19/09/2020

Jadikan yang Terdepan

USAID PRIORITAS Kembangkan Tiga Materi, Kuatkan Kurikulum 2013

USAID PRIORITAS Kembangkan Tiga Materi, Kuatkan Kurikulum 2013USAID PRIORITAS Kembangkan Tiga Materi, Kuatkan Kurikulum 2013 1USAID PRIORITAS Kembangkan Tiga Materi, Kuatkan Kurikulum 2013 2Surabaya, KabarGress.Com – Sejalan dengan program pemerintah, saat ini USAID PRIORITAS mengembangkan pelatihan Kurikulum 2013 dengan beberapa materi pelatihan yang menarik untuk diulas dan dibutuhkan oleh guru. Tiga diantaranya adalah: mengembangkan pertanyaan tingkat tinggi, literasi lintas kurikulum, dan gender dalam pendidikan. Pelatihan ini bertajuk Pelatihan untuk Pelatih Tingkat Provinsi Jawa Timur: Praktik yang Baik dalam Pembelajaran SD/MI (Modul 2) untuk Fasilitator Daerah Mitra USAID PRIORITAS wilayah DBE (Bojonegoro, Nganjuk, Sampang) dan (Ngawi, Lumajang).

Menurut Juprianto Koordinator Training Pembelajaran untuk SD/MI USAID PRIORITAS Jatim, dimasukkannya ketiga materi ini karena tuntutan Kurikulum 2013 yang harus dimiliki oleh pendidik. “Dengan memberikan materi-materi tersebut dalam pelatihan kami, diharapkan pendidik yang tergabung dalam mitra kami memiliki pemahaman yang utuh tentang Kurikulum 2013 dengan menerapkan pendekatan pembelajaran aktif dan interaktif,” terangnya.

Sebanyak 82 peserta dari 5 kabupaten (Ngawi, Lumajang, Bojonegoro, Nganjuk, Sampang) mengikiti pelatihan yang diselenggarakan pada 18-22 Oktober 2014 di Hotel Santika Premiere Surabaya.

 

Pertanyaan Tingkat Tinggi Mendorong Siswa Berpkir Kreatif

Sering kita mendengar guru melontarkan pertanyaan kepada siswa yang mudah untuk dijawab. Apalagi jawabannya sudah disebutkan sebelumnya. Misalnya, “Anak-anak ibukota Indonesia adalah Jakarta. Jadi ibukota Indonesia itu apa?” langsung saja seluruh kelas menjawab kompak “Jakarta.” Padahal sejatinya siswa bisa menemukan jawaban sendiri melalui pertanyaan tingkat tinggi yang dilontarkan guru melalui kegiatan-kegiatan kreatif siswa.

Dalam Kurikulum 2013, salah satu kegiatan yang ditekankan kepada siswa adalah ketrampilan bertanya tingkat tinggi. Dimana cara guru bertanya mempunyai pengaruh terhadap pencapaian hasil belajar. Dengan mengembangkan pertanyaan tingkat tinggi, secara otomatis guru akan mendorong siswa untuk membangun gagasan sendiri, berpikir alternatif, berpikir kreatif, untuk melakukan pengamatan, dan penyelidikan sehingga mereka memberikan jawaban yang merupakan gagasan orisinil dari mereka sendiri.

 

Literasi Lintas Kurikulum

Pemberian materi ini dimaksudkan untuk menjadikan peserta pelatihan dalam hal ini pendidik lebih menyadari bahwa kemampuan literasi (membaca/memahami isi bacaan, mendengarkan/menyimak/memahami apa yang diungkapkan orang lain,berbicara/mengungkapkan gagasan secara lisan, dan menulis/mengungkapkan gagasan secara tertulis) sangat diperlukan dalam mempelajari dan sekaligus dapat dikembangkan dalam mata pelajaran-mata pelajaran tersebut.

 

Gender dalam Pendidikan

Gender menjadi isu yang selama ini belum banyak disentuh dalam dunia pendidikan. Mengapa USAID PRIORITAS perlu memerhatikan isu kesetaraan gender dalam pendidikan? Ada 3 hal yang dapat dijadikan sebagai dasar, yaitu: (1) Kesetaraan gender dinyatakan sebagai prioritas nasional dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2012-2014. (2) Pendidikan diselenngarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai kultural, dan kemajemukan bangsa, pada Undang-Undang No 20 tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional, dan (3) Kemendiknas mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 84 tahun 2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan.

Kita sering mendengar bahwa kesetaraan gender hanya terkait dengan perempuan. Namun sebenarnya kesetaraan ini juga ditujukan untuk laki-laki. Hasil pengamatan di sekolah menunjukkan, masih banyak terjadi bias gender dalam proses pembelajaran yang berhubungan dengan budaya dan kebiasaan masyarakat Indonesia. Misalnya saja di buku ajar kita familiar dengan bacaan, ‘Budi pergi bermain, Wati membantu ibu di dapur.’ Padahal hak bermain tidak hanya untuk laki-laki dan membantu ibu bukan hanya kewajiban perempuan.

Selain itu, fasilitas sekolah dan peran yang sama antara perempuan dan laki-laki juga masih sangat bias. Banyak sekolah yang memiliki fasilitas kamar mandi untuk perempuan dan laki-laki tidak dipisahkan namun disatukan. Padahal masing-masing membutuhkan privasi tersendiri. Selain itu, kesempatan dan peran yang sama di sekolah. Seperti kesempatan menjadi ketua kelas atau Ketua Osis lebih banyak diberikan kepada siswa laki-laki disbanding perempuan.

Gender menghendaki bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai kesempatan yang sama untuk ikut serta dalam setiap proses perubahan sosial. Laki-laki dan perempuan mempunyai akses yang sama terhadap pelayanan serta memiliki status sosial – ekonomi yang seimbang. Kesetaraan gender juga mengacu pada tujuan agar perempuan dan laki-laki memiliki status yang setara dalam hal keberadaan mereka di bidang sosial, ekonomi, dan politik. (ro)

Teks foto:

– Sebanyak 82 peserta dari 5 kabupaten (Ngawi, Lumajang, Bojonegoro, Nganjuk, Sampang) mengikiti pelatihan yang diselenggarakan pada 18-22 Oktober 2014 di Hotel Santika Premiere Surabaya.

– Siti Harfifah, Fasilitator Daerah (Fasda) Nganjuk dan Suwarti Yani Fatimah, Fasda Lumajang.

– Dr. Hadi Suwono, MSi, Konsultan USAID Prioritas (kanan).