03/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Upaya Mahasiswa Ubaya Bantu UKM

UbayaSurabaya, KabarGress.Com – Berkat mata kuliah Proyek Desain Project (PDP) 4 ini, 2 mahasiswa Program Studi  Desain Manajemen Produk Fakultas Industri Kreatif mampu memberikan sentuhan yang berbeda dari karya UKM yang mereka pilih. Brian Wijaya membuat kreasi tas dari bahan kulit dan Juvens Urgel, mahasiswa semester 7 ini membuat modifikasi lampu dari benang jahit dengan kayu bekas. Kedua tugas dari mata kuliah PDP 4 ini dipublikasikan pada Selasa 21 Oktober 2014 pukul 12.30-14.30 wib di Seminar Room Gedung International Village Kampus Tenggilis Universitas Surabaya.

Setiap mahasiswa semester 6 wajib mengambil mata kuliah Proyek Desain Project (PDP) 4. Dalam PDP 4 mahasiswa kerap diajarkan mendesain produk dengan memperhatikan nilai estetika, bernilai jual tinggi, membuat brand baik logo maupun nama produk, cara mempromosikan serta manajemen produknya.

“2014 ini saya mengambil tema pemberdayaan UKM, mahasiswa diminta membuat tugas akhir mata kuliah dengan berinovasi atau memberikan sentuhan  yang berbeda dari UKM khususnya di Jawa Timur.Yaaaa sekalian mereka belajar siapa tahu kelak menjadi wiraswasta”, ungkap Wyna Herdiana S.T., M.Ds selaku kepala program studi Desan Manajemen Produk di sela sela kesibukannya.

Brian Wijaya, mahasiswa asal Kota Malang ini memilih UKM Dewi Bralin dengan produknya olahan kulit sapi an kerbau menjadi aksesoris dengan motif indian. Produknya berupa dompet, hand back, serta tas selempang.UKM Dewi Bralin berada di kawasan Buduran Sidoarjoi. Anak sulung dari pasangan Endy Wiyono dan Rinny Ratnawatie ini mengamati produk UKM Dewi Bralin hanya segmented pada wanita. Sehingga Brian menambahkan produk olahan kulit sapi dan kerbau dengan back pack (tas punggung) yang dapat dipakai kaum pria. MACOLE singkatan dari Masculine Cow Leather nama produk buatan Brian.

“Selain desain indian bisa dikonsumsi pria dan wanita, saat ini pria sudah mulai banyak yang memperharikan detail penampilan. Apa salahnya saya membuat tas ini untuk kaum saya”, ungkap Brian sambil tertawa kecil.

Masa waktu pengerjaan 3 bulan, alumni SMAK St. Yusuf Malang ini berhasil mengkombinasikan 80 % kulit sapi asli dan 20 % kulit kambing sebagai hiasan/ pemanis dan tali. Cara pengerjaan bahan kulit didapat dari UKM Dewi Bralin kemudian dibuat pola diatas kulit, digunting kemudian direkatkan dengan latex untuk menggabungkan bagian satu dengan yang lain. Setelah itu dilubangi pada bagian samping sebagai pemanis. Sedangkan untuk tali direkatkan menggunakan latex kemudian disambung dengan bagian lain dengan bantuan kancing mata itik. Setelah itu disulam.

“Karena ini produk kolaborasi antara UKM Dewi Bralin dan MACOLE . Maka logo yang dipakai MACOLE sama seperti Dewi Bralin hanya saja bagian tengah ada penambahan”, ungkap Brian

Berbeda lagi dengan karya buatan Juvens Urjel. UKM uang dipilih oleh mahasiswa Program Studi  Desain Manajemen Produk ini adalah Light Craff. UKM ini berada didekat Pakuwon Trade Center (PTC) Surabaya Barat. Light Craff adalah UKM yang menggeluti hiasan lampu berbentuk bola yang terbuat dari benang jahit.

“Sudah sampai dieksport produk lampu benang ini, menandakan pasar atau market produk ini sudah jelas dan diterima di masyarakat luar negeri. Sehingga tidak ada salahnya saya berkreasi dengan bentuk yang berbeda dan ada sentuhan kayu sebagai pemanis”, ungkap Juvens sapaan akrapnya.

S-Tube Lamp nama produk kreasi alumni SMAK Carolus  Surabaya ini. Tetap mempertahankan konsep bahan dasar benang jahit. S-Tube Lamp terdiri 3 bentuk, lampu belajar, lampu meja, lampu dinding. Cara pembuatan diawali dengan membuat barisan benang jahit yang diletakkan diatas akrilik. Setelah jumlah barisan benang mencukupi kemudian diberi lem. Ditunggu sampai lem mongering kemudian ditarik menjadi lembaran benang. Lembaran benang ini dibentuk sesuai dengan pola atau bentuk yang diinginkan, kemudian dikaitkan dengan ornamen tambahan berupa penyangga lampu yang terbuat dari kayu. Kayu yang digunakan Juvens adalah kayu sisa peti kemas supaya biaya prosuksi minimal. Kayu dibentuk dengan dipahat lalu dilekatkan lampu benang yang sudah dibentuk. Terakhir diberi instalasi lampu sekitar 5-10 what sekaligus listriknya.

Dengan biaya produksi 100 ribu rupiah per produk, Juvens optimis produknya mampu bersaing ditengah maraknya handy craff lainnya. Sama seperti Brian, Juvens memasarkan produknya melalui social media.

“Setahu saya , Brian sudah mambantu menjualkan produk UKM Dewi Bralin sebanyak 100 buah untuk desain yang dia buat”, tambah  Wyna Herdiana S.T., M.Ds. (ro)