26/11/2020

Jadikan yang Terdepan

Umat Jangan Mudah ‘Diracuni’ Gerakan ISIS

• Pengajian Umum di Masjid Al Falah Sukowidi

Magetan, KabarGress.Com – Sekarang umat Islam dicederai sejumlah aksi kekerasan dari teroris, kelompok radikal dan kelompok Islamic State Irak and Syiria (ISIS). Padahal aksi kekerasan dengan menghalalkan segala cara adalah tidak sesuai tuntutan dan ajaran agama Islam. Karena umat Islam jangan mudah ‘diracuni’ oleh gerakan ISIS dan gerakan radikalisme dari kelompok yang mengatasnamakan Islam. “Cara itu salah, tidak dibenarkan oleh ajaran agama Islam. Mencapai tujuan mulia dengan cara kekerasan, itu tidak dibenarkan,” tutur KH Sumarno Abdul Azis, Pengasuh Ponpes Darul Mutaqin.

Menurut Sumarno, Islam tidak mengajarkan umatnya untuk melakukan kekerasan apalagi memaksakan mendirikan negara Islam dengan cara kekerasan. Tidak ada sejarah dalam bernegara, Nabi mendirikan negara Islam. Yang benar dalam sejarah, bahwa Nabi mendirikan negeri Darussalam, negeri kedamaian. “Negara Islam belum tentu menjamin negara itu bisa tenteram. Yang bisa menjamin negara itu tenteram, negara damai adalah Ridlo Alloh,” tuturnya.

Hal itu diungkapkan Sumarno saat pengajian umum “Merajut kebersamaan dan wawasan kebangsaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di Masjid Al Falah, Desa Sukowidi Kec. Kartharjo Magetan, Kamis (18/9) malam. Hadir jamaah masjid dan warga, tokoh masyarakat Desa Sukowidi, Kepala Kesbangpol Kab. Magetan , E Hud Malawi, perwakilan Polres, Muspika, Kades Sukowidi dan lainnya. Pengajian diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya secara bersama.

Terkait menyanyikan lagu kebangsaan ini disinggung Sumarno, bahwa menyanyikan lagu Indonesia Raya saat pengajian atau yasinan sekalipun tidak masalah. “Setuju nopo mboten nggih? Menyanyikan lagu kebangsaan saat pengajian?” tanya Sumarno. Jamaah pun menjawab, “Setuju! Mboten nopo-nopo.”

Sumarno melanjutkan, setiap warga negara Republik Indonesia harus bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya. Lebih dari itu, kata Sumarno, warga negara wajib menjiwai dan mengamalkan dari lagu Indonesia Raya itu.

Melalui Kepala Kesbangpol, Bupati mengingatkan, agar umat Islam tidak terpengaruh atau terseret dalam gerakan radikalisme, seperti gerakan terorisme dan gerakan ISIS. Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, umat Islam tetap berkewajiban mengamalkan nilai-nilai Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945. “Dalam menghadapi masalah, harus kita tonjolkan Musyawarah untuk mufakat. Saling menghormati dalam beragama, antar umat beragama harus saling menghormati, jangan ada rasa yang memaksakan agama kepada orang lain,” ujarnya.

Sumarno menambahkan, pengajian atau kenduren yang sering dilakukan masyarakat perwujudan dari sila-sila dalam Pancasila. Dicontohkan, doa/dzikir dalam kenduren wujud dari sila Ketuhanan. Mengundang umat Islam/tetangga untuk kenduren perwujudan sila kedua, duduk bersama untuk berdoa dan berdzikir bersama wujud rasa persatuan sebagaimana sila ketiga. Kenduren tidak semua mengundang seluruh anggota keluarga tetapi cukup kepala keluarga atau perwakilan anggota keluarga, ini perwujudkan sila keempat.

Setelah selesai, peserta kenduren diberi berkat (makanan) sebagai bekal pulang untuk dibagi keluarganya. Ini bukti rasa keadilan sosial sebagaimana sila kelima dalam Pancasila. (sg)

Teks foto: Suasana pengajian gayeng dan jamaah berkesan mendapat ilmu.