Bude Karwo: “Intelegensia Anak Harus Dibangun Sejak Dalam Kandungan”

Ketua PKK Prov.Jatim Ibu Nina Soekarwo, Menghadiri Pengembangan Layanan Kesehatan Intelegensia di Empiere Palace SurabayaSurabaya, KabarGress.Com – Intelegensia anak harus dibangun sejak janin tumbuh dalam kandungan, ini karena pertumbuhan otak sang anak akan tumbuh dengan sangat pesat. Oleh karena itu, asupan gizi dan nutrisi harus benar-benar diperhatikan agar tumbuh kembang otak anak menjadi optimal sehingga kelak bisa menjadi anak yang tangguh, cerdas dan kuat. Demikian yang disampaikan oleh Ketua TP PKK Provinsi Jawa Timur, Dra. Hj. Nina Soekarwo, M.Si saat Lokakarya Pengembangan Layanan Kesehatan Intelegensia Berdasarkan Siklus Hidup di Empire Hotel, Rabu (15/10) malam.

Bude Karwo, sapaan akrabnya mengatakan, untuk menjadikan bangsa ini sebagai pemenang di era globalisasi pada masa mendatang, tentu diperlukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan intelektual. Untuk menyiapkan SDM tersebut, asupan gizi dan nutrisi harus benar-benar tercukupi sejak bayi dalam kandungan.

Selain itu, 1000 hari kehidupan sejak bayi dilahirkan juga memegang peranan penting bagi tumbuh kembang otak anak. Periode usia tersebut merupakan momen emas untuk membentuk kecerdasan intelektual anak. “Perlu diingat,tumbuh kembang otak anak/ balita dimulai sejak anak usia 0 hingga 4 tahun sebesar 50 persen, dan anak usia 4 hingga 8 tahun kecerdasan anak akan bertambah sebesar 30 persen. Dan pada usia 8-16 tahun tumbuh 20%. Inilah periode yang penting untuk mempersiapkan generasi yang berkualitas di masa depan” katanya.

Masih menurut Bude Karwo, TP PKK Jatim sebagai mitra kerja pemerintah selalu mendukung program pemerintah untuk mewujudkan generasi penerus bangsa yang berkualitas dan siap menjadi pemenang di masa depan. “Melalui 10 porgram pokok PKK, kami senantiasa membantu pemerintah untuk membangun SDM yang handal, sasaran kegiatan kami menyeluruh dari masa kehamilan sampe lanjut usia. Sehingga sudah sangat sesuai dengan program pusat intelegensia Kemenkes RI” ujarnya.

“Diantaranya, kader-kader PKK terjun langsung untuk mendampingi ibu-ibu dari hamil hingga saat melahirkan, mengajarkan inisiasi menyusui dini, asi ekskulif 0-6 bln hingga meyusui hingga usia 2 tahun, atau 1000 hari kehidupan sejak bayi lahir, sebab ini sangat berpengaruh pada status gizi dan peluang masa depan anak” lanjutnya.

Selain itu, TP PKK juga berkolaborasi dengan para stakeholder, mulai Dinas Kesehatan, organisasi profesi, Perguruan Tinggi dan LSM yang terus bergerak dan berfikir untuk mengoptimalkan intelegensia anak untuk membentuk generasi yang tangguh, unggul dan cerdas.

“Kami bersama-sama Dinkes sangat peduli kepada anak-anak, terutama anak-anak yang kurang gizi. Salah satunya, kita berkeliling ke daerah untuk mencari anak yang kekurangan gizi dan berupaya memperbaiki gizi mereka. Karena anak-anak inilah yang akan menentukan nasib bangsa ini di masa depan” tuturnya.

Senada dengan Bude Karwo, Sekjen Kemenkes RI dr. Untung Suseno Sutarjo, M.Kes mengatakan, dibutuhkan SDM yang bagus untuk mewujudkan pembangunan nasional yang adil dan makmur. SDM harus punya daya saing dan dapat memenuhi tuntutan kemajuan jaman serta tantangan era globalisasi.

Salah satu upaya mencapainya adalah melalui pembangunan kesehatan, sebab tidak mungkin SDM bisa cerdas dan berkualitas apabila kesehatannya tidak bagus. “Di era desentralisasi saat ini, daerah mempunyai kewenangan untuk mengatur daerahnya. Namun tetap harus sinkron dengan pusat, pelaksanaan pembangunan kesehatan membutuhkan komitmen dari seluruh stakeholder, perlu dijadikan satu kekuatan agar dapat berlangsung dengan baik” katanya.

Untung Susesno mengatakan, upaya untuk mewujudkan SDM yang berkualitas terdiri dari 3 program yang fundamental. Pertama, mengoptimalkan tumbuh kembang kecerdasan anak sejak dalam kandungan, Kedua, intervensi kesehatan dengan intensitas yang tinggi di usia remaja, artinya remaja-remaja dibekali pengetahuan tentang gizi yang cukup dan diajak untuk menggaungkan cara hidup sehat, salah satunya melalui teknologi. “Di era modern ini, bangsa yang menang adalah yang punya generasi muda yang kreatif dan inovatif, yang kuasai IT, cerdas dan berani menghadapi perubahan” katanya.

“Ketiga, kita harus mempertahankan kapasitas kesehatan intelegensia agar tetap sehat mandiri dan produktif, sehingga ketika lansia mampu memberikan teladan bagi generasi penerus dan bukan malah menjadi beban bagi anak cucu kita” ujarnya.

“Melalui semangat kemitraan, mari kita bangun tiga hal tersebut melalui koordinasi sistem pelayanan dan saran pelayanan kesehatan yang terintegrasi mulai puskesmas, ponkesdes, dan Rumah Sakit agar dapat mengembangkan layanan kesehatan, dan tentunya stakeholeder dapat membantu mendukung program ini agar terwujud pelayanan kesehatan yang baik di seluruh pelosok negeri ini” tambahnya.

Kepala Balai Intelegential Kesehatan Kemenkes RI, dr. Trisawahyuni Putri yang juga ketua panitia lokakarya juga sependapat, membangun SDM harus dimulai sejak dini, bahkan sejak janin dalam kandungan. Hal ini sejalan dengan peningkatan intelegensia kesehatan untuk mewujudkan SDM yang cerdas dan berkualitas berdasarkan siklus hidup berbasis stimulasi kognitif.

Untuk mewujudkannya, diperlukan kerjasama dengan seluruh stakeholder. Karena itu lokakarya ini mengundang banyak pihak, antara lain, TP PKK kab/kota di Jatim, unsur Pemda, termasuk dinkes dan BKKBN, akademisi, Rumah Sakit, para ahli, dan organisasi profesi.

Lokakarya juga menghadirkan para narasumber utama yang hadir pada workshop naisonal di Jogja beberapa waktu lalu yang bertemakan “Membangun Karakter Bangsa Melalui Revolusi Mental”, yaitu Prof. Hasan Mahfud, anggota Dewan Riset Nasional, Prof Dr Suhartono Taat Putra, dr, MS, serta mengundang Prof. Dr. Muchlas Samani.

“Total peserta lokakarya ini 80 orang, tujuan lokakarya ini adalah diperoleh rekomendasi dan langkah-langkah strategis lainnya dalam mengembangkan kecerdasan intelegensia untuk mewujudkan masyarakat Jatim yang sehat dan berkualitas” katanya. (eri)

Leave a Reply


*