17/01/2021

Jadikan yang Terdepan

Wismilak Ragam Pesona Batik; Pamerkan Batik Kuno Bernilai Ekonomi Tinggi

Wismilak Ragam Pesona BatikSurabaya, KabarGress.Com – Masyarakat mungkin belum menyadari jika batik sebagai salah satu warisan leluhur bangsa, memiliki nilai ekonomi yang tinggi ketika sudah berusia sangat lama. Ini dibuktikan dengan kegiatan pameran dikemas dalam tema Wismilak Ragam Pesona Baik, yang akan dibuka Hj. Nina Kirana Soekarwo, bertempat di Grha Wismilak, Jl. Dr. Soetomo, 27 Surabaya, mulai 9 Oktober – 15 Oktober 2014.

Dalam acara tersebut dipamerkan batik kuno untuk menunjukkan jejak budaya yang ditinggalkan para kreator batik jaman dulu yang mempengaruhi perkembangan batik masa kini. Dimana karya maestro batik jaman dulu mempengaruhi perkembangan design/motif batik saat ini.

Beberapa nama pembatik yang berasal dari Pekalongan, dimana jejaknya masih terasa sampai sekarang, diantaranya Oey Soe Tjoen dan Lim Ping Wie yang masih beroperasi sampai sekarang. Selain itu terdapat nama Liem Boen In, Na Swa Hien, Oey Kok Sing atau Oey Siok Kim dan Oh Ju May juga akan meramaikan pameran batik di Grha Wismilak kali ini, selain itu batik kuno yang akan dipamerkan diantaranya dari Lasem dan Sidoarjo.

“Kami juga akan melelang beberapa barang yang akan kami sumbangkan ke Sanggar Alang-alang yang telah mendampingi anak-anak jalanan dalam berkreasi,” ungkap Dwita Herman, kolektor batik dari Buana Alit Jakarta, di sela-sela konferensi pers, Rabu (8/10/2014).

Batik-baik yang akan dilelang meliputi 1 golek kimono, 1 golek Madura, 1 syal untuk pria serta 1 selendang untuk wanita. “Kami berharap akan banyak donatur di Surabaya yang tertarik berbagi dalam lelang ini sehingga bisa memberikan manfaat terhadap anak-anak jalanan tersebut. Selama pameran akan diadakan workshop terkait batik,” tukasnya.

“Seperti diketahui, Jawa Timur mempunyai ciri khas motif dan warna batik tersendiri, untuk lebih mengembangkan motif, warna dan pilihan tekstil dan serat alam. Maka kami juga akan mengadakan workshop dengan; Perkembangan desain dan warna; Penggunaan tekstil serat alam sebagai pilihan untuk pembatikan,” imbuhnya.

Lewat kegiatan pameran dan workshop semacam ini diharapkan bisa memberikan sumbangan terhadap perkembangan batik di Jawa Timur di masa-masa mendatang.

Sejak batik ditetapkan PBB sebagai warisan budaya aseli Indonesia, kolektor batik banyak memburu batik-batik kuno bernilai tinggi. “Harga tidak menjadi suatu kendala asalkan bisa memiliki ragam batik nusantara yang tidak ada duanya di dunia,” tukasnya.

Sebagai salah satu kolektor batik, Dwita mengaku memiliki banyak koleksi batik kuno yang berusia ratusan tahun. Bahkan dibuat pada awal 1900. Bahkan kain katun yang menjadi bahan utama batik itu masih buatan Eropa dan Amerika. “Dulu belinya hanya Rp6 jutaan. Kini ada yang sampai ditawar Rp150 juta. Tapi tidak saya lepas,” ujarnya.

Dwita mengakui batik sangat bisa dijadikan barang investasi, selain emas dan produk investasi lainnya. Namun juga dibutuhkan perawatan yang cukup detail agar batik bisa bernilai jual tinggi, selain kolektornya harus paham akan filosofi batik yang dikoleksinya.

Batik-batik semacam itu memang akan sulit diproduksi untuk zaman sekarang. Banyak kendala yang dihadapi, terutama masalah tenaga kerja. Para perajin batik terkendala upah pekerja yang diharuskan sesuai dengan upak minimum regional (UMR). Ketika batik-batik semacam ini diproduksi, biaya produksinya sangat mahal. “Bisa mencapai Rp50 juta untuk memproduksi desain batik sejenis batik-batik kuno,” timpalnya. (ro)