawah, hutan rawa dan hutan yang selalu hijau sepanjang tahun. Sekitar 40 persen tipe vegetasi savana mendominasi kawasan Taman Nasional Baluran.

Tumbuhan yang ada di taman nasional ini sebanyak 444 jenis, diantaranya terdapat tumbuhan asli yang khas dan menarik yaitu widoro bukol (Ziziphus rotundifolia), mimba (Azadirachta indica), dan pilang (Acacia leucophloea). Widoro bukol, mimba, dan pilang merupakan tumbuhan yang mampu beradaptasi dalam kondisi yang sangat kering (masih kelihatan hijau), walaupun tumbuhan lainnya sudah layu dan mengering.
Tumbuhan yang lain seperti asam (Tamarindus indica), gadung (Dioscorea hispida), kemiri (Aleurites moluccana), gebang (Corypha utan), api-api (Avicennia sp.), kendal (Cordia obliqua), manting (Syzygium polyanthum), dan kepuh (Sterculia foetida).

Terdapat 26 jenis mamalia diantaranya banteng (Bos javanicus javanicus), kerbau liar (Bubalus bubalis), ajag (Cuon alpinus javanicus), kijang (Muntiacus muntjak muntjak), rusa (Cervus timorensis russa), macan tutul (Panthera pardus melas), kancil (Tragulus javanicus pelandoc), dan kucing bakau (Prionailurus viverrinus).

Satwa banteng merupakan maskot/ciri khas dari Taman Nasional Baluran.

Selain itu, terdapat sekitar 155 jenis burung diantaranya termasuk yang langka seperti layang-layang api (Hirundo rustica), tuwuk/tuwur asia (Eudynamys scolopacea), burung merak (Pavo muticus), ayam hutan merah (Gallus gallus), kangkareng (Anthracoceros convecus), rangkong (Buceros rhinoceros), dan bangau tong-tong (Leptoptilos javanicus).

Hutan yang selalu hijau sepanjang tahun

Pada Hm. 80 Batangan – Bekol , terdapat sumur tua yang menjadi legenda masyarakat sekitar. Legenda tersebut menceritakan bahwa kota Banyuwangi, Bali dan Baluran sama-sama menggali sumur. Apabila, sumur di masing-masing kota tersebut lebih dahulu mengeluarkan air dan mengibarkan bendera, berarti kota tersebut akan merupakan sentral keramaian/ kebudayaan.

Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi:
Batangan. Melihat peninggalan sejarah/situs berupa goa Jepang, makam putra Maulana Malik Ibrahim, atraksi tarian burung merak pada musim kawin antara bulan Oktober/November dan berkemah. Fasilitas: pusat informasi dan bumi perkemahan.
Bekol dan Semiang. Pengamatan satwa seperti ayam hutan, merak, rusa, kijang, banteng, kerbau liar, burung.
Fasilitas yang ada: wisma peneliti, wisma tamu, menara pandang.
Bama, Balanan, Bilik. Wisata bahari, memancing, menyelam/snorkeling, dan perkelahian antara rusa jantan pada bulan Juli/Agustus; dan sekawanan kera abu-abu yang memancing kepiting/rajungan dengan ekornya pada saat air laut surut.
Manting, Air Kacip. Sumber air yang tidak pernah kering sepanjang tahun, habitat macan tutul.
Popongan, Sejile, Sirontoh, Kalitopo. Bersampan di laut yang tenang, melihat berbagai jenis ikan hias, pengamatan burung migran.
Curah Tangis. Kegiatan panjat tebing setinggi 10-30 meter, dengan kemiringan sampai 85%.
Candi Bang, Labuan Merak, Kramat. Wisata budaya.

Musim kunjungan terbaik: bulan Maret s/d Agustus setiap tahunnya.

Cara pencapaian lokasi: Banyuwangi-Batangan dengan jarak 35 km, yang dilanjutkan ke Bekol dengan waktu 45 menit (12 km) atau Situbondo-Batangan dengan jarak 60 km menggunakan mobil.

Kantor : Jl. KH Agus Salim No. 132 Banyuwangi 68425, Jawa Timur
Telp. (0333) 424119; Fax. (0333) 412680
E-mail: tnbaluran@telkomnet dan
office@balurannationalpark.com
Web site: http://www.balurannationalpark.com
Bekol di Musim Kemarau
Dinyatakan Menteri Pertanian, tahun 1980
Ditunjuk Menteri Kehutanan, SK No. 279/Kpts- VI/97 seluas 25.000 hektar
Ditetapkan —-
Letak Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur

Temperatur udara 27° – 34° C
Curah hujan 900 – 1.600 mm/tahun
Ketinggian tempat 0 – 1.247 m. dpl
Letak geografis 7°29’ – 7°55’ LS, 114°17’ – 114°28’ BT