03/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Dewan Pinta Pemkot Benahi Pengelolaan PKL

Dewan Pinta Pemkot Benahi Pengelolaan PKLSurabaya, KabarGress.Com – DPRD Kota Surabaya meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk memperbaiki manajemen pengelolaan sentra Pedagang Kaki Lima (PKL). Mengingat Surabaya sudah menjadi kota tujuan wisata, maka dimasing-masing sentra PKL, tiap menu yang ditawarkan harus mencantumkan harga. Ini untuk menghindari PKL mematok harga tinggi pada konsumen.

Anggota DPRD Kota Surabaya, Agustin Poliana mengatakan, kasus-kasus banyaknya konsumen di sentra PKL yang merasa dirugikan ulah pedagang nakal sudah cukup banyak. Di Taman Bungkul misalnya, yang juga memiliki sentra PKL, para pedagang tidak mencantumkan harga di tiap menu makanan yang dijual.

Terkadang konsumen merasa menu makanan yang dibeli harga tidak begitu mahal. Tapi ketika hendak membayar, pedagang menarik harga tinggi diluar batas kewajaran. Misalnya, nasi goreng yang harganya rata-rata Rp8.000-an dijual sampai Rp20.000.

“Kalau nanti perlengkapan dewan sudah terbentuk, kami akan undang dinas koperasi dan dinas pariwisata untuk membahas pengelolaan PKL ini. Surabaya sudah menjadi kota wisata, jangan sampai ada wisatawan yang dirugikan dengan perilaku pedagang yang menetapkan harga seenaknya sendiri. Maka harga harus dicantumkan,” pintanya.

Dia menambahkan, seharusnya, PKL mencantumkan harga dari menu yang dijual. Sehingga, konsumen sudah bisa mengira-ngira berapa rupiah yang harus dikeluarkan untuk membeli makanan yang dikehendaki. Sejumlah sentra PKL sudah menerapkan kebijakan ini. Salah satunya di sepanjang Jalan Malioboro Yogyakarta.

“Sayangnya, di Surabaya, pengelolaan dan manajemen PKL amburadul dan terkesan keberadaanya dipaksakan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Banyak sekali sentra-sentra PKL mangkrak dan tidak terurus,” paparnya.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Hadi Mulyono, mengatakan untuk persoalan pencantuman harga makanan yang dijual di sentra-sentra PKL, sebenarnya tidak ada aturan dan kewajiban, hanya saja pihaknya sering mengingatkan kepada PKL agar tidak mematok harga tinggi karena akan menyebabkan pengunjung enggan datang.

Meski tidak mewajibkan pencantuman harga di sentra PKL, namun tetap dilakukan pengawasan, khususnya soal harga. Kalau bisa makanan yang disuguhkan layaknya makanan di mall. “Memang harga makanan sangat berpengaruh besar ramai tidaknya sentra PKL itu,” katanya.

Hadi mencontohkan, di sentra PKL Urip Sumoharjo  waktu pertama kali buka sangat ramai. Tiap hari pengunjung datang silih berganti. Tempatnya juga nyaman dan tertata rapi. Apalagi lokasinya sangat strategis karena berada di pusat kota.

Namun, ketika pengunjung sudah ramai, para penjual perlahan menaikkan harga makanannya. Misalnya, Soto yang awalnya Rp7000/porsi dinaikkan menjadi Rp10.000/porsi. “Tapi kami akan terus koordinasi dengan pengurus sentra-sentra PKL di Surabaya untuk memajukan sentra PKL,” terangnya. (tur)