03/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Peringatan HPS ke 34, Wujud Jatim Siap Hadapi AEC 2015

sekda Prov Jatim Akh Sukardi didampingi kepala Disperindag Tutut Herawati Meninjau Stand Kuliner pada acara Peringatan Hari Pangan Sedunia ke 34 di SidoarjoSidoarjo, KabarGress.Com – Peringatan Hari Pangan Sedunia ke-34 Tahun 2014, merupakan perwujudan Jatim siap menghadapi Asean Economic Chalenge (AEC) yang akan dimulai pada tahun 2015. Demikian disampaikan Sekdaprov Jatim, Dr. H. Akhmad Sukardi, MM saat membuka Peringatan Hari Pangan Sedunia Ke-34 Tahun 2014 dalam Rangka memperingati HUT Prov. Jatim Ke- 69 “Pertanian Bioindustri Berbasis Pangan Lokal Potensial” dan Festival Makanan Raja-Raja Majapahit di Parkir Timur, Gelanggang Olah Raga Kab. Sidoarjo, Kamis(16/10).

Dengan adanya peringatan HPS ke 34 yang memerkan hasil pangan dari seluruh Kabupaten Kota di Jatim, masyarakat umum bisa memahami akan keaneragaman jenis makanan, meliputi produk olahan, hasil pangan di bidang pertanian, kehutanan dan perikanan yang berasal dari alam di Jatim. “Tentunya, semua yang dipamerkan memiliki kualitas dan kuantitas yang bagus, yang nantinya siap untuk dipasarkan di pasar global. Selama ini, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui hal tersebut, sehingga dengan adanya pameran ini membantu mensosialisasikan keaneragaman hasil pangan alam Jatim, “ tuturnya.

Saat ini, Jatim menjadi lumbung padi nusantara. Pada tahun 2013, produksi gabah kering giling mencapai 12 juta ton, dan menghasilkan sekitar 8 juta ton. Jatim berkontribusi 17 persen terhadap kebutuhan nasional, dengan rata-rata konsumsi 91,26 persen/kapita persen. Secara keseluruhan, beras di Jatim surplus 4 juta ton per tahun.

Untuk menghadapi AEC 2015, harus dilakukan pembangunan di bidang pertanian agar ketahanan pangan terus tercapai. Pembangunan pertanian bukan tugas pemerintah semata, akan tetapi juga pihak swasta agar pertanian bisa lebih baik dan cerah. Dengan begitu, tujuan Indonesia untuk bisa berdaulat pangan akan mudah terwujud. Didukung dengan tanah yang luas dan subur, Indonesia seharusnya mampu memenuhi kebutuhan pangan dari hasil produksi dan tidak tergantung produk impor. “Oleh sebab itu, demi tercapainya peningkatan produksi dan produktivitas pertanian pengelolaan lahan secara tradisional harus dikembangkan dengan mengadopsi sistem pertanian modern,“ ujarnya

Oleh sebab itu, tekad dan kesungguhan semua pihak harus digalakkan agar swasembada pangan tercapai. Kunci utama adalah menyosialisasikan penggunaan teknologi yang tepat guna kepada para petani. Penggunaan teknologi tersebut, sebelumnya harus dilakukan riset terlebih dahulu.” Pemerintah harus bisa menghasilkan riset yang efektif dan harus menyebarkan hasil riset tersebut dikirmkan kepada para petani agar tingkat produktifitas petani meningkat,” ungkapnya.

Selama ini, Indonesia tertinggal jauh dengan negara lain dalam penyelenggaraan riset. Padahal riset merupakan hal utama agar pertanian bisa lebih maju dan berkembang melihat lahan pertanian semakin menyempit.

Ia mencontohkan, Thailand memiliki lahan pertanian lebih sedikit daripada Indonesia. Akan tetapi dengan diterapkan teknologi yang tepat, tentunya melalui riset dan penelitian terlebih dahulu, tingkat produksi lahan pertanian di Thailand cukup tinggi. “Langkah tersebut harus dikembangkan di Indonesia, karena kekayaan alam di Indonesia melimpah. Akan lebih baik apabila dikelola dengan dibantu teknologi yang tepat, “ tambahnya.

Ia mengharapkan, peran serta pemerintah dalam mengkordinasi dalam riset sangat dibutuhkan. Dampaknya adalah membantu petani dalam peningkatan hasil produksi pertanian yang kemudian membawa kesejahteraan kepada para petani tersebut. “Potensi daerah sangat beraneka ragam, apabila riset dilakukan makan negara lain akan mengetahui dan akhirnya mengakui keberadaan Indonesia sebagai negara yang memiliki keaneragaman pangan. Jatim jangan sampai kalah dengan negara lain seperti Korea Selatan dan Thailand dalam AEC 2015,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Bupati Kab. Sidoarjo, Saiful Illah menuturkan penyelenggaraan Peringatan Hari Pangan Sedunia ke 34 tahun 2014 merupakan momentum dalam meningkatkan pemahaman dan kepedulian masyarakat dan stakeholder akan pentingnya penyajian makanan yang bergizi yang berguna bagi Indonesia dan dunia. “Tujuannya tentunya, makanan khas kita lebih dikenal oleh negara lain,” ucapnya.

Pameran ini, juga mengajak masyarakat Jatim lebih meningkatkan perhatian dan kesadarannya tentang pentingnya mengenal pangan nasional. Dan juga merupakan bentuk sosialisasi bagaimana menciptakan makanan agar aman dikonsumsi keluarga. “Tentunya potensi pangan local disetiap daerah berbeda, sehingga harus disesuaikan dengan potensi masing-masing,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Badan Ketahanan Pangan Prov. Jatim, Dra. Hj. Tutut Herawati, MM, mengatakan,Tujuan diselenggarakanan pameran ini adalah meningkatkan pemahaman dan kepedulian masyarakat dan para stakeholder terhadap pentingnya penyediaan pangan yang cukup dan bergizi, baik bagi masyarakat Indonesia maupun dunia. “Dan juga mendorong kreatifitas masyarakat Jatim khususnya pelaku usaha kuliner untuk teurs berinovasi dalam mengembangkan keaneragaman masakan khas Jatim. Sehingga pada AEC 2015 bisa bersaing dengan kuliner-kuliner dari negara lain, “ungkapnya. (eri)