03/02/2021

Jadikan yang Terdepan

Gabriella Inovasikan Bola Ping-pong Jadi Home Decor

Gabriella Delavin (kanan), menunjukkan cara membuat Pipo Deco.
Gabriella Delavin (kanan), menunjukkan cara membuat Pipo Deco.

Surabaya, KabarGress.Com – Siapa bilang bola ping-pong hanya untuk dimainkan di atas meja tenis? Gabriella Delavin Halim, mahasiswi Fakultas Industri Kreatif, Jurusan Desain Manajemen Produk Universitas Surabaya (Ubaya) punya jawaban yang berbeda. Gaby, sapaan akrabnya, mengolah bola ping-pong yang sudah tak terpakai menjadi satu set hiasan rumah (home decor) bernama Pipo Deco.

Idenya berawal dari usaha Gaby mencari bahan yang memang susah didaur ulang sebagai bahan dasar, plastik misalnya. Alasannya, agar bahan itu tidak dibuang begitu saja dan dapat memiliki nilai guna yang lebih tinggi. Bola-bola ping-pong yang berserakan di lantai lapangan tenis meja pun membuat Gaby gerah. “Bola yang dirasa sudah tak lagi nyaman untuk diservis memang dibiarkan berserakan di lantai. Berdasarkan informasi yang saya dapat dari petugas di perkumpulan tenis meja HCIYS Surabaya, dalam seminggu mereka bisa menghabiskan 2 gros bola ping-pong karena tak lagi terpakai maupun rusak,” kata Gaby, di sela-sela acara rilis hasil kreasinya, di Seminar Room Gedung International Village lantai 2 Kampus II Ubaya Tenggilis Jalan Kalirungkut Surabaya, Selasa, 23 September 2014.

Inovasi ini pun terwujud dalam skripsinya yang berjudul ‘Pemanfaatan Bola Ping-Pong Bekas menjadi Home Décor Bernilai Estetis’. Satu set Pipo Deco terdiri dari lima produk home décor yaitu jam dinding, tempat tisiu, lampu hias, pigora 4R, dan cermin. Gaby menggunakan dua jenis bola ping-pong yaitu oranye dan putih. Prosesnya sedikit di luar dugaan. Bundar bola ping-pong dibelah menjadi dua bagian hingga membentuk lembaran. Kemudian lembaran bola ping-pong tersebut dicincang hingga halus menyerupai serbuk. Setelah itu, sebarkan saja serbuk bola ping-pong di permukaan lembaran mika yang sudah diolesi lem kayu hingga menjadi tiga lapis. Baru setelah itu, lembaran tersebut dipotong setiap 1 cm dan kemudian dianyam hingga membentuk pola tertentu.

“Paling sulit adalah membuat serbuknya. Saya harus memotongnya hingga menjadi bagian terkecil dan itu membutuhkan waktu lima bulan sendiri,” ujar gadis asli Surabaya ini.

Selama pembuatan satu set Pipo Deco, Gaby membutuhkan waktu 10 bulan. Ia telah menghabiskan 5 gros bola ping-pong yang tak terpakai dari perkumpulan tenis meja HCIYS Surabaya. Untuk mendapatkannya, Gaby mematok harga sekitar 500-600.000 rupiah. Dengan harga tersebut, Anda bisa mendapatkan satu set Pipo Deco, lengkap dengan lima jenis produk yang ditawarkan. (ro)